Awal-awal pacaran, pertengkaran memang jarang sekali terjadi. Tapi memasuki beberapa bulan pertama pertengkaran mulai hadir, sesekali, dan mungkin masih persoalan sepele saja. Seperti rasa cemburu entah dari kamu atau dia. Seiring berjalannya waktu dan semakin serius kalian menjalani hubungan, pertengkaran semakin terasa berbeda, mulai dari sebabnya, sampai dampak yang kalian rasakan.

Katanya sih pertengkaran kamu dan dia yang sekarang punya andil besar untuk membuat kalian dan hubungan ini semakin dewasa. Ada hal antara kamu dan dia yang memang kadang harus berbeda prinsip. Kamu dan dia bertengkar karena hal-hal yang memang penting untuk disikapi lebih baik. Misalnya, kamu hanya ingin dia ingat dengan tujuan kalian membawa hubungan ke depannya, atau sebagai pasangan kamu memang terlalu khawatir dengan kepentingan dirinya.

Pertengkaran tak selalu berarti buruk. Justru semakin dewasa hubungan yang kamu jalin, pertengkaran yang terjadi seharusnya bisa makin menguatkan. Asal kamu dan dia menyelesaikan dengan cara yang dewasa pula.

1. Kesal karena dia lebih mementingkan lembur berhari-hari, daripada jaga kesehatannya sendiri.

khawatir kamu kebanyakan lembur via www.pexels.com

Kok masih online jam segini? Aku kebangun barusan.

Hehehe, iya masih selesaiin sisa kerjaan, nih….tanggung tinggal dikit lagi.

Ya ampun, kamu kebiasaan banget lembur sih! Kan aku udah berkali-kali ngingetin kamu, kalau kerja itu tahu waktu. Emang kerjaannya deadline besok? Nggak kan?

Iya nggak deadline besok, tapi kan tanggung sayang…. Kok kamu malah marah-marah!

Aku tuh khawatir, kalau kamu jatuh sakit, karena sering bergadang…. -_-

Advertisement

Kekesalanmu bukan karena ingin diperhatikan atau lebih diperioritaskan. Tapi kekesalan justru muncul karena dia tak memperhatikan dirinya sendiri, dan kamu dibuat khawatir dengan kebiasaanya seperti kerja hingga larut malam. Padahal perusahan tempat dia bekerja tak menggajinya lebih dari delapan kerja. Kamu pun tahu dibalik kebiasaannya itu menyimpan resiko yang bisa saja fatal untuk kesehatannya, tak hanya sekarang tapi juga dimasa depan nanti.

Jadi sebelum semuanya terlambat, kamu berusaha untuk selalu mengingatkannya. Meski kadang emosi tak bisa ditahan, saat berkali-kali dia menganggap enteng khawatiranmu  itu,

2. Saat dia mulai boros, sebentar-bentar beli ini itu. Kamu pun kesal dan bertanya, dia mikirin masa depan kalian nggak sih.

mending beli makanan yang jelas kebutuhan primer -_- via www.logancoleblog.com

Lho, kamu habis ganti ipad? Emang yang kemarin kenapa? Perasaan masih oke.

Iya, hmmmm…. Ini lebih canggih.

Belanja aja terus, nabung buat nikahnya nanti-nanti aja! Huft…. ((Ngambek seketika))

Dibalik kesalnya kamu sebenarnya selalu ada tujuan baik, seperti saat dia mulai melakukan pemborosan. Bukannya ingin mengekang dia melakukan atau membeli sesuatu yang dia suka. Kamu hanya kepikiran, kalau saja dia sekarang boros bagaiman dengan masa depan kalian nantinya. Bukankah tak hanya saat nikahnya saja butuh modal materi, tapi pascanikahnya pun justru lebih membutuhkan banyak biaya-biaya tak terduga lainnya.

Kamu sendiri selalu berkeyakinan, bijak dalam mengolah keunangan itu perlu demi masa depan yang lebih baik. Bukankah itu salah satu keberhasilan dalam hubungan kalian kelak.

3. Marahmu meluap saat dia masih sibuk hura-hura, hingga lupa terhadap apa yang kini jadi prioritas utama

masih sibuk dengan dunianya via favim.com

Sebelum menjalin hubungan, kamu dan dia tentunya punya kehidupan masing-masing. Kebiasaan kalian pun masing-masing jauh berbeda. Dia mungkin menjadi orang yang senang menghabiskan waktu berjam-berjam di kafe bersama teman-temannya. Dulu kebiasaannya ini tak menjadi hal besar bagimu, namun lama kelamaan kamu merasa keberatan. Karena di saat kalian sudah harus berpikir serius tentang masa depan hubungan, dia tak juga memikirkan prioritas utama yang lebih penting.

Kamu berhak marah jika kondisinya seperti ini. Cepat atau lambat kamu dan dia memang harus melangkah ke jenjang selanjutnya. Mulai menyusun prioritas adalah hal pertama yang harus dilakukan.

4. Semakin dewasa, harusnya dia bisa dewasa untuk bersikap. Makanya kamu marah jika pasangan mulai menuntut hal-hal yang tak masuk akal.

meminta hal yang tak masuk akal via dylandsara.com

Kalian bukan lagi anak kecil yang meminta sesuatu hal tanpa tujuan yang jelas. Toh kamu atau dia pun tahu mana hal yang baik dan tidak, mana hal yang wajar dengan yang sudah tak wajar. Karena itu, kamu kesal saat dia justru meminta hal-hal aneh yang sudah jelas di luar dari kesanggupanmu. Meminta perhatian sih wajar, tapi kalau berlebihan juga kan bikin kamu emosi sendiri. Masa iya, dia sebagai pasangan nggak bisa mengerti kesibukanmu.

Sayang, kenapa sih kamu nggak jemput setiap hari?

Lho, bukannya nggak mau! Tapi kan rumah aku lebih jauh. Masa iya kamu harus bolak-balik nganterin aku. Udah deh, aku juga udah biasa pulang sendiri!

Alasan, bilang aja ada temen kantor yang udah nemenin!

Dih, apa sih…. Aneh banget kamu. Huft,

5. Nggak ada yang lebih bikin emosi, ketika dia menganggap sepele keseriusan hubungan kalian sejauh ini.

bercanda sih bercanda, tapi nggak menyepelekan hubungan juga sih via dylandsara.com

Meskipun niatnya hanya bercandaan, tetap saja kamu kesal ketika candaanya itu terkesan menyepelekan hubungan kalian. Padahal dari awal kalian membuat komitmen untuk bisa sama-sama serius.

Apalagi hubungan yang kalian jalani ini bukan lagi satu tahun atau dua tahun. Berbagai persoalan juga sudah sama-sama kalian hadapi. Kamu dan dia sudah pernah tahu bagaimana rasanya menjalin hubungan jarak jauh. Masa-masa cemburu dengan mantan atau orang lain pun sudah lewat. Atau saat-saat kamu dan dia sedang saling membutuhkan dukungan untuk karir masing-masing.

Terus sekarang dia dengan gampangnya menyepelekan semua usaha itu, membuatnya jadi guyonan yang buatmu sendiri justru tak lucu. Bagimu bercanda memang tak masalah, namun harusnya tak pernah keluar konteks. Kamu dan dia memang harus mulai mengakui bahwa ada hal yang tak bisa selalu dibuat bercandaan.

Pertengkaran memang selalu menimbulkan luka. Namun pertengkaran yang menuntunmu ke kedewasaan selalu meninggalkan pelajaran.