Berkali-kali kau mematahkan hatiku dengan sikapmu yang acuh nyatanya tak cukup. Justru sesering itu pula aku merangkai kembali hatiku yang entah kenapa semakin mencintaimu. Angan-angan yang selalu aku harap menjadi kenyataan, membuatku yakin bahwa suatu saat nanti kisah kita akan berakhir dengan kebahagiaan. Jadi biarlah sekarang aku merelakan perasaanku dinomorduakan. Asal kamu kelak mau menjadikanku kepentinganmu nomor satu. Menjadikan “kita” yang utama, maksudku.

Tapi jika terus begini, terus menjadi yang merelakan, ternyata lelah juga, sayang. Usahaku untuk membuat hatimu di sisiku, ternyata tak membuahkan hasil. Langkahku mulai berat dan aku tahu harus mengadu pada siapa.

Kemarin aku berbisik pada Tuhan, jika kamu memang jodohku, maka kuatkanlah hatiku. Jika tidak, tunjukkan lebih cepat, dan Tuhan mendengarku

Tuhan mendengar doaku via www.pexels.com

Advertisement

Aku selalu percaya denganmu, meski mungkin banyak janji yang tak pernah kau buktikan. Aku meyakinkan hatiku, bahwa kamu lah yang akan menjadi ayah dari anak-anakku, menjadi pendamping hidupku hingga nanti maut memisahkan. Aku memberikan pembenaran, bahwa ini hanya menunggu waktu saja, saat aku tak merasa berjuang sendirian. Tahun demi tahun kita jalani, aku memilih untuk mengenang hal-hal bahagia denganmu. Meski diam-diam rasa kecewa yang pernah aku rasa berkumpul dan memutuskan untuk muncul bersamaan.

Kau tahu bagaimana rasanya hatiku saat tahu dia diam-diam telah kembali ke kehidupanmu? Aku benar-benar hancur, hingga berharap bangun lebih cepat

tak bisa ku rangkai lagi via www.pexels.com

Entah kenapa perjumpaan kali ini membuatku ingin tahu tentang apa yang selama ini kau simpan. Setiap kita bertemu aku perhatikan, kamu selalu sibuk dengan percakapanmu lewat handphone dibanding dengan percakapan kita. Aku hanya pernah sekali bertanya, kamu bilang itu teman biasa. Aku tak pernah merasakan kamu sebahagia itu membalas pesanku. Bahkan sering kamu abaikan. Hingga akhirnya, ketika aku membaca percakapan yang terlihat seru itu, aku justru berharap tak pernah melihat itu.

Ya, melihat seseorang yang juga kau panggil sayang. Kepada dia yang kau ucapkan selamat malam dan mimpi indah. Terjawab sudah kemana ucapan-ucapan itu pergi. Karena sudah lama kita tak menutup pembicaraan sebelum tidur seperti itu. Dengan tanganku yang gemetar, aku masih berharap bahwa apa yang aku saksikan adalah mimpi. Dan aku ingin bangun lebih cepat dari mimpi yang terlalu menyakitkan ini.

Aku kesal dengan diriku yang terlalu memperjuangkanmu, sehingga tak ada sedikit pun kesempatan untukmu memperjuangkanku

kesal pada diriku sendiri

Advertisement

Bagaimana pun hancurnya hatiku saat tahu ada orang lain yang kau perjuangkan diam-diam, aku justru lebih hancur karena diriku sendiri. Mengharap terlalu tinggi pada hubungan ini. Berharap suatu saat kau akan mampu menghapus beratnya perjuanganku.

Kenapa harus saat ini aku menyesal, kenapa tak dari dulu saja aku membatasi harapanku dan pengorbananku. Kenapa dia yang harus kau perjuangkan? Kenapa bukan aku? Lagi-lagi aku menyalahkan hatiku sendiri, kenapa menjadi pihak yang terlalu berjuang, sehingga ia tak punya celah untuk memperjuangkanku. Dan apa yang aku korbankan selama ini, ternyata malah dinikmati oleh orang lain, bukan diriku sendiri.

Hatiku yang masih membantah kenyataan, memberanikan diri untuk minta kejelasan pada dia yang kau panggil sayang. Ternyata tak hanya aku yang mencintaimu

bukan aku saja via www.pexels.com

Aku lebih memilih untuk menghubunginya dengan baik-baik. Berharap jawaban yang keluar dari mulutnya adalah “kami hanya teman biasa, tidak lebih”, meskipun sangat jarang pertemanan antara laki-laki dan perempuan dibubuhi dengan panggilan sayang. Aku masih mencoba mengecoh hatiku dengan berpikir bahwa itu bukanlah apa-apa. Tapi apa yang dia sampaikan justru apa yang aku takutkan. Aku hancur untuk ke sekian kalinya. Bagaimana mungkin hatiku akan baik-baik saja ketika aku tahu bahwa dia juga mencintaimu? Bagaimana mungkin aku yang mati-matian mengusahakanmu, tapi malah dia yang kau perjuangkan?

Aku bukan menyerah, hanya saja mengalah. Aku benar-benar lelah jika harus memperjuangkanmu yang nyatanya bisa saja kepadaku

aku memilih untuk mengalah via www.pexels.com

Dibandingkan dengan kekecewaanku terhadapmu, aku lebih kecewa dengan diriku sendiri. Terlalu mengikhlaskan diri untuk menjadi orang yang paling berkorban, yang paling berjuang mati-matian untuk hubungan ini. Mengapa tak memilih menjadi orang yang mencintai secukupnya, sehingga tak perlu ada luka yang semenganga ini. Tak ada lagi rasanya yang harus aku perjuangkan, meski kau ucapkn bekali-kali kata menyesal. Aku lah yang menyesal, mencintaimu terlalu dalam.

Aku bukan menyerah sayangku, hanya saja mengalah. Aku mengalah dengan kenyataan bahwa ada orang lain yang juga mencintaimu. Mungkin saja ia bisa menjagamu lebih daripada aku. Mungkin saja ia bisa berkorban lebih dari apa yang selama ini aku berikan.

Hari ini tentu saja aku masih marah. Mengumpat kenyataan dan takdir. Kenapa Tuhan membiarkanku berkorban sejauh ini. Tapi tak perlu khawatir, jika sudah saatnya tiba, mungkin aku akan berterima kasih pada Tuhan, bahwa aku harus melepasmu sekarang. Kekasihku, besok aku akan berhenti mencintaimu dan mengikhlaskan semua pengorbananku. Dan untukmu, orang yang dicintai oleh kekasihku diam-diam, tak perlu lagi menjadi yang kedua. Aku sudah melepaskannya untukmu :’)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya