Awalnya kamu dan dia terasa sempurna. Tak ada cela. Kamu dan dia tak saling melengkapi, namun lebih dari itu, kalian memerankan peran kalian masing-masing dengan baik. Sehingga tak jarang membuat banyak orang berdecak kagum melihat kekompakan kalian sebagai pasangan.

Lalu tanpa banyak basa-basi, dia tak ragu untuk memintamu menjadi pendamping hidup, di sisa umurnya. Bahagia sontak membuncah di dada. Hingga rasanya ingin meledak, seperti ada letupan kembang api di dada. Satu kata untuk menggambarkan momen itu : bahagia.

Tapi sayangnya kebahagiaan yang baru saja kamu rengkuh tak berlangsung lama. Tanpa kata, dia pergi begitu saja. Melupakan banyak janji yang dia buat sendiri. Seakan lupa bahwa dia pernah menawarkan kebahagiaan kepadamu untuk hidup bersama. Dan kamu pun terlanjur menaruh harapan kepadanya. Lalu kini harapan itu hanya bagaikan balon yang kehabisan gas di udara. Terhempas dan hilang begitu saja.

1. Pernah satu waktu, aku adalah segalanya bagimu. Tapi aku lupa, bahwa waktu tak berhenti, dan kau pun berlalu

2. Kau beri aku harapan, kau beri aku janji. Lalu kau pergi meninggalkan, sebelum aku sempat seutuhnya memiliki

Memilikimu seutuhnya pun aku tak sempat via www.pexels.com

3. Mengapa kesedihan ini justru mengingatkanku pada hal-hal manis tentang kita dulu?

4. Jika kehidupan adalah sebuah film yang diputar, maka kamu adalah skenario terburuk dalam waktuku

5. Mungkin karena kau matahariku dan aku adalah bulan, yang pada akhirnya tak pernah bersatu karena senja

6. Dan setelah semuanya berlalu, kau pergi begitu saja seakan kita tak pernah saling tahu

7. Bagaimana bisa cinta yang sudah aku tumbuhkan di hatimu menjadi tempat yang keliru?

8. Aku lupa, jika melerai kesedihanku tak bisa diselesaikan dengan rumus matematika, yang semudah satu tambah satu sama dengan dua

9. Aku tak bisa menjadi bunga yang gugur tanpa membenci angin

10. Aku adalah sesaat yang kau janjikan untuk selamanya, yang kau janjikan terpenting tapi berujung sekadarnya dan yang kau pastikan tapi berakhir dengan ketidakmungkinan

Dan disinilah kamu sekarang. Mencoba berdiri lagi meski rasanya menggerakkan kaki saja tak mampu. Dan yang terberat kamu mencoba percaya lagi, saatnya satu-satunya harapan telah pergi.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!