Berbeda dengan culture shock, reverse culture shock adalah perasaan emosional terkaget-kaget dan merasa asing sepulangnya ke tanah air. Reverse culture shock juga bisa diartikan sebagai keadaan dimana kamu merindukan segala kebiasaan, budaya, dan kenyamanan selama kamu tinggal di luar negeri.

Perasaan ini biasanya dialami oleh anak diplomat atau yang pernah diajak oleh orang tuanya tinggal di negara maju atau barat, ataupun kalian yang pernah mencicipi berkuliah atau bekerja di luar Indonesia lebih dari satu tahun.

1. Menyebrang jalan raya itu ternyata sulit

"Gimana ini nyebrangnya?"

"Gimana ini nyebrangnya?" via https://www.google.com

Setelah bertahun-tahun terbiasa dengan budaya tertib berlalu lintas, jujur kamu pernah merasa agak ketakutan dan gemetaran ketika ingin menyebrang, apalagi tidak ada jembatan penyebrangan di sekitarmu. Hal ini terjadi karena pengendara mobil dan motor akan terus menggas kendaraanya.

Kontras dengan keadaan jalanan di luar, pengemudi kendaraan ataupun kamu yang menyetir mobil akan berhenti dengan sendirinya sebelum zebra cross atau lampu merah. Pasti di antara kamu yang baru balik ke Indonesia, pernah diklakson oleh sesama pengguna jalan di belakangmu ketika memberhentikan mobilmu di depan zebra cross.

2. Angkutan umum kok pada berhenti di tengah jalan gini?

Angkutan umum yang menunggu penumpang

Angkutan umum yang menunggu penumpang via https://www.google.com

Advertisement

Kamu yang mengendarai mobil juga dihadapkan pada angkutan umum (non-Transjakarta) atau disebut angkot yang menunggu penumpang sembarangan. Selain itu, mereka juga menaikkan dan menurunkan penumpang tidak pada tempatnya.

Hal serupa pernah kamu rasakan ketika naik angkot yaitu kebingungan ketika supir menurunkanmu di tengah jalan raya. Menghadapi kelalaian-kelalaian seperti itu, kamu pun harus bersabar.

Di negara sebelumnya, angkutan umum bus akan selalu berhenti di halte atau bus stop.

3. Acara atau meeting-nya, kok belum mulai juga?

Bilang udah otw, padahal masih siap-siap

Bilang udah otw, padahal masih siap-siap via http://exploregram.com

Advertisement

Kamu yang sudah terbiasa tepat waktu dan bahkan sudah hadir sebelum acara dimulai, akan merasa bosan menunggu acara atau meeting yang telat. Menurutmu, kalau telat tetap telat, walaupun hanya 15 menit.

Meskipun banyak alasan yang diberikan yang paling klise yaitu macet, kamu menganggap orang yang telat kurang bisa menghargai waktu dan orang lain.

4. Orang sini, kemana-mana sukanya rame-rame

Acara kumpul-kumpul keluarga

Acara kumpul-kumpul keluarga via https://www.google.com

Tiba-tiba temanmu bilang, "Eh temenin gw yuk ke WC." Kamu yang awalnya agak kaget, lama-lama terbiasa dan mengerti bahwa mungkin wanita Indonesia kemana-mana sukanya beramai-ramai. Kamu pun juga ikut senang karena bisa foto selfie rame-rame sambil ngaca.

Itulah budaya Indonesia yang komunal, kemanapun mereka pergi seperti untuk liburan akan selalu bersama teman, saudara atau komunitasnya. Tidak heran, apabila orang sini suka berkumpul untuk pertemuan keluarga atau arisan bulanan.

Berbeda dengan budaya orang luar, dimana mereka terbiasa pergi, ngopi, atau makan sendirian.

5. Satu keluarga berkumpul dalam satu rumah

Kakek, nenek, anak, menantu, cucu; dalam satu rumah

Kakek, nenek, anak, menantu, cucu; dalam satu rumah via https://www.google.com

Sesuai dengan budaya Indonesia yang komunal, apabila berkunjung ke teman atau saudara, masih bisa kamu temui di mana kakek, nenek, anak, menantu, dan cucu; berkumpul dalam satu rumah. Keadaan tersebut bisa terjadi biasanya karena empat alasan utama.

Pertama, orang tua yang belum siap melepas anaknya mandiri, memang ada sebagian budaya orang sini yang tidak mau melepas anak perempuannya meskipun sudah menikah. Alasan kedua, anak yang belum siap pisah dari orang tuanya.

Ketiga, orang tua yang mengalami sakit keras atau sudah tinggal sendiri, membutuhkan anak-anak di sisinya. Keempat, adanya prinsip "mangan ora mangan sing pentig kumpul".

Berbeda jauh dengan budaya orang luar, orang-orang di sana terbiasa hidup sendiri, walaupun sudah lanjut usia atau dengan binatang peliharaanya saja karena sudah membiasakan dan mengajarkan anak-anak mereka untuk mandiri dan tidak lagi tinggal di rumah sejak berumur 18 tahun.

6. Oh ya, ke mal lagi?

Mal-mal yang berjamuran di kota-kota besar Indonesia

Mal-mal yang berjamuran di kota-kota besar Indonesia via https://www.google.com

Perasaan itulah yang muncul ketika temanmu minta untuk menemaninya jalan-jalan ke mal pada setiap weekend . Dengan banyaknya dan beragamnya mal di kota-kota besar Indonesia terutama Jakarta, menjadikan kebiasaaan orang sini berkeliling dari satu mal ke mal lainnya. Kamu pun harus menyiapkan budget yang tidak sedikit.

Ketika sebelumnya kamu tinggal di luar, kamu sudah terbiasa piknik di taman, pinggir danau, atau pusat kota; sambil membawa bekal makanan untuk diri sendiri dan untuk dibagikan kepada burung-burung dara. Alternatif tempat lainnya adalah museum atau tempat-tempat bersejarah.

7. Undangan yang datang bertubi-tubi setiap minggunya

Undangan-undangan yang ada di rumah

Undangan-undangan yang ada di rumah via https://www.instagram.com

Setiap pekan, kamu akan mendapatkan undangan untuk minggu ini atau beberapa minggu kedepannya. Undangan itu bisa untuk menghadiri pernikahan, sunatan, tunangan, lamaran; entah itu dari teman sekolah atau kuliahmu, kantormu, atau saudaramu.

Kamu pun harus selalu siap dengan pakaian resmi dan menyisihkan uang dalam amplop, yang akan dibawa nanti.

Hal yang berbeda dengan budaya di negara yang kamu tinggali sebelumnya, kamu jarang mendapatkan undangan terutama pernikahan karena mereka terbiasa mengadakan pesta dengan hanya mengundang kerabat-kerabat dekat atau inner circle mereka seperti pada konsep garden party.

8. Suka kasihan melihat pekerja non-formal seperti pedagang keliling di jalanan

Semoga laku semua ya dagangannya

Semoga laku semua ya dagangannya via http://ramahnyaindonesia.blogspot.co.id

Perasaan iba itu akan muncul ketika melihat mereka mengais-ngais rezeki berjalan jauh, sambil membawa sepeda atau gerobak dagangannya. Kamu pun bertanya-tanya dalam hati,"mereka dapat berapa ya per hari?"

Di sini saya mau sharing cerita saya yang pernah merasakan reverse shock culture ketika Sekolah Dasar (SD). Seminggu sekembalinya dari luar, saya menangis tersedu-sedu melihat tukang ayam seorang kakek tua dengan sepedanya berkeliling berjualan di sekitar rumah saya.

Karena saya tidak tega mendengar suaranya ketika berjualan berkata, "ayam-ayam, ayam potong" yang sudah lemah menurut saya, saya pun sangat memohon kepada orang tua saya untuk membeli dagangannya. Orang tua saya mengatakan bahwa wajar di sini kakek-kakek berjualan.

Saya pun tidak menghiraukan perkataan tersebut dan tetap ingin mereka membeli dagangannya. Melihat saya yang belum berhenti menangis, orang tua saya pun sangat kebingungan dan pada akhirnya mau tidak mau membeli satu ekor ayamnya, meskipun tidak butuh.

Berbeda dengan tempat yang kamu tinggali sebelumnya, kamu jarang melihat pekerja non-formal di jalanan karena setiap orang yang tidak bekerja akan mendapatkan tunjangan atau disebut unemployment benefits oleh pemerintah setempat.

Kalaupun mereka mengamen, dilakukan dengan cara yang kreatif seperti dalam satu grup musik aliran tertentu atau seni berakting patung hidup atau a living statue.

9. Apa-apa minta dilayani?

Biarin aja, kan ada mbak-mbaknya yang bersihin

Biarin aja, kan ada mbak-mbaknya yang bersihin via https://envijurnal.blogspot.co.id

Pernahah kamu lihat orang sini di tempat umum, sehabis makan tidak dirapihkan atau dibersihkan. Hal ini terjadi karena mereka terbiasa dengan pola pikir "paling, nanti juga ada yang bersihin." Pola pikir semacam itu terjadi karena orang Indonesia terbiasa dilayani.

Lain halnya dengan keadaan di luar, dimana tenaga kerja yang sedikit jumlahnya, menjadikan mereka terbiasa membersihkan sendiri makanannya ataupun mengisi tangki bensin kendaraanya sendiri

10. Kalau mengobrol suka tanya status atau hal-hal yang sifatnya pribadi

Kok, nanyanya gitu ya?

Kok, nanyanya gitu ya? via https://textgram.id

Di sini, kalau kita diajak ngobrol oleh orang di samping kita yang baru dikenal sekalipun di tempat umum, pasti akan ditanya seperti ,"umurnya berapa mbak?", "sudah nikah atau belum?" atau "sudah punya anak atau belum?"

Lain halnya dengan orang-orang di luar yang lebih suka membicarakan seperti keadaan cuaca ataupun hobi yang disukai. Pertanyaan-pertanyaan seperti umur dan status adalah hal yang tabu dan bersifat sangat privasi bagi mereka.

11. Sejak saat itu, saya tidak pernah main bola lagi

"Cewek kok main bola?"

"Cewek kok main bola?" via https://textgram.id

Saya yang terbiasa main sepak bola dengan teman pria maupun wanita ketika di luar, alangkah malunya dan kagetnya, ketika saya langsung gabung bermain di Indonesia, ada yang meneriaki, "ih kok cewek main bola."

Bukan hanya satu cowok yang meneriaki, melainkan beberapa orang sekaligus. Sejak itu pula, saya pun tidak pernah main sepak bola lagi.

Meskipun terdapat hal-hal yang kurang berkenan, tetap saja Indonesia selalu di hati dan merupakan tempat saya kembali. Yang paling utama adalah tidak ada pemandangan alam di negara manapun di dunia ini yang bisa menandingi keindahan Indonesia.

Selain itu, kuliner yang sangat enak dan beragam, membuat kita semua pasti akan selalu merindukan masakan tanah air kita di manapun kita berada. Tak lupa keramahan dan kebersamaan orang Indonesia yang erat bisa mencegah kita dari rasa kesepian.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya