Orang bilang, cinta bisa mengeluarkan potensi-potensi terbaik dalam diri manusia. Orang bilang, cinta adalah penerimaan apa adanya. Orang bilang, cinta adalah rasa meyanyangi yang tulus dan terbebas dari egois. Sampai di sini aku mengerti, bahwa apa yang kita jalani tak seperti yang orang-orang katakan.

Bersamamu aku selalu bertanya-tanya. Ke manakah diriku yang dulu? Karena semakin lama semakin kurasa asing pada diriku sendiri. Apa yang kulakukan semata-mata karena kamu memintaku begini dan begitu. Dan begitu saja, kamu masih berani mempertanyakan cintaku bila sekali waktu aku ingin mengatakan isi pikiranku. Bukankah dahulu kesepakatan kita tak begitu? Bukankah dulu kamu mengaku cinta padaku, dengan segala yang ada dalam diriku?

Awalnya kupikir hanya perasaanku saja. Namun semakin lama ini semakin rumit, karena kamu membuatku menjadi boneka

Semakin lama aku semakin terkekang via vi.sualize.us

Saat hubungan kita masih seumur jagung, aku selalu merasa kamu orang paling romantis yang kukenal. Bukan hanya romantis, kamu juga begitu perhatian. Kamu rela mengantar dan menjemputku ke manapun aku membutuhkan. Kamu juga tak lupa mengirim pesan, sekadar menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Awalnya aku baik-baik saja, namun semakin lama, perasaan aneh ini sering muncul begitu saja. Kamu menempel begitu ketat, mengawasi segala apa yang kulakukan. Ini itu kamu harus tahu dan setuju. Bila aku menolak, kamu akan menggugat dan menyebutku tidak lagi sayang. Sejak kapan kamu menganggapku jadi boneka?

Hobi-hobiku yang dulu tak bisa lagi kuikuti, karena katamu itu tak perlu. Tapi bukankah aku juga punya hak untuk berkembang?

banyak hobi yang tak bisa kulakukan lagi via weheartit.com

Advertisement

Aku punya hobi. Banyak. Aku punya minat pada banyak hal. Dulu aku bebas mengekspresikan diriku, menikmati hobi-hobiku yang kadang memang hanya tentang hal-hal sepele. Tapi kini kusadari, aku terlalu sibuk menuruti permintaanmu. Banyak hal yang dulu kulakukan kini tak bisa lagi kulakukan hanya karena kamu bilang itu tak perlu. Beberapa kamu bilang berbahaya dan seharusnya tidak dilakukan oleh perempuan sepertiku. Padahal apakah kamu tahu, meskipun tidak ada manfaat luar biasa yang bisa membuatku kaya misalnya, hal-hal sederhana itu bisa membuatku bahagia. Apa kamu tak bahagia juga saat aku bahagia?

Perlakuanmu membuatku merasa jadi merpati dalam sangkar. Bertemu teman pun rasanya tak semudah dulu

seperti burung dalam sangkar via lonerwolf.com

Masalah hobi, baiklah, aku masih bisa menerima. Tapi semakin lama, kamu semakin menjadi-jadi. Kini aku tak bisa lagi bertemu dengan teman-teman sesuka hati. Saat aku ada acara di luar kantor, kamu akan berubah menjadi sipir penjara yang menanyai apa yang akan kulakukan dan siapa saja yang akan pergi denganku. Terkadang kamu bahkan cemburu dan cemberut bila aku menghabiskan waktu dengan teman-temanku. Apakah semua waktuku harus kamu miliki, sayangku? Berada di sisimu membuatku merasa seperti burung dalam sangkar. Kakiku terikat ketat, tak bisa pergi jauh-jauh.

Dulu kupikir kamu memintaku begini dan begitu karena kamu ingin aku menjadi lebih baik. Tapi kini aku tahu bahwa sebenarnya kamu ingin menjadikan aku seperti maumu

kamu hanya ingin menjadikanku seperti yang kamu mau via globalvillageextra.com

Awalnya aku tak keberatan. Aku sepakat, kita akan berusaha memantaskan diri berdua, agar kelak kita sama-sama sampai pada titik terbaik saat kita meresmikan hubungan. Kupikir apa yang kamu lakukan, jangan begini dan jangan begitu, harus begini dan harus begitu, karena kamu ingin aku menjadi sosok yang lebih baik. Dan barangkali, kamu memang lebih tahu yang terbaik untukku. Tapi semakin lama semakin aku tahu, kamu sedang berusaha menjadikanku seperti apa yang kamu mau. Seperti gadis ideal yang ada di pikiranmu. Kamu lupa, bahwa aku juga manusia, bukanlah boneka yang bisa kamu jadikan ini itu sesukamu.

Kamu bilang aku harus setuju sebagai tanda cintaku padamu. Tapi aku jadi bertanya-tanya: apa cinta berarti aku kehilangan hak untuk menjadi diriku sendiri?

Apakah mencintai berarti harus menjadi orang lain? via youqueen.com

Ah, selalu alasan itu yang kamu jadikan senjata. Bahwa bila aku memang benar-benar cinta, aku harus merelakan hal-hal tak penting seperti hobi-hobiku, toh semuanya demi kebaikan berdua. Tak perlu juga aku sering-sering bertemu dengan teman-teman, toh ada dirimu yang bisa menemaniku setiap saat. Toh nanti di pernikahan, hanya ada kita berdua. Singkatnya, aku harus menuruti setiap kata-katamu, dan bila aku menolak, maka cintaku pastilah tak sebesar itu. Tapi, mencintaimu apakah berarti aku harus kehilangan hak untuk menjadi diriku sendiri? Apakah aku kehilangan hak untuk menghidupi hidupku seperti keinginanku? Apakah aku tak punya hak lagi untuk mengatakan apa yang kumau?

Aku tahu kamu mencintaiku. Tapi tolong biarkan aku menjadi diriku sendiri. Tak bisakah kamu mencintai diriku yang sejati?

Tak bisakah kamu terima diriku apa adanya ini? via trendlovegood.blogspot.co.id

Kamu menyebut cinta sebagai alasannya. Katamu, kamu melakukan itu karena cintamu yang begitu besar. Kamu begitu mencemaskan keselamatanku, dan merasa lebih tenang saat aku ada di sisimu. Tak ke mana-mana. Sayangku, aku tahu cintamu itu. Tapi tidak bisakah kamu mencintaiku seperti ini? Mencintai diriku yang sejati? Diriku yang utuh, tanpa perlu aku harus begini dan begitu untuk menyenangkan hatimu? Tidak bisakah kamu mencintaiku apa adanya seperti aku mencintaimu selama ini? Aku ingin diriku yang sebenarnya ini diterima. Segala kesukaanku pada hal-hal gila, segala kekurangan dan keanehanku ini, tidak bisakah itu semua diterima?

Bila itu tak bisa kamu terima, barangkali persepsi cinta kita memang berbeda. Jangan kamu paksa, karena kali ini, kupilih diriku sendiri

Kali ini aku akan memilih via octari.wordpress.com

Sudah lama aku memikirkan hal ini. Aku mempertimbangkan banyak hal, berusaha mencari jalan tengah agar aku dan kamu tidak sama-sama terluka. Tapi semakin lama kupikirkan, bukan jalan keluar, justru kebuntuan yang kutemukan. Kamu terus-terusan memintaku memilih. Katamu harus ada yang dikorbankan dalam sebuah hubungan. Bila aku tak mau, maka lebih baik diakhiri saja. Sampai akhirnya kudapatkan kesimpulan bahwa barangkali definisi cinta kita berbeda. Kita memahami cinta dengan cara yang berbeda, wajar bila jalan kita kemudian berselisih. Bila kamu tak setuju, sayang, baiklah, aku akan memilih sekarang.

Cinta itu, sayangku, tak perlu mengikat terlalu erat. Agar tetap hidup, kita juga butuh ruang untuk bernapas

Aku ingin cinta yang membebaskan via missmelissawrites.com

Bagiku, cinta itu sederhana saja. Cinta adalah sebuah rasa yang tak punya alasan. Kamu tak perlu begini atau begitu, sebab kehadiranmu saja sudah membuatku senang tanpa bisa didefinisikan alasannya. Cinta bagiku juga membutuhkan sebuah ruang untuk berkembang. Seperti saat kita menanam pohon, sayang. Dia butuh ruang dan udara untuk tumbuh dan berkembang. Bila kamu kurung dia dalam sebuah ember gelap yang tanpa cahaya dan tanpa udara, kematian itu sudah di depan mata.

Aku tak menyalahkanmu. Lagi-lagi aku percaya bahwa ini hanya soal perbedaan cara pandang mengenai cinta. Barangkali, sifatmu yang serba mengatur itu memang caramu mencintai seseorang. Sedangkan aku, aku tak bisa menghidupi cinta yang serba mengekang. Aku menginginkan sebuah cinta yang membebaskan. Aku butuh ruang untuk bernapas, bergerak, berkembang, dan bahkan mencintai. Tak jadi soal bila kita berbeda pandangan. Tapi kuputuskan untuk berhenti di sini, dan mari, kita coba titi jalan kita sendiri-sendiri. Karena saat ini, aku memilih untuk lebih mencintai diriku sendiri.

Sampai jumpa lagi.