“Hai, manusia istimewa yang diam-diam sedang kupuja, baikkah kabarmu hari ini?”

Ah, seandainya saja kalimat barusan benar-benar kututurkan dan tak hanya kupendam. Namun, asal kau tahu, baru-baru ini aku sudah mulai berani mengutarakannya. Tanya saja pada tembok atau cermin di kamarku. Merekalah yang jadi saksi dan pendengar setia. Memang aku tidak menuturkannya langsung kepadamu. Lagipula, bagaimana bisa kuutarakan kata-kata barusan jika melihatmu dari kejauhan saja membuatku ingin bersembunyi?

Advertisement

Tidak, bukan karena aku takut melihat sosokmu. Namun, memang raga ini tidak bisa diajak berkompromi jika ada kehadiranmu. Jika bukan karena kecanggungan yang berlebihan seringnya aku akan melakukan kebodohan di sekelilingmu. Membuatku yang, ah, tentu saja, malu bukan kepalang.

Tulisan ini sebenarnya rahasia, jika suatu saat kau menemukannya, jangan kau baca ya. Aku malu jika kau sampai mengetahui isi hatiku.

Lucu rasanya, kita memang jarang bercengkerama. Tapi entah mengapa selalu saja ada wajahmu yang kutemukan sedang sibuk mondar-mandir di rongga kepala.

sosokmu selalu mondar-mandir di lingkar kepala via welovelaughkiss.wordpress.com

Percakapan denganmu tentu saja bisa dihitung dengan jari. Mungkin justru hampir tidak pernah karena akulah yang membatasi. Ya, aku tak ingin mempermalukan diri di hadapanmu. Kumpulan rasa percaya diri yang melapisiku kurasa tak cukup tebal sebagai modal bertatap muka denganmu.

Advertisement

Sebentar, coba kuingat lagi, pertemuan pertama kita kala itu adalah ketika kau dan aku sedang berada di kantin, sore hari. Kita memang sama-sama mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang sama. Namun, kau dan aku berasal dari jurusan yang jauh berbeda. Karena itulah, satu-satunya tempat di mana kita sering bertemu adalah kantin kampus. Tempat dimana banyak mahasiswa dari berbagai ilmu melepas lelah, mengisi perut, hingga kabur dari kelas karena sedang jenuh.

Sejujurnya, aku memang penggemar setia tempat itu. Aku gemar menghabiskan waktu demi menyesap teh susu, membebaskan imajinasiku berputar dengan memperhatikan orang sekitar, hingga bercengkerama dengan kawan demi mengisi waktu luang. Senja itu, kantin memang sedang riuh-riuhnya. Ada banyak mahasiswa mondar-mandir sibuk dengan kegiatan mereka. Saat itulah, sosokmu tertangkap mataku.

Berambut pendek, berkemeja flanel, sedang melangkah santai sambil mengisap rokok yang tinggal separuh badan. Kau menuju ke arah ke meja kawanmu yang ternyata ada di sebelah mejaku. Sesaat kemudian kau merasa bingung karena tak mendapat kursi. Kau memalingkan wajah ke arah mejaku. Mengucap permisi dengan sopan dan meminta ijinku untuk menggunakan kursi yang tersisa. Kuiyakan dengan anggukan ala kadarnya. Kau berucap terimakasih dengan tulus dan membubuhkan senyum setelahnya. Setengah terpana, aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum penuh kecanggungan. Membuat kawan-kawanku dibanjiri keheranan.

Dulu, aku selalu mencibir ungkapan cinta pada pandangan pertama. Namun, aku tak paham pada apa yang kurasa saat ini. Apakah ini karma dan yang sebenar-benarnya sedang kurasa adalah cinta?

apakah ini yang dinamakan cinta? via androidsinboots.com

Aku tak pernah menaruh percaya pada cinta pandangan pertama. Kucibir semua kisah romansa entah yang pernah kubaca atau kulihat di televisi. Bagaimana bisa seseorang yang belum kenal benar dapat jatuh cinta? Bodoh betul, pikirku kala itu. Mau-maunya menitipkan hati pada manusia asing yang baru ditemui. Namun, belakangan aku baru menyadari.

Bukankah kita tidak bisa memilih pada manusia mana kita akan menaruh cinta?

Mungkin kejadiannya waktu itu, si dewa cinta tengah asal menyasarkan anak panahnya pada sembarang manusia yang kebetulan ada di sekelilingku. Dan kebetulan saja anak panahnya tepat melesat ke arahmu. Hasilnya, kini hatiku meremang tiap melihat sosokmu. Aku pun tak tahu menahu perasaan apa yang saat ini sedang berlari-lari riang di dalam sana. Selalu girang bukan kepalang setiap ada bagian dari ragamu yang tertangkap oleh mata. Dan, mendadak merasa kehilangan ketika kau tak ada.

Aku pun gemar menerka-nerka seperti apa dirimu yang sesungguhnya. Sering pula membayangkan bagaimana rasanya bila aku dan kamu menjadi kita.

bagaimana rasanya bila aku dan kamu menjadi kita via favim.com

Senja-senja berikutnya, sosokmu selalu ada di sana. Entah memang kau selalu ada atau memang aku yang sekarang menjadi kelewat peka. Kau setia duduk di sana, untuk bersantai membaca buku, bercengkerama dengan kawanmu, atau hanya sekedar menikmati cangkir kopimu. Aku pun tak beranjak, selalu ada alasan yang kulontarkan untuk menolak halus ajakan pergi dari kawan. Diam-diam aku menikmati kegiatan mengamati gerak-gerikmu.

Aku sering pula menerka seperti apa sebenarnya kepribadianmu. Apakah kau memang dingin dan cuek seperti kelihatannya? Ah, namun tempo hari kau cukup santun berterimakasih dan tak lupa memberiku senyum. Tidak, tidak, sepertinya kau merupakan manusia yang sopan dan tahu terimakasih. Imajinasiku kian menggila. Aku sempat membayangkan bagaimana rasanya jika aku dan kamu menjadi kita. Bagaimana bila kamu, si pecinta kopi dipersatukan denganku si penggila teh susu.

Tanpa kusadari angan liarku menciptakan senyum dan rona merah jambu di pipi. Di saat yang bersamaan pula kau menoleh ke arahku. Kita bertatapan, waktu menjadi es batu, beku. Kau mengangguk sembari melempar senyum. Kubalas dengan anggukan canggung yang tentunya terlihat amat menggelikan. Sungguh, aku bersumpah pada Tuhan, aku akan pensiun mengamatimu mulai detik itu juga. Namun, apa daya, sumpahku hanya bertahan selama lima menit saja. Selebihnya, kulanjutkan pengamatanku dalam diam.

Doaku kepada si Empunya Dunia, supaya kelak padamu aku bisa memiliki cukup nyali untuk melontarkan sapa.

supaya kita kelak bisa melontarkan sapa via 25.media.tumblr.com

Doaku cukup sederhana, aku tak memanjatkan permohonan yang terlalu istimewa kepada Sang Pencipta. Aku tidak minta untuk bisa disegerakan merangkai cerita bersamamu, atau doa luar biasa supaya kau tiba-tiba jatuh cinta padaku. Membayangkannya saja geli rasanya. Doaku jauh lebih sederhana dari itu semua.

Kepada si Empunya Dunia, aku hanya memohon supaya keberanian yang ada di diriku dipertebal.

Sehingga, esok ketika aku berjumpa lagi denganmu, aku punya cukup nyali untuk melontarkan sapa dan kemudian kita bisa saling menyebutkan nama.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya