Nanti kamu nyari pasangan yang kayak gimana?

Yang kayak Papaku…

Ketika orang-orang bertanya kepada saya tentang sosok laki-laki idaman versi saya, maka saya akan menjawab – laki-laki itu harus seperti Ayah saya. Hmm… tidak mesti harus sih, tapi minimal mirip. Sosok laki-laki yang selama ini membuat saya bangga untuk menyebut namanya di dalam doa. Sosok laki-laki yang sekarang ini tidak bisa lagi saya temui lagi, hingga membuat saya rindu sampai kadang suka terbangun dalam keadaan menangis bila memimpikannya.

Saya merasa bahagia, meski Ayah hidup tidak lama – dia selalu menemani saya ketika masih hidup di dunia.

Bermain gitar bersama ayah via themetapicture.com

Ayah saya mungkin bukan Ayah yang serba tahu akan kebutuhan anak-anaknya, termasuk saya. Dia tidak pernah ikut campur masalah sekolah, bagaimana saya belajar, maupun apa yang saya makan setiap harinya.

Advertisement

Namun, dia selalu menjadi sosok yang hadir saat saya membutuhkannya. Misalnya, Ayah selalu siap di belakang saat saya pertama kali belajar naik sepeda.

Ayo, kamu pasti bisa. Jangan takut jatuh…

Beliau terus menyemangati saya, meskipun pada akhirnya saya jatuh juga dan ada luka yang membekas di salah satu lutut dan membuat saya meringis kesakitan. Bukannya membantu, dia malah menasehati saya untuk tidak menangis, karena dengan terjatuh saya menjadi tahu caranya mengayuh yang benar.

Waktu saya kecil, Ayah selalu berusaha untuk menuruti semua kemauan dan kecintaan saya terhadap buku-buku, mainan, dan binatang meski saya tidak pernah tahu apa yang dipikirkannya saat membelikan saya sesuatu. Apa beliau diam-diam menghitung jumlah uangnya di dalam dompet?

Setelah dewasa, hubungan kami sempat merenggang. Ayah sibuk pergi ke luar kota, sementara saya disibukkan oleh tugas-tugas sekolah yang menyita waktu bermain. Namun, ketika bertemu, kami selalu menyempatkan untuk punya waktu bersama seperti jalan-jalan ke Mall, atau hanya sekadar duduk di ruang keluarga sambil menonton TV dan sesekali berkomentar tentang berita yang sedang ditayangkan.

Saya memiliki hubungan yang hebat dengan Ayah. Jadi saya kira, saya akan mencari pasangan yang memiliki beberapa sifat baik sepertinya.

Nanti saya akan menemukan sosok penggantimu, Yah via www.huffingtonpost.com

Ayah saya mungkin bukan wujud ayah yang sempurna.

Ada masa-masanya beliau tidak memahami apa yang terjadi dengan anak perempuannya, seperti ketika saya jatuh cinta maupun patah hati oleh laki-laki lain.

Namun, Ayah selalu peduli dan selalu menyediakan bahu ketika saya ingin mencuri perhatiannya. Beliau memang tidak suka memeluk saya setiap hari, atau menunjukkan rasa sayangnya dengan kata-kata pujian seperti ayah dari teman-teman yang saya kenal, tapi Ayah selalu punya cara lain untuk menunjukkan rasa sayangnya yang tak habis.

Pada saat beliau tidak ada, saya merasa sangat kehilangan figurnya. Saya pun sempat bertanya-tanya, ‘Apakah saya akan menemukan laki-laki lain dengan potret seperti Ayah?’

Semoga saya bisa menemukan laki-laki seperti itu, yang bisa memperlakukan saya seperti yang pernah Ayah saya lakukan.

Ternyata saya tidak sendiri. Memang ada sebuah penelitian yang mengamini hal ini.

Anak perempuan dan ayah via www.teenlife.com

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim psikolog dari Universitas Durham dan lembaga Polandia mengungkapkan bahwa perempuan yang menikmati hubungan masa anak-anak yang baik dengan ayah mereka, lebih mungkin untuk memilih pasangan yang menyerupai perawakan seperti ayahnya.

Penelitian itu bisa kamu baca di sini. Dalam penelitian tersebut, didapatkan bahwa bentuk wajah sang ayah ternyata berhubungan langsung dengan cara anak perempuannya dalam memilih wajah pasangan.

Tidak semua anak seberuntung saya. Di antaranya, justru memilih laki-laki yang tidak mirip dengan ayah mereka.

Ayah adalah cinta pertama yang sebenarnya via www.fptmemo.com

Sebaliknya, tim dari Universitas Durham juga mengungkapkan bahwa perempuan yang memiliki hubungan negatif atau kurang positif terhadap si ayah, justru tidak tertarik pada pria yang tampak seperti ayah mereka.

Misalnya, sosok ayah yang dingin, kaku, terlalu banyak bekerja, terlalu sibuk, maka akan memengaruhi seperti apa anak perempuan mereka akan berkencan nantinya.

Begitupun yang dialami oleh beberapa orang teman yang saya kenal. Dalam memilih pasangan mereka cenderung memilih laki-laki yang jauh berbeda ketimbang ayahnya. Walaupun mereka sendiri tidak tahu sebabnya.

Memang, setiap anak perempuan berhak mencintai laki-laki yang membuatnya bahagia, terlepas apakah sosok itu mirip atau tidak dengan ayah mereka. Namun, ayah adalah cinta pertama yang dimiliki oleh anak perempuan dan tidak akan terlupakan begitu saja. Ayah juga tidak akan tergantikan oleh apapun dan siapapun. 🙂