Mungkin kamu lupa. Kuatnya cinta tidak menjamin hati tak luka. Buktinya sama sekali tak pernah kamu pikirkan perasaan saya. Setiap pertikaian memenuhi kepala, dengan ringan saja kata ini menguar ke udara:

“Sudah. Saya mau pergi. Toh nanti kamu pasti kembali.”

Advertisement

Buatmu mungkin cinta seperti tisu sekali pakai yang bisa dibuang kapan saja. Atau bisa jadi kamu menganggap saya punya kesabaran yang berlebih jumlahnya. Sampai-sampai komitmen bisa kamu permainkan seenaknya. Memang, saya mencintaimu. Tak perlu meragukan lagi fakta itu. Tapi jangan seenaknya meminta pergi agar saya berjuang mencari.

Asal kamu tahu — berjuang seharusnya tidak sebercanda ini.

Kita ini punya komitmen. Tapi kamu malah main keluar-masuk seperti orang tanpa preseden

Kita ini punya komitmen. Tapi kamu malah melangkah tanpa preseden via storyboardwedding.com

Jika memang kamu menganggap sakral apa yang kita punya, kamu tak akan main masuk dan keluar seenaknya. Mati-matian kita bangun komunikasi dan rasa saling percaya. Kamu membawa saya ke keluarga. Saya pun mengenalkanmu ke Ayah, Ibu, dan adik lelaki satu-satunya. Sekarang kita bahkan punya hewan peliharaan bersama.

Advertisement

Buat saya jelas hubungan ini investasi. Sejak bersamamu tak lagi saya mau peduli pada godaan di kanan-kiri. Cuma kamu yang signifikan di otak dan hati.

Ah, tapi cinta bukan neraca pendapatan yang mesti seimbang ‘kan? Tak bijak rasanya jika sekarang kita duduk berhadapan hanya untuk saling menghitung kebaikan. Mari kita buat ini sederhana saja. Sementara saya mengerahkan semua upaya, kamu malah melengos acuh pada kata ‘kita.’

Kata ‘pergi’ buatmu setara dengan harga diri. Bagi saya, lama-lama permainan ini terasa membosankan sekali

Buatmu ini harga diri. Buat saya, ah saya bisa menguap bosan sekali via storyboardwedding.com

Pernah sekali saya bertanya. Harusnya kamu belum lupa. Sore itu termasuk dalam salah satu senja terbaik kita. Sementara tanganmu merengkuh lengan saya, pelan-pelan saya bisikkan di telinga:

“Tolong. Jangan lagi pergi seenaknya.”

Kamu tertawa. Renyah sekali bunyinya. Jawabanmu masih meninggalkan gaung perih yang sama,

“Saya pergi karena kesal sekali. Juga agar kamu mencari. Saya tak mau perjuanganmu berhenti.”

Kalau tidak ingat kesopanan dan harga penggantian gelas yang mahal, ingin rasanya meja di depan kita saya balikkan. Buatmu, kata pergi ternyata setara dengan permainan. Demi melihat saya memperjuangkanmu mati-matian. Mewah sekali ya hak yang kamu dapatkan? Sementara saya mesti pontang-panting untuk mempertahankan.

Tidak sedangkal itu perjuangan saya untukmu. Diam-diam sudah saya siapkan sepetak masa depan bersamamu

Diam-diam sudah saya siapkan sepetak masa depan bersamamu via storyboardwedding.com

Jika buatmu diperjuangkan hanya berarti mati-matian dicari saat meninggalkan, maka selamat — kamu sudah membuat saya sangat terkesan. Sementara ada begitu banyak hal lain sebagai pembuktian, kamu malah memilih melihat hal yang kurang signifikan. Kenapa alismu meninggi sangsi? Mau saya jelaskan?

Sebutlah bagaimana gaya hidup berubah belakangan. Saat saya merayumu mengurangi nongkrong cantik demi penghematan. Diam-diam saya mulai berhitung bagaimana 2-3 tahun lagi kita sudah punya uang muka untuk rumah masa depan. Supaya kelak kita bisa move on dari cicilan tempat tinggal ke cicilan kendaraan.

Dengan level hubungan kita, bukankah itu harusnya definsisi perjuangan? Menggabungkan visi bersama demi masa depan yang lebih nyaman. Tapi sudahlah, barangkali kamu memang masih suka berlama-lama dalam hubungan yang dramanya berlebihan. Padahal buat saya ini menggelikan.

Sebenarnya masih banyak yang lebih penting dari ini. Bolehkah kini saya minta kamu tidak labil sendiri?

Masih banyak yang lebih penting dari ini via storyboardwedding.com

Di depan kita masih banyak tantangan. Lebih baik kita pikirkan warna apa yang kelak mendominasi resepsi pernikahan. Bagaimana mengatur cash flow keuangan agar seluruh tagihan lunas terbayar.

Atau jika memang bagimu itu terlalu memberatkan, kita bisa berbincang tentang apa yang harus dilakukan di akhir pekan. Supaya ikatan ini jauh dari kata membosankan.

Meminta pergi hanya untuk dicari sebenarnya sangat dangkal sekali. Jika memang bersama saya kamu mau menjalani, bolehkah saya minta agar kamu tak labil lagi?

Saya tak keberatan berjuang sepenuh hati. Tapi untuk hal-hal yang lebih penting dari ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya