11 Sikap Menjadi Manusia yang Lebih Baik dengan Istiqomah, Sesi Spesial Bersama BSI Ramadan Fest dan Ustadz Aam Amiruddin

Menuju Kualitas Kesalehan yang Lebih Baik Dari Hari Kemarin dengan Istiqomah

Tak terasa, puasa telah menginjak hari ke-27. Iya, sebentar lagi lebaran dan menandakan kegiatan virtual terbesar yang diadakan oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) akan juga segera berakhir, sebab acara ini terlaksana hingga ramadan 1422H. SoHip sudah sempat ikut menyaksikan dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari pembicara-pembicara hebat dalam Ramadan Fest 2021, 1422H bertajuk “Menebar Manfaat, Meraih Keberkahan” ini, belum?. Kalau belum, tak perlu khawatir, meski akan berakhir masih ada kesempatan 3 hari ke depan untuk mengakses BSI Ramadan Fest. 

Pada hari minggu siang sekitar pukul 13.00 aku mendapatkan kesempaan yang baik untuk mendengarkan, memperhatikan, dan ikut larut dalam pemikiran yang disampaikan oleh Ust. Aam Amiruddin. Beliau menyampaikan mengenai jurus ampuh agar menjadi manusia yang lebih baik setelah ramadan berakhir. Alasan topik ini diambil karena sering kali kaum muslim atau manusia dalam kehidupan sehari-harinya, tidak atau belum istiqomah dalam melakukan suatu pekerjaannya, terlebih ibadah yang khusyuk dilakukan saat ramadan namun tak dilanjutkan setelah ramadan berakhir. 

Sebelum menuju pada topik pembicaraan tersebut, Ust. Aam sempat memberikan pengetahuan yang tak kalah penting mengenai 3 tipe manusia dalam kualitas kesalehan yang dimiliki. Tiga hal tersebut diantaranya: 1. Magbuuh atau mudah terpedaya, adalah mereka yang kualitas kesalehannya sama antara hari ini dengan kemarin, 2. Mal'un atau terpuruk, yakni mereka yang kualitas kesalehannya lebih buruk daripada kemarin dan termasuk orang-orang yang merugi, 3. Marhu'um atau tercerahkan, yaitu orang yang kualitas kesalehannya hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Nah Sohip, dari tiga hal tersebut sudah jelas yang akan lebih jauh dibahas adalah tipe ketiga dari kualitas kesalehan manusia. Mau tahu selengkapnya? Yuk, langsung cari tahu!. 

Advertisement

1. Istiqomah dalam Amal

Photo by Ali Arapoğlu from Pexels

Photo by Ali Arapoğlu from Pexels via https://www.pexels.com

Amal yang dimaksud adalah segala sesuatu yang mencakup rida dari Allah SWT. Kuncinya, menjalani hidup dengan ikhlas. Dicontohkan oleh Ust. Aam dalam dakwahnya salah satu contoh ikhlas yakni saat pandemi ini. Selain kita harus menerimanya dengan kerelaan, Allah SWT memberikan cobaan covid-19 ini juga disadari memberikan kemudahan. Akses literasi digital menjadi lebih mudah disebar dan dijangkau masyarakat seperti halnya saat pertemuan virtual dalam BSI Ramadan Fest ini.

Contoh nyatanya dalam kehidupan sehari-hari mengenai “ikhlas” ini dimaksudkan sebagai menjiwai peran dan sadar akan peran tersebut. Misalkan menjadi ibu, bapak, karyawan yang amanah. Dalam peran dan pekerjaan yang dilakukan, SoHip bukan berarti bekerja takut karena ada supervisi melainkan bekerja semata-mata untuk agama sehingga ikhlas tampak pada SoHip ketika dipuji tak akan sombong, ketika dikritik tak akan mudah putus asa. 

Advertisement

2. Pemahaman dan Cinta

Photo by sherif emad from Pexels

Photo by sherif emad from Pexels via https://www.pexels.com

“Tak kenal maka tak sayang,” sebut Ust. Aam dalam menjelaskan. 

Begitu masuk dalam tahap ini, hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa SoHip tak akan bisa mencintai, kalau SoHip belum bisa memahami. Setelah memahami kemudian mendapatkan cinta maka “Let Love be Your Energy,” sambung Ust. Aam dalam pemaparan lanjutan mengenai tahap kedua ini. 

Contohnya, SoHip akan menjadi dermawan jika sudah mengetahui dan paham mengenai sedekah. Dari hal tersebut kita memberikan cinta SoHip sebagai energi positif bagi orang-orang di sekitar SoHip yang telah SoHip bantu. Ketika SoHip melakukan sesuatu atas dasar pemahaman dan cinta, lingkungan juga mendukung dengan memberikan energi yang baik di sekitar SoHip berada. 

3. Bertahap

Photo by Abdullah Ghatasheh from Pexels

Photo by Abdullah Ghatasheh from Pexels via https://www.pexels.com

Tidak ada cara yang instan untuk mencapai istiqomah dalam berbagai bidang kehidupan. Begitupun dengan berbuat saleh. Tidak ada paksaan untuk harus memaksimalkan suatu pekerjaan tanpa tahu batas “sampai mana SoHip harus berhenti?” atau “sampai mana SoHip mampu melakukan sesuatu?”

Jadi walaupun sedikit demi sedikit amal yang kita lakukan dengan istiqomah akan lebih baik di mata Allah SWT, karena pun SoHip jadi lebih paham akan proses dari yang sedikit demi sedikit tersebut. 

4. Mujahaddah, Kesungguhan

Photo by Idina Risk from Pexels

Photo by Idina Risk from Pexels via https://www.pexels.com

Kesungguhan yang dimaksud adalah saat SoHip melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh hanya untuk mencapai rida Allah SWT. Semisal menjalankan peran orangtua, ayah ataupun ibu, SoHip mampu menemani atau setidaknya memberikan perhatian pada anak SoHip di usia golden age (0-12 tahun) mereka sehingga, dengan kesungguhan tersebut rida yang Allah berikan itu dapat dipetik di kemudian hari pada orang tua yang selalu dihormati oleh anak-anaknya sampai akhir hayatnya. 

5. Sabar Ketika Beramal

Photo by William Fortunato from Pexels

Photo by William Fortunato from Pexels via https://www.pexels.com

Sabar ini juga kunci hidup dimanapun berada. Kalau pada contohnya mengenai ibadah yang tak dapat SoHip lakukan di awal waktu dan harus melawan rasa malas yang timbul tersebut dengan bersabar. Sadarkah SoHip selama ini ketika bermalas-malasan adalah ujian terberat dalam membuat diri menjadi manusia yang penyabar?. 

6. Berjamaah

Photo by Chattrapal (Shitij) Singh from Pexels

Photo by Chattrapal (Shitij) Singh from Pexels via https://www.pexels.com

Apapun yang dilakukan secara bersama-sama akan lebih seru. Bukankah begitu, SoHip?. Selain itu berjamaah di sini lebih condong pada terbentuknya semangat antar kelompok untuk terus istiqomah dan berlomba dalam kebaikan menuju ridaNya.

Jadi Sohip, tak ada salahnya terjun ke kelompok atau komunitas yang memang menurut SoHip memiliki banyak manfaat dan memberikan energi positif dalam memberikan kebaikan terhadap sesama. 

7. Kondisi Lingkungan Saleh

Photo by Ivan Samkov from Pexels

Photo by Ivan Samkov from Pexels via https://www.pexels.com

Selain berjamaah, kondisi lingkungan yang saleh juga menentukan SoHip akan menuju ke tempat seperti apa?. Sebab lingkungan ini yang nantinya memberikan semangat, bahkan harapan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi dengan amal-amal saleh yang tujuannya tentu saja mencari rida dari Allah SWT.

Coba lihat di sekeliling SoHip, apakah dengan mejadi bagian dari suatu lingkungan yang kini SoHip jalani telah mengubah SoHip menjadi pribadi yang saleh? Ayo merenung sebentar, mengevaluasi lingkungan yang membangun diri kita sudah pantas atau belum bagi kita untuk jadi lebih baik dari hari kemarin, SoHip!

8. Jangan Menunda Kesempatan

Photo by Monstera from Pexels

Photo by Monstera from Pexels via https://www.pexels.com

SoHip tak tahu kapan SoHip akan dicabut nyawanya oleh YME. Hal yang pasti SoHip tahu, SoHip hidup dengan terikat oleh waktu. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang datang pada kita merupakan cara untuk perlahan istiqomah menggapai ridhonya.

Oleh karena itu ketika mendapatkan 'kesempatan' dalam segi kehidupan apapun demi menghargai waktu yang telah diberikan kepada SoHip, yang tepat dilakukan adalah menggunakannya segera mungkin untuk mengamalkan kebaikan. 

9. Husnudzon dengan Takdir Allah

Photo by cottonbro from Pexels

Photo by cottonbro from Pexels via https://www.pexels.com

Boleh jadi kamu tak suka akan sesuatu, tapi itulah yang ditakdrkan oleh Allah SWT kepadamu. 

Husnudzon adalah amalan terpuji yang memiliki makna berpikir positif. Selain pada diri sendiri, pada sesama manusia, dengan kehadiran takdir dari Allah SWT mewajibkan SoHip untuk berpikir positif pada takdirNya tersebut. 

10. Introspeksi dan Perbaikan Diri

Photo by Tima Miroshnichenko from Pexels

Photo by Tima Miroshnichenko from Pexels via https://www.pexels.com

Segala sesuatu yang telah kita lakukan selalu membuat kita merenung “oh ternyata kita sudah melakukan banyak hal, dan menghadapi tantangan-tantangan hidup dari mulai yang mudah hingga yang sulit”. Perilaku semacam itu bisa SoHip anggap sebagai proses introspeksi diri yang bisa membawa perbaikan diri ke arah yang lebih baik dalam menghadapi lika-liku kehidupan dalam setiap sendi-sendi kehidupan, tak terkecuali maslaah beribadah dan beramal saleh.

Proses tersebut nantinya akan membawa pikiran SoHip lebih terbuka pada “tidak ada manusia yang sempurna” sehingga membawa kita lebih memahami realita. 

11. Yakini, Apapun Ada Konsekuensinya

Photo by Sora Shimazaki from Pexels

Photo by Sora Shimazaki from Pexels via https://www.pexels.com

Resep terakhir untuk menjadi insan yang lebih baik dalam kualitas kesalehan adalah meyakini bahwa tiap pilihan yang SoHip ambil selalu berdampak. Bahwa apapun kondisi yang sedang SoHip hadapi ada konsekuensinya.

Melalui keyakinan yang SoHip dapat terapkan pada hal tersebut dapat membuat SoHip menjadi insan yang lebih mawas diri dalam menjalani kehidupan, dalam beribadah, sampai beramal saleh. Jangan sampai lupa SoHip! Segala sesuatu yang kalian yakini itu, yang akan bisa membawa SoHip menggapai rida Allah SWT dan membuka kesempatan untuk banyak mengamalkan kebaikan, selain itu keyakinan yang telah SoHip terapkan tersebut bisa menjadi pondasi dari istiqomah yang sedang SoHip lakukan.

SoHip, dengan 11 cara yang disampaikan Ust. Aam Amiruddin di atas, semoga dapat membantu memperbaiki amal saleh yang sudah SoHip lakukan di ramadan ini supaya lebih baik di bulan-bulan yang bukan lagi ramadan ke depan, ya! Yuk! segera memperbaiki yang kurang dan menambah kebaikan, SoHip. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Suka menulis, membaca, berkebun, dan beres-beres.

CLOSE