5 Alasan Seseorang Bersikap Kasar dalam Hubungan. Bisa Dipahami Meski Tetap Tak Bisa Dibenarkan

Penyebab orang melakukan kekerasan

“Kok bisa sih dia kayak gitu?”

Pertanyaan di atas sering kali terlintas di pikiran kita ketika mendengar curhatan teman yang mengalami tindakan abusive (kekerasan) dari pasangannya. Dari banyaknya obrolan tentang tindakan abusive dalam hubungan, alasan bahwa si pelaku melakukannya atas dasar cinta dan sayang masih menjadi senjata pamungkas. Tapi apa iya begitu?

Advertisement

Banyak juga yang langsung berpendapat kalau si pelaku memiliki anger management yang kurang baik. Well, mungkin bisa jadi benar. Tapi, untuk mengetahui alasan seseorang dalam bertindak nggak secepat dan sesederhana itu loh. Dilansir dari Psychology Today, ada beberapa faktor yang sering luput dari obrolan kita tentang penyebab seseorang melakukan tindakan abusive. Misalnya beberapa hal ini.

1. Pola asuh orang tua dan kondisi keluarga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang

Pola asuh orang tua sangat berpengaruh pada karakter seseorang

Pola asuh orang tua sangat berpengaruh pada karakter seseorang via unsplash.com

Keluarga adalah tempat pendidikan pertama setiap orang. Jika seseorang dibesarkan dalam keluarga terbiasa dengan tindak abusive, besar kemungkinan ia akan menganggap bahwa hal itu normal lalu melakukannya ke orang lain. Tak jarang juga seseorang mengalami kekerasan di masa lalunya. Kekerasan tentu akan menyisakan trauma. Apabila tidak ditangani dengan baik, trauma itu akan menjadi penyebab ia melakukan kekerasan. Hal ini penting untuk kita mengerti, agar kelak bisa memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita nanti.

2. Tindakan abusive bisa muncul dari ketidakmampuan untuk mengungkapkan perasaan. Mungkin karena sejak dulu terbiasa dengan kenyamanan

Perasaannya harus terbalaskan

Perasaannya harus terbalaskan via www.worldatlas.com

Apabila selama dibesarkan ia tumbuh dalam lingkungan yang nyaman, saat dewasa ia tidak akan terbiasa menghadapi tantangan. Akan ada kebingungan ketika dihadapkan dengan perasaan sakit, sedih, kecewa, bahkan marah karena itu adalah hal yang asing. Padahal emosi-emosi itu adalah bagian dari manusia, dan untuk mengaturnya, terlebih dahulu harus diakui keberadaannya.

Advertisement

Tidak asing dengan kalimat “Jangan menangis!” “Kamu harus kuat!”? Yup, kalimat-kalimat itu membuat seseorang tidak terbiasa mengkomunikasikan perasaannya dengan baik dan cenderung menutupi dari pada menunjukkan.  Ketika perasaannya nggak terbendung lagi, di sinilah ia mulai bertindak abusive. Ini yang terjadi ketika pasangannya menyakiti atau mengecewakannya. Ia terbiasa harus melawan dengan cara kekerasan untuk mengembalikan kenyamanan.

3. Dia merasa punya hak untuk melindungi perasaannya dengan cara menyakiti orang lain, ketika kenyataan tak sesuai yang dia pikirkan

Ia perlu melindungi perasaannya

Ia perlu melindungi perasaannya via unsplash.com

Setiap orang memiliki keyakinan atas dirinya sendiri. Ketika ada satu hal yang menciderai keyakinan tersebut, akibatnya adalah rasa sakit. Misalnya, si A meyakini bahwa selama ini dia adalah sosok dewasa, matang, bijaksana, dan disukai oleh semua orang. Kebanyakan orang yang dia kenal juga menyetujui hal tersebut.

Lantas di suatu hari, kekasihnya bilang bahwa dia adalah sosok yang kasar dan sering menyakiti hati. Jauh di lubuk hatinya, si A tahu bahwa dirinya memang salah. Tapi, mengetahui bahwa ia salah dan tidak sesuai yang diyakininya selama ini, sudah cukup menyakiti hatinya. Sehingga, ia merasa perlu melindungi perasaannya dengan cara menghukum orang yang membuatnya merasa demikian.

4. Belum memiliki rasa empati untuk memahami orang lain. Ditambah rasa takut akan disakiti

Belum ada ketulusan hati

Belum ada ketulusan hati via unsplash.com

Ungkapan “Putting ourselves in other people’s shoes” sering dipakai sebagai pesan untuk berempati kepada orang lain. Si abuser sudah melakukan ini terhadap pasangannya. Ia tahu kalau tindakan abusive-nya sangat menyakiti. Tapi, ia tidak berempati dengan sepenuh hati. Padahal, ketulusan hati sangat dibutuhkan untuk saling memahami satu sama lain.

Akibat ketidak tulusannya ini, ia sering menyalahartikan perilaku pasangannya. Contohnya, ketika pasangannya takut karena kemarahannya, pasangannya memilih untuk menjauh sementara untuk menenangkan hati. Tapi, si abuser mengartikan kalau pasangannya bersikap dingin terhadapnya. Atas dasar itu, ia kembali menghukum pasangannya dengan kekerasan.

5. Dia berpikir bahwa menyakiti orang lain ketika diri sendiri juga tersakiti adalah hal yang wajar

Kekerasan adalah sesuatu yang wajar baginya

Kekerasan adalah sesuatu yang wajar baginya via www.helpguide.org

Rasa marah dan sakit hati yang dirasakannya saat menghadapi masalah terkait hubungan, membuatnya merasa sah-sah saja untuk balik menyakiti pasangannya. Ia kurang bertanggung jawab untuk menemukan permasalahan sebenarnya dalam hubungannya dan dan mencari solusi yang tepat, sehingga langsung mengambil jalan pintas yaitu kekerasan sebagai upaya untuk bertahan.

Nah, itu dia beberapa faktor yang bisa membuat seseorang berperilaku abusive. Perlu banget untuk menyadari apakah dalam diri kita ada potensi untuk berperilaku abusive atau tidak. Untuk mereka yang sudah terbukti bertindak seperti itu, akan sangat baik untuk meminta pertolongan dari tenaga profesional seperti psikolog dan terapis.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE