Suami Digugat Cerai dengan Alasan “Terlalu Baik”. Apa Iya Hubungan Memang Butuh Konflik?

Manfaat Konflik dalam Hubungan

Sebuah perceraian biasanya terjadi karena banyaknya masalah yang dihadapi. Masalah demi masalah menumpuk, pertengkaran demi pertengkaran yang semakin menyiksa, hingga akhirnya dua orang yang terlibat di dalamnya memutuskan untuk menyerah. Tapi bagaimana kalau perceraian itu terjadi karena rumah tangga terlalu ‘adem ayem’ dan pasangan yang terlalu baik serta terlalu cinta?

Advertisement

Seorang istri di Uni Emirat Arab (UEA) menggugat cerai sang suami dengan alasan sang suami terlalu baik, dan rumah tangga mereka terlalu sepi konflik. Dilansir dari Metro.co.uk, sang istri berkata: “Saya merasa sesak dengan cinta dan kasih sayangnya yang ekstrem. Dia bahkan membantuku membersihkan rumah tanpa diminta.” Yang lebih uniknya lagi, sang istri menganggap pernikahan mereka seperti neraka karena sikap suami yang super romantis dan pemaaf, serta absennya konflik ini. Wah, antimainstream banget ya?

Alasan “kamu terlalu baik buat aku” seringkali jadi guyonan. Ternyata hal ini benar-benar ada dan jadi “konflik” dalam sebuah hubungan. Mungkin orang lain menganggap sang istri kurang bersyukur. Sudah dapat suami yang baik dan rumah tangga yang adem ayem, apa lagi sih yang dicari? Tapi dari kasus ini, ada sebuah pertanyaan yang perlu kita telaah lebih jauh. Seberapa penting sih peranan konflik dalam sebuah hubungan? Dalam batas-batas yang wajar, konflik bisa berarti positif dalam sebuah hubungan. Berikut beberapa alasannya.

Absennya konflik dalam hubungan bisa jadi tanda persoalan. Ada satu orang yang terlalu dominan, atau satu orang yang selalu mengalah di setiap kesempatan

salah satu dominan via www.telegraph.co.uk

Dalam hubungan pasti melibatkan dua orang, yang tidak mungkin sama persis atas segala hal. Pasti ada perbedaan pendapat, pemikiran, ataupun sekadar beda penerimaan terhadap sebuah nada suara. Jadi, kalau hubungan selalu adem ayem tanpa pedebatan, bisa jadi hal ini terjadi karena ada satu orang yang terlalu dominan. Dialah yang mengambil semua keputusan dalam hubungan, sementara yang lain hanya ikut saja. Entah karena malas ribut, atau memang tidak diberi kesempatan.

Bisa juga konflik tidak ada karena dianggap tidak ada. Tekanan yang diabaikan bisa meledak suatu saat bila sudah tak tertahankan

konflik sengaja ditiadakan via unsplash.com

Ketiadaan konflik juga bisa karena aksi denial saja. Konflik itu ada, tapi dianggap tidak ada dengan alasan “Ah, ya udah deh, daripada berantem. Males banget”. Lalu rasa sakit hati, tidak setuju, dan tidak suka atas sikap pasangan dipendam. Gunung saja kalau meletus saat aktivitas magma sudah tak terbendung, apalagi hati manusia? Tekanan dan konflik yang terus-terusan ditekan akan meledak di suatu hari dengan dampak yang lebih parah.

Perdebatan berguna untuk pertukaran pikiran. Kalau tak ada diskusi, tentunya relasi juga nggak akan berkembang

konflik bisa jadi pintu diskusi via unsplash.com

Perdebatan dan perbedaan pendapat atas suatu hal bisa menjadi jalan untuk membuka diskusi. Dengan pikiran terbuka, tentu diskusi ini akan membawa wawasan baru dan sudut pandang baru. Dengan begitu, seseorang akan berkembang. Begitu juga dengan sebuah hubungan. Kalau hanya satu orang yang dibiarkan mengambil keputusan atas segala-galanya tanpa halangan, tentunya hubungan nggak akan berkembang secara maksimal. Padahal hal itu bisa mendewasakan seseorang lo. Misalnya, tentang bagaimana menghadapi perbedaan.

Konflik memberi tantangan, sekaligus sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Hal itu membuat kamu dan dia sama-sama belajar dan berusaha lebih baik lagi

ada sesuatu yang harus diperbaiki via pixabay.com

Konflik terjadi selalu ada penyebabnya. Hal ini menandakan bahwa ada sesuatu yang mesti diperbaiki. Misalnya, konflik yang terjadi karena cemburu terhadap dugaan orang ketiga. Di sini, kedua belah pihak dituntut untuk bersikap lebih dewasa. Yang cemburu mungkin perlu mengatasi rasa insecure-nya, sementara yang dicemburui mungkin perlu instrospeksi jangan-jangan bagaimana dia bersikap dengan orang lain memang berlebihan. Dari sana, dua orang yang berpartisipasi bisa saling memperbaiki diri.

Advertisement

Konflik, di luar sisi negatifnya, mungkin juga bisa menjadi pemacu adrenalin, yang bikin hubungan lebih seru dan jauh dari kata bosan

konflik bisa jadi roller coasters hubungan via unsplash.com

Kenapa sih orang suka naik roller coasters, histeria, ataupun wahana-wahana lain yang bikin deg-degan dan ketakutan? Tentu karena terkadang kita butuh pasang surut adrenalin, sehingga emosi kita sebagai manusia terasa lengkap. Begitu juga dalam hubungan. Terkadang perlu rasa kesal, gelisah, cemburu, terharu, tersipu, marah, sedih, untuk bisa merasakan naik turunnya sebuah hubungan. Lagipula, dengan segala konflik yang mengobrak-abrik hati, pasti ada rasa senang dan bangga setiap kali konflik itu berhasil dilalui.

Bicara soal konflik, ternyata absennya konflik dalam hubungan bisa jadi “konflik” juga ya. Memang dalam batas-batas kewajaran, konflik dan perdebatan dalam hubungan itu bisa membawa dampak-dampak positif. Karena itu akan mendewasakan, dan memberikan warna tersendiri dalam hubungan. Tapi bukan berarti hubungan yang penuh konflik dan percekcokan setiap hari itu sehat juga kok. Tentu ada batas-batas yang harus diperhatikan dengan benar. Kalau sudah berlebihan, ya, jangan dipertahankan.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE