Sebelumnya, mungkin aku adalah makhluk yang hidup seperti robot. Setiap harinya aku terbangun, bergegas mandi, dan terburu berangkat bekerja.  Kerjaku yang delapan jam begitu membosankan. Tak jarang ia berubah jadi sembilan atau sepuluh jam. Bahkan lebih jika aku membawanya pulang ke rumah.

Tapi kini, kau mungkin dapat melihat yang berbeda dariku. Kata orang, mimikku lah yang tak biasa. Senyum kerap kali menghampiri di kala aku sedang sendiri atau terlamun. Tak perlu tanyakan apa penyebabnya. Sebab sosok menawan yang kulihat beberapa waktu lalu, yang kini kerap menghantui pikiranku. Sosok itulah yang turut menawan hatiku sejak pertemuan pertama.

Hariku selalu diliputi dengan rutinitas dan kesibukan. Tak sedikit pun waktu tersisa untuk urusan perasaan

Akhir pekan pun sibuk via www.hingepeegel.ee

Advertisement

Aku sudah begitu kenyang dengan pertanyaan-pertanyaan orangtua, saudara, dan keluarga besar lainnya. Ini tak hanya terjadi saat hari besar di mana seluruh anggota keluarga besar berkumpul. Setiap saat kami bertemu, muncul pertanyaan “Kapan kamu menikah?” Keadaan pun semakin diperparah kala kawan-kawanku memasuki gerbang pernikahan. Ketika aku datang sendiri saja di hari bahagia mereka, muncullah pertanyaan sama dari kawan-kawan. Entah mereka iseng atau memang memperdulikanku, aku sudah kebal dengan itu semua.

Namun aku juga kesal. Harus berapa kali kunyatakan pada mereka, bahwa aku bahkan tak punya sedikit waktu pun untuk mengurusi perasaan bernama cinta. Jika kalian adalah sahabat-sahabatku dari kantor yang sama, sudah seharusnya kalian tahu hal ini. Atau hanya aku saja yang mengalami kehidupan yang terdedikasikan sepenuhnya kepada profesi dan setumpuk deadline? Ah, rasanya tidak adil sekali melihat mereka mendapatkan kehidupan yang seutuhnya. Sedangkan aku? Apa bedaku dengan robot?

Kamu adalah kejutan yang tak kurencanakan. Hidupku tak lagi sama semenjak kamu datang

Seperti inilah kiranya saat aku menemukanmu

Seperti inilah kiranya saat aku menemukanmu via www.refoto.rs

Di balik segala cobaan dan pertanyaan “Kapan menikah?” yang kencang bak deru mobil di jalanan, aku yakin Tuhan tengah merencanakan sesuatu padaku. Keyakinanku semakin meninggi tatkala mengingat kata “Good is god”. Ya, Tuhan tak akan mungkin begitu jahat dan tega padaku hingga membiarkanku hidup merana sendirian hingga akhir ajal. Aku paham jika Tuhan sedang membentuk seseorang yang paling sempurna untukku. Sampai suatu ketika, kita bertemu. Sungguh pertemuan yang tak disengaja. Barangkali inilah keajaiban Tuhan yang terindah untukku, melebihi tujuh keajaiban dunia yang kupelajari kala sekolah.

Advertisement

Momen di mana aku dapat berbincang denganmu, walaupun hanya sebentar, adalah momen paling berharga dalam hidupku. Paling tidak, aku dapat berbasa-basi dengan seseorang yang kurasa paling berbeda dibandingkan makhluk-makhluk yang pernah kutemui sebelumnya. Bagiku diriku pribadi, ini begitu membanggakan. Dari situ, aku mengenal namamu. Aku juga tahu di mana kantor tempatmu bekerja. Kalau-kalau saja waktu memberiku lebih banyak kesempatan, mungkin aku akan tahu lebih banyak lagi. Sayangnya tidak. Denyut ibukota membatasi semua. Tak lebih dari sekedar nama dan kantormu, kontakmu pun tak kudapat.

Pertemuan pertama itu begitu membekas di hati. Tombol discard dan erase untuk kenangan itu tak bisa kutemui

Bila memang begitu ceritanya, aku hanya bisa pasrah. Bagaimana lagi? Tuhan telah memutuskan bahwa momen indah antara aku dan engkau hanya sebatas itu saja. Barangkali kau hanya bisa jadi segelintir cerita yang datang dan pergi dalam hidupku, tak jauh berbeda dengan kisah-kisahku yang lainnya.

Tapi nampaknya aku salah. Penyebabnya, bayanganmu tak lantas begitu saja pergi dari diriku. Bagai hantu, sosok sederhana namun sempurnamu kerap mengisi mimpi serta lamunanku. Entah itu di kantor, di rumah, di tempat lainnya, bahkan di tempat pertama kali kita bersua. Firasatku berkata, engkau harus kuperjuangkan. Jika sebelumnya aku hanya menunggu, menunggu, dan menunggu reaksi, tidak kali ini. Mungkin ini hikmahnya kawan-kawan dan keluarga mempertanyakan kapan aku menikah. Mungkin ini hikmahnya Tuhan memberikanku momen yang hanya sekejap. Agar aku memperjuangkan cinta dengan kesungguhan.

Aku pun tak peduli lagi dengan julukan robotku. Di antara setumpuk deadline, selalu ada waktu yang kucuri demi mengetahuimu lebih banyak lagi. Dan demi sebuah kesempatan di mana waktu dan tempat akan mempertemukan kita lagi. Terlalu cepat untuk menyimpulkanmu sebagai manusia yang sekedar datang dan pergi. Sebab aku bahkan belum berusaha dan berjuang sama sekali. Aku tak akan jadi pengecut!

Hey sosok yang mencuri hatiku, tahukah jika hatiku tertambat padamu? Aku berharap semoga berbaik hati. Memperbolehkan kita segera bertemu lagi

Semoga suatu saat kita seperti ini

Semoga suatu saat kita seperti ini via static1.squarespace.com

Mungkin terlalu cepat untuk mengatakan aku mencintaimu. Mungkin tak layak pula bila buru-buru aku ingin membawamu ke dalam pelabuhan terakhirku. Tapi aku senantiasa mencarimu untuk pembuktian cintaku. Entah sampai kapan dan berapa lama aku mencari. Aku masih tetap ingin menemukanmu, sosok yang sederhana namun menawan. Aku tahu Tuhan akan selalu bersamaku dalam pencarianku kepadamu. Tuhan mendengar pasti setiap doa-doaku. Yang ada hanyalah namamu beserta harapanku bertemu denganmu supaya tak lekas pupus.

Sungguh aku ingin bertemu lagi. Barangkali kita bisa memulai pembicaraan lagi dan mengenal satu sama lain di sebuah kafe sembari meneguk hangatnya kopi. Semoga engkau juga sama halnya denganku, tengah menunggu kehadiranku di sana. Tolong jangan berpindah dan pergi terlalu jauh agar aku udah menemuimu. Tuhan, bawalah aku pada pertemuan itu lagi. Jadikanlah usahaku ini tak sia-sia.  Amin.

Dari aku,

Pria yang mencuri waktu agar bisa menemuimu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya