Keputusannya meninggalkanmu bagaikan hujan di siang bolong. Siap atau tidak, kamu tetap harus menerimanya. Entah bagaimana dengan kondisi pikiran dan perasaanmu nanti. Dia tak lagi peduli dengan apa yang kamu rasakan. Sebab, ucapan perpisahan yang datang menjelma belati itu justru mencerminkan kelegaan untuknya.

Sedang untukmu, yang kamu rasa kini bukan hanya sekedar patah hati. Lebih dari itu rasanya hatimu seperti teriris-iris dan tidak berbentuk lagi. Ingin marah, tapi kamu tak sanggup mengubah kesakitan ini menjadi nyali untuk memaki-maki. Akhirnya disudut hari kamu berdiam dan meresapi.

Tak pernah disangka-sangka sebelumnya, jika hatimu harus berkali-kali merasakan luka yang rasanya lebih ngilu dari jari yang teriris pisau

sakitnya lebih sakit dari jari teriris pisau

Advertisement

Layaknya seorang koki, di tengah kesibukan meracik makanan. Tiba-tiba, pisau yang selama ini dipercayakan membantu dan menemani justru mengiris jarimu tanpa ampun. Luka panjang yang menganga itu awalnya memang tak sakit, tapi persis setelah darah mengalir dari sana, perih bercampur ngilu rasanya tak bisa lagi dikompromikan. Terlebih saat kamu lihat dijarimu sudah ada sayatan-sayatan tipis yang tak kamu sadari.

Kira-kira seperti itu lah, goresan luka yang tak pernah kamu sangka sebelumnya. Sampai-sampai kamu sendiri saja tak percaya, saat merenungi sakitnya luka, ternyata jauh sebelumnya luka-luka kecil telah ada. Jadi begini rasanya hati yang harus berkali-kali merasakan luka yang rasanya lebih ngilu dari jari yang teriris pisau.

Luka-luka yang menggores sempat membuatmu berpikir, akankah kamu tersesat pada kesedihan tak berujung?

tersesat

tersesat

Bukan cuma perihal sakit yang ada di dalam pikiranmu. Tapi, luka ini setelah dirasa-rasa membuat kamu berpikir, akankah rasa sakit yang ada menyesatkanmu pada kesedihan tak berujung? Kecerianmu mendadak hilang tak bersisa, seperti terserap lubang hitam yang mendadak muncul dari luka-luka itu. Kepercaya dirianmu pun ikut menguar entah kemana. Tak tahu lah, seolah hari-harimu kini milik luka. Meski dalam pikiranmu masih terus berusaha bertanya, akan kah kamu menemukan jalan keluar dari labirin kesedihan ini

Nyatanya seiring berjalannya waktu, kamu perlahan-lahan bangkit dan berlalu meninggalkan segala tangis yang terlalu berlarut-larut itu

kamu perlahan bangkit

Advertisement

Setelah beberapa waktu kamu berusaha mati-matian untuk mengilangkan luka dan meredakan sakit. Akhirnya, titik terang muncul membangunkanmu dari keterpurukan. Membantumu bangkit perlahan-lahan. Memintamu untuk melepaskan segala tangis yang berlarut-larut, dan berlalu meninggalkan itu di belakang. Tanpa perlu kamu tengok kembali. Anggap saja bagian itu tak pernah ada. Karena memang kesedihan dari luka, akan hilang setelah luka itu sembuh dan hatimu membaik.

Kini yang kamu perlu sebuah antibody baru, agar hatimu lebih kebal dengan luka lain yang mungkin saja muncul seperti hantu.

Tekadmu pun sudah bulat, kelak persoalan hati yang perih karena teriris sembilu takkan lagi menjebakmu pada beban kesedihan yang berat

tekatmu sudah bulat

tekatmu sudah bulat via www.pexels.com

Kamu sudah tahu bagaimana sakitnya dikhianati, ditinggalkan, dan dibiarkan merana berbulan-bulan. Bahkan jika dipikir-pikir lagi saat kamu memulihkan hati dan mendamaikan kesedihan, dia entah di mana sedang tertawa-tawa bersama pilihannya yang baru, menikmati kebahagian yang tumbuh subur. Rasanya ini tak adil untukmu.

Tapi, mengingat lagi, bukankah kamu sudah bertekat sebulat-bulatnya. Kelak persoalan hati yang terisis sembilu takkan lagi menjebakmu pada beban kesedihan yang berat. Kamu akan lebih memilih diri hanyut oleh kesibukan karir dan kebersamaan bersama keluarga juga teman-teman.

Kamu sadar sesadar-sadarnya, jika kesibukan seperti halnya morfin yang ampuh menghilangkan rasa sakit. Meski akhirnya, kesibukan harus menjadi candu. Tapi, itu tak jadi masalah, yang terpenting kamu lebih kuat dari sebelumnya. Toh kamu punya mimpi yang berharga, meratapi perpisahan dengannya yang tak menghargaimu tak akan pernah ada untungnya.

Terima kasih atas luka ini. Karenanya, kini kamu tahu bagaimana cara untuk selalu bangkit lagi dan lagi

16

terima kasih atas luka ini

Alih-alih menggerutukan semua kecewa atas luka yang dia goreskan, kamu justru berterima kasih. Otakmu masih terlalu waras untuk menanamkan dendam di sana. Karena, sebenarnya luka yang dia gores nggak cuma membuat kamu tahu tapi juga belajar bagaimana menemukan cara untuk selalu bangkit lagi dan lagi. Paling tidak kamu yang sekarang lebih punya nyali untuk menolak rasa sakit. Kalau pun terlanjur ada luka baru yang tergores kelak, kamu menjamin itu takkan akan kembali menjadi kesedihan.

Sekarang kamu paham, sedalam-dalamnya luka adalah batu loncatan untuk kamu menemukan kekuatan baru yang lebih besar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya