Kamu tidak perlu bertanya sudah berapa banyak hati yang saya lalui sebelum berhenti di kamu. Berapa banyak tatap mata dalam yang membuat saya merasa, “Ini akhirnya. Saya siap menepi dan membangun masa depan bersama.” Atau sudah berapa banyak pintu yang saya putar kenopnya, melirik sedikit ke dalamnya kemudian memilih tidak memasukinya karena ternyata tidak nyaman terasa.

Tolong jangan juga bertanya tentang siapa yang paling saya cinta. Apakah saya pernah sakit sebelumya. Pada siapa kamu bisa menempelkan label mantan yang tak lagi boleh dihubungi selama kamu ada. Sebab kini semua tidak lagi signifikan terasa.

Kamu tidak perlu tahu dulu saya sempat sesakit itu. Sebab kamu lebih berhak untuk gadis yang tangguh menyembuhkan diri dari lebam biru

Kamu lebih berhak untuk gadis tangguh yang sudah tak lagi biru

Kamu lebih berhak untuk gadis tangguh yang sudah tak lagi biru via bridalmusings.com

Advertisement

Sebelum bertemu kamu, saya sempat menitipkan hati pada orang yang salah. Dia yang dengan seenaknya melemparkan hati tinggi-tinggi lalu lupa menangkapnya kembali. Hasilnya hati gadismu ini sempat berderak, patah, beberapa saat berdarah. Untuk beberapa saat saya sempat lupa rasanya bahagia. Lupa bahwa masih ada terlalu banyak impian yang layak diperjuangkan di luar sana. Lupa, jika dulu tanpanya saya sempat baik-baik saja.

Kamu tidak perlu tahu gadismu ini sempat terbangun setiap jam 3 pagi karena merasa ada lubang menganga di hati. Atau bagaimana dulu gadismu ini memilih rute memutar yang menghabiskan bahan bakar — hanya karena tak sanggup lewat tempat-tempat penuh kenangan yang membuat hati bergetar. Biarkan semua proses itu jadi kisah yang membuat saya lebih tegar.

Sebab kamu, sudah tidak lagi layak mendapatkan gadis yang tak mampu menghadapi sakit hatinya sendiri. Kamu berhak didampingi gadis yang dengan tangguh menyembuhkan lukanya dalam sepi.

Advertisement

Dan saya mau jadi gadis itu kali ini.

Biarkan saya mengecup mata lelahmu. Jadi tempat pulang ternyamanmu. Tapi tidak mengeruk cerita tentang hati yang kamu singgahi sebelum kita bertemu

Biarkan saya mengecup mata lelahmu. Jadi tempat pulang ternyamanmu

Biarkan saya mengecup mata lelahmu. Jadi tempat pulang ternyamanmu via bridalmusings.com

Beberapa kali kamu pernah bercerita tentang gadis sebelum saya yang sempat membuatmu jatuh cinta. Beberapa tampak anggun dalam fotonya. Banyak yang jauh lebih cantik dari saya. Namun rengkuhmu yang menyergap pinggang saya tiba-tiba membungkam semua rentetan pertanyaan yang ada. Mereka boleh lebih segalanya. Tapi jika kamu tak menepi pada mereka — ikatan sebelumnya memang tak diamini semesta.

Sementara ikatan kita bisa diusahakan mendapat restu Yang Kuasa.

Kali ini saya tak lagi tertarik bertanya pada siapa saja kamu pernah menitipkan hati. Hal-hal apa yang bersama mereka sudah kamu lalui. Kehangatan khas pasangan kekasih seperti apa yang sudah pernah kalian jalani. Bukan karena saya takut cemburu atau patah hati. Kita sudah sama-sama dewasa. Ada hal yang jauh lebih penting dari meributkan masa lalu yang sudah melesat pergi.

Kali ini biarkan saya berubah jadi partner masa kinimu. Jadi orang yang setia mengecup mata lelahmu. Jadi wajah yang pertama kali kamu lihat di bandara selepas kembali dari tugas panjangmu.

Biarkan saya mengusap sayang punggungmu. Membiarkanmu memanjat tubuh atau menggelitik pinggang demi menunjukkan rasa sayangmu. Tanpa perlu lagi melibatkan interogasi soal apa yang sudah kamu jalani sebelum kita bertemu.

Barangkali jadi dewasa adalah tak merasa jengah membuka masa lalu. Membiarkanmu melongok ke situ. Tanpa perlu membuatmu tahu apa yang sudah menangguhkan saya yang kini siap mendampingimu

Dewasa adalah membiarkanmu tahu masa lalu. Tanpa perlu membuatmu tahu apa yang sudah menangguhkanku

Dewasa adalah membiarkanmu tahu masa lalu. Tanpa perlu membuatmu tahu apa yang sudah menangguhkanku via bridalmusings.com

Bukan berarti saya tak ingin masa lalunya dimasuki. Sumpah mati, tak ada sedikitpun potongan masa lalu saya yang belum kamu tahu sampai detik ini. Bahkan sampai makan di mana, seberapa dekat saya membangun hubungan dengan orangtua pasangan sebelumnya, sampai menjawab pertanyaan nakalmu yang iseng mengulik, “Hayooo…sudah sempat sejauh apa?” 

Menutupi masa lalu yang sudah membentuk saya sekarang jelas bukan hal yang layak dilakukan. Namun kamu tak perlu tahu apa yang sudah saya lalui hingga menjadi gadis yang tak lagi takut akan kesendirian. Sebab kamu berhak didampingi dia yang dengan tenang menangguhkan genggaman. Gadis yang rengkuhannya di lenganmu selalu bisa jadi alasan untuk bekerja keras menghadapi semua tekanan. Gadis yang tak lagi memikirkan sakit hatinya sendiri — sebab dia sudah selesai dengan episode gelap yang membentuknya jadi setangguh ini.

Sssst….tolong berhenti bertanya tentang bumpy nya jalan yang sempat saya lalui sebelum bertemu kamu. Akan saya kecup bibirmu agar diam jika perlu. Sebab kini, semua sudah tidak sesignifikan itu.

Satu yang perlu kamu tahu — ada gadis yang kini siap dengan tangguh mendampingimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya