Orang bilang cinta akan membuat kita mengajukan harapan-harapan baik. Bahkan meski hati pernah tersakiti sampai remuk dan enggan melirik. Ungkapan klise satu ini harus diakui kini ada benarnya. Sebab sekarang diam-diam saya pun mengajukan harapan yang sama.

Semoga cukup saya saja yang sempat merasa bahwa dunia tidak adil perputarannya. Bahwa sesekali semesta bisa kejam sekali menjadikan kita pesakitan yang kehilangan daya.

Advertisement

Kini sudah terang — bahwa kamu memang memilihnya.

Namun saya berharap kamu tak harus membutuhkannya dalam takaran yang sama. Seperti dulu sempat saya jadikan kamu kebutuhan paling mendasar dalam hidup saya. Biar, saya saja yang sempat merasa….

Orang ini jelas berbeda. Semoga kamu baik-baik mencintainya

Orang ini jelas berbeda. Semoga kamu baik-baik mencintainya via storyboardwedding.com

Dia jelas berbeda. Saat kelak dia salah menambahkan cabe dalam panganan kamu tak akan menggerutu berkepanjangan. Alih-alih mengomelinya, kamu malah menganggap kesalahannya itu menggemaskan. Lalu menghujaninya dengan peluk dan ciuman.

Advertisement

Dia memang mampu mengambil hatimu dengan cara yang tak mungkin bisa saya lakukan sebelumnya. Ada hal unik dalam dirinya yang membuatmu bisa merasa sudah menemukan segalanya. Periukmu yang dulu selalu gagal saya isi penuh kini hampir tumpah karena dia. Kehadirannya memberimu hal-hal baru yang membuka mata. Sementara dulu bersama saya kamu selalu bilang kita ini lurus sekali jalannya.

Tidak apa. Semoga kali ini kamu baik-baik mencintainya.

Satu saja pesan saya. Jangan pernah mencintainya sedalam perasaan saya

Satu saja pesan saya. Jangan pernah mencintainya sedalam perasaan saya via storyboardwedding.com

Bukan cuma sekali saya bertanya, “Dulu cinta macam apa yang sempat kita punya?” Kamu sempat membuat saya merasa seperti balon yang kehilangan pengaitnya. Atau seperti layang-layang yang dibiarkan terbang begitu saja. Sementara untuknya, lepas dari genggaman sedikit saja membuatmu tak keberatan berpeluh mengejarnya. Sampai sekarang saya bahkan tidak (pernah berminat) tahu namanya. Namun matamu mengungkapkan lebih banyak cerita. Jelas, kamu lebih dalam mencintainya.

Satu saja pesan saya. Jangan pernah mencintainya sedalam perasaan saya.

Jangan biarkan dia mengambil kendali. Jangan menjadikan dirimu pembaca setia bagi cerita yang sudah jelas tidak happy ending akhirnya. Tarik kenop pintu lalu bergegas pergi sebelum dia mulai merasa bisa memperlakukanmu sebagai opsi. Sebab kamu layak untuk sesuatu yang lebih besar dari ini.

Sssttt….jangan salah sangka dulu. Sama sekali saya tidak membencimu. Hanya saja sebagai seseorang yang pernah jatuh hati sedalam itu, kini saya ingin berbagi sedikit lesson learnt denganmu.

Jangan mencintainya sedalam itu. Sama persis seperti perlakuan yang kamu berikan pada saya dulu. Kamu tidak pernah tahu kapan dia berhenti mencintaimu. Jangan terburu-buru terjerembab sedalam itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya