Terkadang saya heran saat kawan-kawan sesama pejuang jarak meributkan tentang perasaan rindu saat tak bisa bertemu. Ketika ruang lapang yang tercipta karena kesibukan dan tanggung jawab jadi bahan drama di postingan sosial media. Saat kenyataan tidak bisa bertemu sementara (sepertinya) jadi masalah terbesar di dunia.

Sebagai seorang pejuang jarak juga, ada beberapa hal tentang jarak yang kadang membuat tertawa. Rindu sudah pasti. Melihat pasangan yang bisa selalu bersama juga kadang menimbulkan rasa ingin di hati. Tapi di akhir hari bukankah ini ‘cuma’ jarak semata? Cuma perlu dihadapi saja. Tak perlulah mendramatisir suasana.

1. Jarak jelas menunda kecup dan peluk. Tapi di situ ada kedekatan lain yang terbentuk

Di situ ada kedekatan lain yang terbentuk via elitedaily.com

Mereka yang selalu bisa bersama jelas punya kesempatan meluapkan perasaan dengan lebih lega. Bisa saling memandang mata, melingkarkan tangan untuk saling memeluk kapan saja. Sesekali mengecup kening dengan kasual sebagai bukti cinta.

Saat jarak ada di depan mata hal-hal macam ini lebih membutuhkan perencanaan dan proses sebelumnya. Tapi bukan berarti kedekatan akan hilang begitu saja. Dalam proses menunggu telepon dan kabarnya, ketika kamu bertanya dia sudah makan dan sedang apa — ada perhatian yang terbangun di sana. Ada kehangatan hati yang entah dari mana datangnya.

2. Selama komitmen itu ada, apa yang perlu dibesar-besarkan? Toh hubungan ini punya tujuan

Advertisement

Toh hubungan ini punya tujuan via elitedaily.com

Jarak jelas mengajarkan banyak hal. Satu yang pasti adalah soal komitmen yang tidak bisa hanya dijalani. Tapi juga harus dihargai sepenuh hati. Ketika jarak ada dalam ekuasi hubungan, komitmen sudah harus ada dari jauh-jauh hari.

Kamu jelas tidak bisa bertemu setiap waktu. Suara dan cerita soal kegiatannya jadi satu-satuny acara hati kalian tetap terhubung sedemikian rupa. Tanpa komitmen hubungan ini cuma makan hati saja.

3. Membesar-besarkan jarak sebenarnya makin memperberat beban. Santai saja, selama hubungan ini punya masa depan

Santai saja. Selama hubungan ini punya masa depan via elitedaily.com

Jarak jelas sudah ada di depan mata. Kalau begitu kenapa tidak dijalani saja dengan apa adanya? Membesar-besarkan masalah dan merasa jadi orang yang paling merana hanya makin memperberat beban di bahu. Sementara masih banyak hal lain yang lebih penting dari sekadar menahan rindu dan tidak bisa bertemu.

Selama hubungan ini punya masa depan sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh kalian berjauhan sementara untuk satu tujuan.

4. Kelak kalian punya seluruh waktu di dunia.Terpisah sementara jadi ruang lapang untuk berkembang sebagai manusia

Harusnya ini membuat kalian berkembang jadi manusia via elitedaily.com

Kita ini sering membesar-besarkan masalah. Terpisah sementara sudah bertingkah seperti jadi korban hati yang patah. Padahal siapa yang tahu setelah benar-benar hidup bersama nanti kalian tidak akan bosan? Bangun setiap hari dengan menatap mata yang sama, menemukan harum badan yang sama — akan ada masa kalian benar-benar jadi satu sebagai manusia.

Terpisah sementara sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk berkembang dalam sisi hidup yang paling kamu suka. Naik gunung, jalan-jalan ke pelosok Indonesia, sampai memanfaatkan gaji untuk membeli buku dan gundam bebas kamu lakukan sepuasnya. Sebelum nanti berhenti di dia.

5. Jarak menciptakan kemesraan yang beda. Dari sapaan seperlunya, sesekali bertukar pesan suara — di situ ada cinta

Di situ ada cinta via elitedaily.com

Perasaan di tengah jarak selalu berkembang lewat cara yang berbeda. Warna bola mata dan harum parfumnya memang tidak bisa kamu hapal begitu saja. Kadang perlu berjam-jam untuk kembali membayangkan bagaimana rupanya. Bagaimana sensasi hangat dari parfumnya yang kamu dapat setelah memeluknya.

Tapi karena jarak pula muncul kemesraan yang beda. Kamu tidak perlu panjang bercerita saat sudah lelah sekali dan ingin tidur saja. Kata-kata macam,

“Aku capek. Pengen peluk kamu. Kamu jauh. Jadi aku tidur.”

jadi bukti cinta. Jarak, tanpa disadari menggembleng definisi cintamu jadi jauh lebih sederhana.

6. Jarak ada karena keputusan. Kalian bisa memilih tidak bertahan. Rugi sekali kalau sampai membuat hati jadi pesakitan

Rugi kalau sampai menjadikan diri pesakitan via elitedaily.com

Jarak ada karena keputusan. Kalian sebenarnya punya hak untuk melanjutkan hubungan atau berpisah setelah jarak ada di hadapan. Jika begini caranya tak seharusnya jarak membuat kalian jadi pesakitan.

Apa yang lebih menyedihkan dari orang yang menyesali keputusan yang dibuatnya sendiri?

Ini cuma jarak. Tak semestinya dia membuat hati berderak.