Teman-temanku tersayang,

Rinduku sudah tertumpuk sampai langit-langit kostku pada kalian. Memanggil nama kalian dalam hati bukan dengan nama lahir, namun sapaan yang kita buat untuk lucu-lucuan. Ada banyak sekali yang ingin kukatakan. Semoga kalian punya kesabaran untuk mendengarkannya.

Sepertinya baru hari kemarin kita berkumpul bersama. Melakukan hal-hal konyol yang mencerminkan masa muda kita.

Hidup kita dulu pernah begini banget ya, sob?

Hidup kita dulu pernah begini banget ya, sob? via banditblog.com

Advertisement

Saat pertama kali bertemu, kita belum menjadi siapa-siapa dan tak pernah mendengar nama satu sama lain. Tapi entah mengapa, ya, Tuhan mendekatkan kita. Terlalu sering kita berkumpul bersama. Entah itu makan di kantin sekolah, menggosipkan kehadiran anak baru, sampai-sampai berbisik-bisik tentang ketampanan kakak kelas pun sudah pernah kita lakukan. Kedekatan kita bahkan berlanjut hingga luar sekolah. Saat hangout di mall, misalnya.

Sebagaimana kita bertemu, selalu ada tradisi unik yang mengiringi perkumpulan kita. Agak alay, ya? Kita malah tak pernah ada segannya melakukan hal semacam itu di depan umum. Orang kerap kali menatap kita dengan aneh. Sebagian lagi menatap dengan sorot yang tajam. Pasangan yang pernah kita bawa ke perkumpulan pun selalu menggelengkan kepala. Entah itu tanda heran atau sebenarnya mereka ingin mengatakan kita itu norak-norak semua. Hahaha….

Bicara penampilan, kita tak mau kalah outstanding dengan artis ibukota. Setiap jalan bersama, senantiasa ada dresscode yang harus dikenakan. Kalau tak patuh, hati-hati saja! Salah satu dari kalian pasti akan ditagih untuk menraktir makan. Meski kadang suka tabrak sana-sini, kita nyaris tak peduli. Semuanya kita lakukan, karena itu kita sukai.

Sekarang kita tak lagi seperti itu. Ada tanggung jawab besar yang dipikul masing-masing di atas bahu

Di saat seperti inilah, kita mengeluhkan pekerjaan kita

Di saat seperti inilah, kita mengeluhkan pekerjaan kita via monicantik.files.wordpress.com

Advertisement

Lama-kelamaan, kita punya tahu diri juga. Usia yang sudah terlalu uzur untuk melakukan permainan seperti itu, membuat kita tersadar. Duh, hati ini bisa tobat dan elus-elus dada kalau mengingat-ingat masa lalu kita.

Kini kalian sudah punya tanggung jawab masing. Ada yang bekerja di sebuah department store demi hobi window shopping-nya. Ada juga yang kuliah lagi dan mengambil strata S2. Ada yang bekerja sebagai pegawai bank, marketing, dan macam-macam lagi. Meski begitu, kita selalu menyempatkan bertemu pada saat-saat tertentu. Apa lagi yang menyatukan kita kalau bukan keluh kesah tentang tanggungjawab dan masa depan?

Aku sering kedapatan mengeluh tentang bosku yang sering menyuruhku lembur. Sedangkan kalian berbagi rencana menikah, pekerjaan yang menyita hari libur, permasalahan dengan kekasih, konflik dengan orang tua, rencana membeli mobil, dan macam-macam lagi. Barangkali permasalahan kita yang begitu kompleks itulah yang membuat kita tobat melakukan hal-hal tak penting di masa remaja kita. Barangkali itu pula yang begitu menyatukan kita hingga persahabatan kita tak terasa melalui begitu banyak tahun. Kita kuat karenanya.

Kesibukan yang lebih datang lagi, setiap hari. Bersyukurlah masih ada teknologi bernama group chatting.

Ponselku tak ada hentinya berbunyi karena kalian

Ponselku tak ada hentinya berbunyi karena kalian via 3.bp.blogspot.com

Tak dapat dipungkiri kalau kesibukan dan aneka tanggung jawab di antara kita tak pernah ada habisnya. Mereka selalu datang setiap hari, setiap menit dan detik. Rencana pertemuan dengan kalian bahkan tak jarang cuma jadi wacana.

Tapi beruntunglah kita semua karena hidup di era digital. Kita kenal dan begitu akrab dengan apa yang disebut dengan group chatting. Tak perlu takut lagi kalau kita tak sempat bersua. Setiap kabar dari kalian semua dapat kuperbarui dari grup ini. Undangan pernikahan, sekedar bertanya, curhat atau konsultasi, bahkan gurauan sering kalian lemparkan. Tak jarang aku disangka gila oleh kawan sekantor karena tiba-tiba saja tertawa keras di tengah keheningan kantor. Kalian pokoknya harus rela kujadikan alasan mengapa aku segila ini. Dasar kalian!

Tapi, tak dapat aku pungkiri. Kecanggihan teknologi macam apapun, tidak membuatku puas. Malahan ini membuatku semakin ingin bertemu melepas rindu dengan kalian.

Saat kehidupanku semakin berkembang, aku justru ingat kalian. Ingin sekali rasanya bertemu kalian dan menceritakan kabar terkiniku.

Akan segera kukabarkan ini pada kawan-kawanku

Akan segera kukabarkan ini pada kawan-kawanku via media.licdn.com

Ketika aku dipromosikan di tempat kerja, diajak kencan oleh seseorang yang aku suka, dan mendapat kabar-kabar baik lainnya, jari itu juga segera aku ingin menceritakannya pada kalian. Setiap pencapaian di hidupku adalah buah dari saran-saran dan dukungan kalian, sahabat-sahabatku. Terima kasih telah menjadi sahabat yang luar biasa dalam hidupku.

Apalah artinya hidupku yang sekarang tanpa kalian? Walaupun sekarang kita tak lagi sering bertemu, kalian tetap teman-teman terbaikku

Kawan, rinduku tak terbendung lagi

Kawan, rinduku tak terbendung lagi via ilarge.lisimg.com

Kawan-kawan tersayang,

intensitas pertemuan kita kini memang semakin jarang saja. Bahkan sebulan sekali pun belum tentu. Beberapa dari kalian memang telah memiliki keluarga kecil. Kutengok laman sosial media kalian, betapa aku memiliki keponakan-keponakan yang lucunya tak terkira. Bahagianya hidup kalian. Entah kapan aku bisa mengajak kalian berkumpul bersama, berbagi kebahagiaan, menuntaskan rindu.

Aku hanya ingin bilang: meski kita tak lagi bertemu sesering dulu, kalian tetap teman-teman terbaikku. Meski banyak yang lebih baik dari hidupku yang sekarang dibanding yang dulu, ini tak akan terjadi tanpa kalian di sisiku.

Terima kasih karena pernah menemani hari-hariku. Sampai kita berjumpa lagi, lain waktu.

Kecup sayang,

Sahabatmu yang juga sama cerewetnya dengan kalian

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya