Setelah heboh dengan kasus pelakor beberapa saat yang lalu, kata selingkuh pun kembali menjadi sorotan. Berkat kasus pelakor yang berhasil diungkap melalui akun lambe-lambean, banyak pasangan yang sudah menikah memasang kuda-kuda agar tak tergiur pelakor nantinya.

Padahal tak hanya pasangan yang sudah menikah yang bisa tergoda dengan perselingkuhan. Generasi millenials yang baru menjajaki masa pacaran juga bisa rentan dengan hal yang meretakkan hubungan dari dalam ini. Bahkan menurut sebuah penelitian, generasi millenials mempunyai kesempatan untuk selingkuh lebih besar daripada generasi yang sebelumnya.

Advertisement

Berikut beberapa alasan yang menguatkan bahwa millenials juga bisa terjangkit virus selingkuh, justru kesempatan yang ada lebih besar. Tak perlu takut membacanya bersama pacar. Siapa tahu dengan hal ini, kalian bisa lebih kuat mempertahankan hubungan.

1. Ketergantungan jadi faktor pertama. Begitu merasa sudah menemukan tempat ‘bergantung’, mereka akan coba-coba merasakan hal baru. Ya selingkuh itu

Udah punya tempat bergantung, rasa ingin coba yang baru pun muncul via unsplash.com

Dilansir dari Dailymail, generasi millenials membuka kesempatan untuk selingkuh akibat adanya rasa ketergantungan yang tinggi. Mereka memiliki pacar dan merasa bergantung dengan mereka. Bergantung dalam hal ini bisa dalam arti luas. Bergantung secara perasaan karena merasa hubungan mereka baik-baik saja dan tak akan goyah. Dan bergantung secara finansial seperti hasil penelitian Connecticut University pada tahun 2015. Terdengar sedikit tidak masuk akal, bukan? Tapi memang seperti itulah hasilnya.

Mereka sadar bahwa tempat ‘bergantungnya’ tak akan mudah goyah. Karena keyakinan itu lantas mereka mencoba melakukan hal-hal baru yang lebih menantang. Seperti selingkuh secara diam-diam.

2. Di usia 20-an mereka juga inginnya bebas dan tak ada yang mengekang. Begitu pacar punya aturan yang mengikat, selingkuh jadi tanda berontak mereka

Nggak suka dikekang via unsplash.com

Advertisement

Millenials memang identik dengan kebebasan. Jiwa muda yang masih membara di dalam dada, membuat mereka enggan untuk diatur-atur dalam kehidupan.Termasuk dalam menjalani hubungan. Namun ada kalanya pacar mereka membuat peraturan tertentu demi kebaikan hubungan tapi mereka justru merasa terkekang. Dan selingkuh inilah yang menjadi pertanda jiwa muda yang memberontak. Mereka ingin membuktikan bahwa dengan ‘dia yang baru’ tanpa aturan pun mereka bisa merasakan kebahagiaan itu.

3. Parameter kepuasan millenials bervariasi. Begitu merasa tak puas dengan pacar karena suatu hal, kesempatan mencari kepuasan dari orang lain terbuka lebar

Cari kepuasan di luar hubungan via unsplash.com

Salah satu sifat yang kentara dari millenials adalah tak pernah merasa puas. Kepuasan mereka tak hanya dari satu sisi. Tapi bisa datang dari berbagai sisi bahkan dalam bentuk yang bervariasi. Saat berpacaran dengan seseorang tak bisa memuaskan dari berbagai sisi, mereka lantas akan mencari orang lain untuk melengkapi kepuasan diri. Rasa tak pernah merasa puas inilah yang semakin membuat pintu perselingkuhan terbuka lebar.

4. Menurut penelitian, millenials merupakan generasi yang telat dewasa. Sifat setia susah berkembang dari sana

Telat dewasa via unsplash.com

Tracey Cox, seorang sex and relationship expert mengungkapkan bahwa millenials merupakan generasi yang telat dewasa. Jika dibandingkan dengan generasi terdahulu yang sudah mengikat janji setia di umur 20-an dan bisa seterusnya bersama, millenials justru sebaliknya. Di usia 20-an mereka masih menikmati masa remaja yang harusnya sudah terlewati. Kedewasaan yang telat dibentuk inilah yang menyebabkan kesetiaan susah berkembang. Sehingga dengan mudahnya meninggalkan pacar yang sekarang untuk mengejar orang lain yang tampak lebih menarik.

5. Adanya kesalahan dalam memanfaatkan media sosial. Mereka tak hanya mencari eksistensi, tapi juga distraksi dalam hubungan

Tak memanfaatkan media sosial dengan semestinya via unsplash.com

Media sosial juga turut mempengaruhi kesempatan millenials untuk selingkuh. Di media sosial, millenials melakukan berbagai cara untuk mendapatkan eksistensi. Tapi sayang, tak hanya eksistensi yang mereka dapatkan. Distraksi yang diam-diam merapuhkan hubungan. Selaras dengan ungkapan rumput tetangga selalu lebih hijau, millenials selalu merasa ada orang lain yang lebih baik dari pacar-pacar mereka dengan melihat unggahan yang ada di media sosial. Padahal tak semua yang ada di media sosial, sebaik yang dilihat bukan?

Memang tak semua generasi millenials yang tengah menjalin hubungan bisa dengan mudahnya berbagi hati. Semoga dengan hal-hal di atas, kamu dan dia bisa lebih memahami dan introspeksi diri. Agar dengan adanya perkembangan teknologi dan sifat-sifat millenials yang kalian miliki, bisa membuat kamu dan dia lebih berhati-hati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya