Ada saat hubungan mencapai tahap kedewasaan. Saat dimana pertemuan tak bisa lagi rutin dilakukan. Ada masa kita saling menyibukkan diri, demi mimpi yang menunggu untuk digapai. Namun, aku bukan tanpa alasan melakukan hal tersebut. Mengejar mimpi tak hanya­ sekedar untuk mengejar kepuasan pribadi, tapi juga jadi salah satu upaya untuk memantaskan diri.

Suatu saat nanti, ketika aku siap menghabiskan sisa waktuku bersamamu, aku ingin tak ada lagi ganjalan mengenai upaya untuk mengejar angan. Ketika impian sudah di tangan, maka kita berdua bisa fokus dalam membangun masa depan. Membangun masa depan bersamamu bukan berarti aku harus melepaskan semua hal yang telah aku bangun sebelum bersamamu, namun aku akan belajar untuk lebih menerima dan berkompromi. Sehingga ketika semua mimpi pribadi telah tuntas, aku harap kita berdua pun telah sama-sama pantas. Karena untuk bersanding bersamamu, aku akan berikan kualitas diri terbaik dari diriku.

Advertisement

Maka izinkan aku memantaskan diri terlebih dahulu, sebelum kamu ucapkan janji sehidup semati bersamaku.

 

Jalan kita bersama memang tak pernah pintas. Tapi bukankah ini cara kita untuk membuat masing-masing mimpi jadi tuntas?

tuntaskan mimpi kita via www.shutterstock.com

Aku tahu, jalan kita memang tak pernah mudah. Jalan yang kita lalui terasa panjang, dimana banyak juga persimpangan yang terkadang membuat kita menjadi ragu. Tapi keraguan itu seketika hilang, ketika aku membayangkan masa depan bersamamu. Kalau kamu bertanya, aku sudah tak sabar rasanya berada di sisimu saat aku membuka mata. Atau di akhir hari, melakukan pillow talk untuk kita sekedar saling bercerita tentang hari yang berat yang baru saja kita lalui. Semuanya terasa bermakna jika itu dilakukan bersamamu.

Advertisement

Namun kini aku yakin, beratnya jalan kita agar bisa bersatu nantinya justru akan menguatkan ikatan kita. Aku sadar, untuk mendapatkan sesuatu yang indah harus ada perjuangan yang tak kalah tangguh. Karena jika kamu tidak semengesankan itu, akan tak akan berjuang mati-matian segini beratnya.

Saat ini, biarkan waktu berjalan terasa lambat hanya karena kita sedang tak bisa memberi perhatian setiap saat. Namun aku yakin, dan kuharap kamu juga, ini tak akan lama. Ketika masing-masing mimpi telah tuntas, aku yakin itulah setepat-tepatnya waktu kita bisa bersama.

Bersamamu memang selalu menentramkan hati. Itulah mengapa, untuk bersanding denganmu biarkan aku memperbaiki diri.

shutterstock_389520181

biarkan aku memperbaiki diri via www.shutterstock.com

Kamu memang tak pernah menawarkan kemewahan. Kamu bahkan seringkali membiarkan aku kesal hanya karena tak semua keinginanku bisa kamu wujudkan. Meski aku kesal, tapi jauh di lubuk hati aku paham bahwa ini cara terbaikmu untuk menyayangiku. Agar aku tak menjadi orang yang egois. Berkali-berkali membuatku kesal, namun berkali-kali lipat pula rasa nyaman bersamamu muncul. Hingga akhirnya aku tak mau sedikitpun bergeming dari sisimu.

Jika kamu telah mati-matian memberikan kenyamanan untukku, itulah mengapa kini aku berupaya mati-matian juga untuk memantaskan diri agar kita layak untuk saling memiliki. Semoga tak hanya kamu saja yang bisa memberikan kenyamanan untukku, tapi juga sebaliknya. Aku bisa memberikanmu kenyamanan yang sama.

Kadang aku masih saja egois. Namun upayaku untuk memantaskan diri, membuatku paham artinya berbagi.

maaf kalau aku masih egois

maaf kalau aku masih egois via www.pinterest.com

Upaya ini memang tak pernah mudah. Sebagai gadis yang terbiasa melakukan segala halnya sendiri, aku pun terbiasa hanya memikirkan diriku sendiri. Sebelum bersamamu, aku merasa tak ada satu pun orang yang berhak untuk mengatur hidupku. Semua keputusan yang aku ambil, adalah mutlak demi kepentingan diriku.

Tapi entah apa yang terjadi. Ketika kita bertemu, sontak aku paham artinya berbagi dan berkompromi. Aku kini mengerti bahwa merangkai masa depan tak cuma soal keinginan pribadi, namun bagaimana aku harus berbagi dan berkompromi.

Tak perlu tergesa-gesa untuk bisa bersama selamanya. Ini bukan soal kapan, tapi soal apa saja yang sudah kita persiapkan.

ini soal persiapan

ini soal persiapan via dylandsara.com

Tak perlu terburu-buru. Pertanyaan kapan yang sudah mulai sering kita dapat, tak seharusnya menjadi patokan. Ketika nantinya kita bersanding di pelaminan, itu benar-benar karena keputusan kita bersama. Bukan karena tuntutan dari pertanyaan kapan. Banyak yang menasehati kita untuk segera menyegerakan. Namun bukankan kesiapan mental cuma kita berdua yang tahu?

Alih-alih memusingkan soal pertanyaan kapan, lebih baik aku dan kamu melakukan persiapan yang matang. Kita menikah untuk diri kita, bukan untuk orang lain yang selalu bertanya kapan.

Ketika tiba saatnya nanti, kuharap aku dan kamu punya keyakinan yang sama. Kita bukan dua orang yang saling melengkapi, tapi dua orang tangguh yang memilih bersama.

kita dua orang tangguh yang memilih bersama

kita dua orang tangguh yang memilih bersama via www.shutterstock.com

Karena ketika tiba saatnya nanti, aku dan kamu harus punya keyakinan yang sama. Kalau kamu tahu, aku tak pernah sepakat dengan pernyataan yang mengatakan dua orang yang menikah adalah dua orang yang saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak, aku yakin kamu adalah pribadi yang sangat tangguh. Aku tahu betul, perjuanganmu untuk membangun masa depan kita tak pernah mudah. Sedangkan aku, jika aku tak cukup tangguh aku tak akan mampu menunggumu dan bertahan pada jarak hingga detik ini.

Sudah bisa kamu bayangkan, akan setangguh apa rumah tangga kita nanti? Jika dua orang tangguh memilih untuk bersama 🙂

 

Di akhir hari, aku akhirnya sadar bahwa cinta saja tak cukup dalam hubungan. Harus ada logika yang membuat hubungan ini terus berjalan.

cinta dan logika yang membuat hubungan kita berjalan

cinta dan logika yang membuat hubungan kita berjalan via www.shutterstock.com

Aku dan kamu bisa bersama memang awalnya karena cinta. Tapi apakah cukup dengan cinta jika berbulan-bulan kita harus menahan rindu karena terpisahkan oleh jarak. Apakah juga karena cinta jika kita masih terus bertahan walau banyak cobaan datang bertubi?

Di akhir hari, aku mengerti bahwa yang kita jalani selama ini tak cukup hanya cinta. Disana juga telah ada komitmen yang mengakar begitu kuatnya. Logika pun membuat hubungan kita bisa terus berjalan. Kita jelas saling cinta, namun itu tak akan pernah membuat kita kehilangan logika.

Maafkan aku jika meminta lebih banyak waktu untuk memperbaiki diri. Sebagai calon istri, aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuk bisa bersanding denganmu. Terima kasih telah memberiku kesempatan agar aku bisa memantaskan diri sedikit lebih lama lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya