Artikel kali ini terinspirasi oleh @elhainun_situmeang, pemenang hari ke-14 #30HariTerimaKasih Challenge di Instagram. Hayo, sudahkah kamu bersyukur hari ini?

“Kakak mau yang mana? Pilih aja… Nanti Mama yang bayar.”

Rumah-rumahan dari plastik itu “menggodaku” dari atas meja, menunggu tangan mungilku menyentuh permukaan warna-warninya. Aku menggigit jari, berusaha menahan diri. Hei, pikirku. Kasihan Mama jika aku minta dibelikan barang semahal ini.

Advertisement

“Kakak mau Polly Pocket yang ini? Udah, ambil aja. Gak apa-apa!”

Sedari tadi menahan hati, akhirnya aku takluk juga. Pelan-pelan, kusentuhkan jari ke atap pink-nya — kumainkan orang-orangan plastik di dalamnya.

“Lucu ya? Taruh aja yuk di troli. Kita ke kasir.”

Advertisement

Itulah Mama, sejak dulu hingga aku dewasa. Hal pertama dalam pikirannya begitu sederhana: ia hanya ingin membuat anaknya bahagia.

Aku tak besar di keluarga yang punya pohon uang. Orangtuaku nyaris remuk karena mesti terus membanting tulang

Sebagai anak, aku tahu makna kata “berjuang” dan “berkorban” sebelum bisa berhitung 3 x 3. Orangtuakulah yang memperkenalkannya. Mereka ingin yang terbaik untuk kami semua. Pendidikan yang terjamin lewat sekolah favorit di kota. Makanan yang melimpah dan bisa kami ambil kapan saja di atas meja. Pakaian yang tak cepat sobek, awet hingga bertahun-tahun lamanya. Dan mereka tahu: butuh kerja ekstra untuk bisa membeli itu semua.

Aku melihat Papa mengorbankan waktu luangnya untuk mengambil pekerjaan tambahan. Mama pun harus bekerja pula demi membantu pemasukan — ia bukan wanita yang bisa tinggal diam melihat suaminya membanting tulang.

Pernah dengan polosnya aku bertanya: “Kenapa sih Papa dan Mama harus kerja?”

Mama tersenyum pulas: “Supaya bisa bilang ‘iya’ tiap kamu minta.”

Kini aku sudah dewasa. Sudah saatnya berhenti meminta dan mulai berusaha — membalas budi orangtua

Aku yang sekarang ini, Ma, bukan lagi gadis kecil yang sibuk bermain rumah-rumahan. Aku sudah mengerti — kebanyakan atap rumah tak berwarna pink cerah, orang-orang tak terbuat dari plastik, dan pasangan yang ada di rumah itu bisa saja bertengkar hebat dan memilih bercerai. Kini aku sudah dewasa. Sudah tahu betapa beratnya realita.

Walau dibesarkan penuh kasih sayang, aku tak tumbuh menjadi manja. Buktinya, aku tak pernah lagi meminta uang dari Papa ataupun Mama. Diriku sudah mampu berdikari. Mungkin memang gajiku belum seberapa, namun diriku tak perlu merepotkan kalian lagi.

Umurku sudah bisa dibilang “tua”. Sudah saatnya aku berhenti meminta, dan mulai berusaha membahagiakan orangtua. Begini-begini, aku sebenarnya sering memikirkan Papa dan Mama. Mengapa padaku kalian tak pernah meminta? Jika aku memberikan sesuatu, apakah kalian akan menyukainya? Mungkinkah Papa atau Mama menolaknya dan berkata, “Sudah, simpan buat kamu saja.”?

Ah, tolong, saat aku memberikan sesuatu, janganlah kalian menolaknya. Karena sama seperti kalian dulu — aku hanya ingin membuat kalian bahagia.

“Pilih yang mana aja, Ma. Biar aku yang membayarnya.”

Seperti yang kusebutkan tadi, gajiku saat ini memang masih belum seberapa. Tapi aku sedang meniti tangga karier yang tak main-main — dan aku berlari agar bisa sampai di puncaknya dengan segera. Bukan karena aku begitu haus pada dunia. Aku hanya ingin bisa berkata seperti Mama dulu, sewaktu mataku terpancang dan berbinar melihat rumah-rumahan di mall.

“Mama mau yang mana? Pilih aja… Nanti aku yang bayar.”

Ah, betapa bahagianya bisa membelikanmu sesuatu. Bahkan walau aku tahu, itu tak akan bisa membayar seluruh hutang budiku padamu.

Bersabarlah sebentar, Mama dan Papaku sayang. Suatu hari di masa depan nanti, kalimat itu akan fasih kuucapkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya