“Aku yakin bakal nikah sama kamu.”

Kalimat seperti itu kerap muncul beberapa saat setelah bersepakat untuk menjalani masa penjajakan. Sikap demikian tidak selalu menjadi tanda keseriusan hubungan sejak di awal perjanjian. Namun, bukan juga menafikkan nuansa pacaran yang hanya ingin diisi dengan kegiatan senang-senang. Momen macam ini adalah kecenderungan wajar yang pasti dialami oleh beberapa pasangan di awal menjalani masa pacaran.

Pertanyaannya adalah mengapa kalimat itu selalu muncul? Apakah keyakinan yang hinggap dalam diri sehingga berani berucap kalimat yang mengena di hati? Padahal mungkin saja, hubungan baru dimulai kemarin sore. Lalu apa? Yuk, mari disimak!

Awal memulai adalah saat di mana mimpi-mimpi terurai. Tak heran muncul bayangan untuk membangun keluarga bersama dia yang jadi belahan hati.

Imajinasi mengalahkan segalanya via imggood.com

Hati serasa dibuai setiap hari. Pikiran seakan segar bugar tak wajar. Adrenalin membuncah dan semangat menggelora. Aura positif ini menjalar ke setiap langkah dan hingga di tiap detik perjalanan. Inilah fase awal pacaran yang begitu menyenangkan. Fase itulah yang membuat keyakinan meloncat-loncat tak karuan. Hingga wajar bahwa masing-masing kepala ingin berbagi rasa seperti ini sampai ke pelaminan.

Advertisement

Memang, imajinasi pernikahan di awal pacaran terasa tidak begitu istimewa jika disikapi sebagai kecenderungan wajar. Namun, kita memiliki pilihan untuk melihat kembali apa yang ada dibalik kalimat yang begitu positif. Kalimat itu muncul karena aura optimis yang perlu terus dipelihara. Jangan selalu melihat imajinasi pernikahan yang muncul, namun kondisi apa yang ada di baliknya. Sehingga ketika terjadi masalah, kita bisa ingat dan mencoba kembali ke kondisi tersebut.

Ada rasa enggan bila memulai lagi dengan orang lain dari awal. Lebih baik menjaga dia yang sekarang sebagai pasangan spesial.

Susah memulai sejak awal lagi via www.decidio.com

Kondisi lain yang melatari keyakinan akan pernikahan di awal pacaran adalah bayangan akan malasnya menjalani pacaran dengan orang baru. Beberapa pasangan akan menganggap itu buang waktu. Sedangkan masa depan tak hanya soal mencari pasangan melainkan menyiapkan hidup yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, keyakinana akan sebuah pernikahan cenderung muncul sebagai hal yang natural. Sebab, ada ketakutan juga kelelahan terus membangun yang baru. Akan lebih untuk hemat waktu dengan terus belajar bersama yang paling sekarang sampai ke pelaminan. Waktu yang berhasil ditabung akan lebih berharga digunakan sebagai lintasan untuk mengejar kehidupan yang lebih baik.

Selain itu, ada rasa ketakutan jika hubungan yang dibiarkan terlalu lama justru akan sia-sia. Sehingga, muncul pikiran untuk segera mengikat janji setia.

begini sudah cukup via www.kanalani.org

Namun ada juga yang berpikiran bahwa pacaran yang terlalu lama akan memberikan jarak ke pernikahan yang sampai begitu renggang? Kenapa bisa begitu? Salah satu penyebabnya adalah trauma. Mungkin saja, kalian berdua saat masing-masing pihak memiliki sejuta mantan dalam kenangan.

Pengalaman itulah yang memupuk trauma bahwa semakin lama pacaran, maka peluang berpisah semakin berpisah. Oleh karena itu, imajinasi pernikahan di awal pacaran muncul begitu saja sebagai solusi atas masa lalu yang terlampau kalang kabut. Ini bukan sebuah kesalahan, melainkan sebuah kewajaran yang harus dikelola dengan kebijaksanaan.

Kalian berdua sudah merasa siap dengan berbagai kesamaan. Tinggal bagaimana meningkatkan penghasilan demi menata masa depan.

Yakin sejak di pikiran via www.womendailymagazine.com

Perasaan lain yang memperkuat keyakinan untuk segera menikah di awal pacaran adalah masa pendekatan yang begitu panjang. Masa itu membuat masing-masing telah yakin akan berbagai kesamaan yang hinggap dalam sebuah hubungan. Kesamaan itulah yang mempertebal keyakinan bahwa kalian memang diciptakan untuk sehidup-semati. Namun lagi-lagi, ini adalah praduga yang muncul dengan melihat kecenderungan gaya pacaran zaman sekarang. Sebuah fase di mana dua muda-muda begitu hobi mencari persamaan dan perbedaan. Nah, semakin banyak kesamaan, maka semakin tinggilah level imajinasi akan pernikahan di masa depan.

Atau justru karena sudah merasa mapan secara penghasilan, hubungan pun harus disegerakan naik ke pelaminan.

Do your own way via youqueen.com

Inilah alasan yang paling logis. Masing-masing telah memiliki hidup yang mapan dan penghasilan yang stabil. Pacaran dibutuhkan sebagai ajang berkasih-kasihan semata. Untuk itu, bahkan di awal pacaran pun, pasangan in telah yakin bahwa mereka akan menuju ke pelaminan dalam waktu dekat. Namun, tidak semata-mata penghasilan yang menentukan segalanya. Ada poin lain yang sangat berpengaruh, yang tentu saja disebut sebagai cinta.

Kami pikir, tidaklah menarik ketika hanya karena penghasilan maka pernikahan pantas digelar. Sebaiknya, tetap harus ada cinta, meski sedikit. Sebab akhir-akhir ini, begitu banyak pasangan yang menikah tanpa cinta, terbukti dari bertebarannya kasus perceraian. Meskipun, kita semua tidak selau menikah dengan orang yang mencintai dan kita cintai, setidaknya sisakanlah sepotong kasih.

Namun, bisa juga karena masing-masing belum menyadari keburukan dari tiap kepala. Inilah yang menyakinkanmu bahwa dia adalah calon terbaik sepanjang masa.

Baru sebentar via chrisv.com

Nah, dua poin logis di atas akan luluh lantak oleh poin yang satu ini. Imajinasi pernikahan di awal pacaran hanyalah intro semata oleh karena masing-masing belum kenal keburukan. Awal pacaran yang sungguh bahagia hanya memotret pujian, semangat, dan kasih sayang yang sungguh polos. Benih-benih keburukan belum sanggup untuk keluar.

Ini wajar. Masing-masing pihak ingin meyakinkan satu sama lain bahwa kehadirannya sungguh baik untuk masa depan. Tahap inilah yang semakin tajam mendorong pikiran untuk memupuk hasrat pernikahan dengannya. Nah, kalau ingin menguji tingkat keyakinannya. Cobalah sesekali tunjukan keburukan dan lihat reaksinya. Apakah masih ingin menikah?

Keyakinan macam ini sesungguhnya baik untuk hubungan kalian, supaya masa pacaran tak hanya diisi momen senang-senang atau kode-kodean.

Asal bahagia! via positivetruth.com

Memang, di satu sisi, imajinasi pernikahan di awal pacaran agaknya hanyalah bunga-bunga hubungan. Namun, patut dicatat bahwa ada motif optimis di baliknya. Kebiasaan untuk mengumbar keyakinan ternyata lebih produktif dari sekadar menyebar kata sayang. Keyakinan macam ini akan membawa aura positif selalu hadir sehari-hari.

Aura itulah yang membawa hubungan pada tataran kedewasaan yang mumpuni, tidak sekadar sayang-sayang’an ala FTV dini hari. Sebabnya, kata sayang lebih handal membutakan cinta. Sedangkan, keyakinan sungguh ampuh untuk membawa keseriusan, sebab di dalam kata yakin tersimpan tumpukkan tanggungjawab yang harus dituntaskan.

So, ada harapan yang selalu tersempil di saat matahari terbit. Begitulah pacaran. Ada impian yang selalu menggelitik di awal menginjak garis start. Tetap saja, sikap seperti ini mengandung dua sisi. Baiknya, kita dapat belajar untuk terus menumbuhkan rasa optimis. Buruknya, kita harus siap untuk diliputi kekecewaan. Tak usah takut, semua hal beresiko. Bersikaplah natural, semuanya akan terasa begitu spesial!

Kalau kamu pengen tau tips lainnya, tanya aja langsung sama Dwitasari!