30 Hari Jelang Dirumahkan, Begini Moral Value yang Bisa Aku Dapatkan

30 Hari Menjelang Berstatus Unemployment

Ingin hati tetap berdiri di sini, namun kondisi tak menghendaki

Rekening tempat kerja terindikasi mulai mengosong, berbarengan dengan project semakin melompong. Akibatnya beberapa kursi terpaksa untuk dikosongkan, demi menambah umur agar kantor tetap berjalan. Indikasi kantor mulai sedikit oleng memang tak terlihat secara langsung, namun beberapa hal serasa jadi isyarat untuk seluruh squad harus angkat pantat dari kursi yang didudukinya.

Perkenalkan saya Evanya, 36 tahun, memiliki pengalaman bekerja di sebuah perusahaan Swasta di Jakarta. Bekerja di Ibu Kota dengan segala hiruk pikuknya, belum lagi bergerak di bidang digital yang perubahan dan distribusi informasi begitu cepat, sehingga menuntut saya pribadi untuk terus berpikir, berpikir, dan terus berpikir agar mampu memberikan yang terbaik bagi perusahaan, clients dan tim.  Cerita ini merupakan sepenggal perjalanan hidup, beberapa tahun lalu saat masih berkutat di depan monitor, ketemu client, dan kerja bareng rekan-rekan.

Advertisement

1. Professional Kental akan Kekeluargaan

Photo by Pexels

Photo by Pexels via https://www.pexels.com

Saya tak bekerja sendirian, secara struktur perusahaan direct report saya kepada Ibu ****, GM (General Manager) selaku atasan sekaligus sosok panutan yang biasa saya panggil “Emak”, tak lain adalah karena kebaikan, bijaksana, dan sosok keibuan pemilik dua buah hati ini.

Meski terlahir sebagai pemilik Shio Tikus, saya pribadi menilai bahwa saya bukanlah seorang otoriter. Malah, saya sendiri kerap mendiskusikan segala hal kepada rekan kerja, tak lain adalah agar bisa memperoleh perspektif dari sisi mereka (rekan kerja). Selain itu, beberapa kondisi saya tetap berpegang teguh bahwa :

Advertisement

Baik Menurut Saya, Belum Tentu Baik Menurut Orang lain

 

Bukan tak tegas dalam pengambilan keputusan atau tak ada ide lalu memanfaatkan pemikiran orang lain, justru dengan melihat POV dari rekan lain, pada akhirnya saya bisa melihat segala sesuatu lebih luas. Kemudian, barulah dari segala perspektif yang masuk kita bisa filter dengan menimbang kebaikan dan resiko yang sudah tentu tetap stick to goal and objective.  Sebagai wanita yang memimpin 14 rekan kerja yang terdiri dari pria dan wanita dari latar belakang dan status berbeda, tentu tak segampang layaknya tertulis sebagai people management tips  yang dengan mudah kita temukan di Internet.

Demi satu tim tetap terjaga keselarasan dan kerjasamanya, tak jarang saya dan rekan-rekan untuk pergi sekadar makan siang bareng (meskipun saya harus merogoh dompet pribadi :D). Selain itu, saya pun membuat perubahan di tim sebelumnya, sebagai contoh kecil ketika salah satu member tim berulang tahun, maka dia lah yang berhak kita traktir. Dengan begitu, ulang tahun bukanlah menjadi hari yang berat karena harus men-traktir teman satu tim. Puji tuhan dan Alhamdulillah, selama 2 tahun saya kerja bareng tim berjalan dengan lancar, tetap bisa memberikan service kepada pihak internal atau pun eksternal (clients).

2. Dear My Team,… Kalian Luar Biasa!

Photo by Pexels

Photo by Pexels via https://www.pexels.com

Predikat pekerja keras rasanya tak cukup disematkan kepada rekan-rekan lama saya, bahkan mereka pun mau dan berani mengorbankan kepentingan pribadi demi project (pekerjaan) berjalan dengan lancar. Wahyu, sosok kepala keluarga yang jalani long distance marriage (LDM) rela tak mudik demi bantu-bantu jagain boot client. Ada pula Tiwi yang rela meninggalkan anak semata wayangnya saat weekend dan menitipkan sang buah hati kepada Mertua demi mengawasi jalannya sebuah activity di sebuah acara.

Semangat Mas Widi yang tetap ngemong anak di rumah sembari mengawasi jalannya shopping online tetap berjalan dengan sangat lancar, bebas bottle neck dan server tetap optimal. Nama lain seperti : Wina, Restu, Aji, Sentot, Dinda, Jon, Safrul, Igo, Saip, dan Zul yang tetap stand by pada porsinya. Lalu ada Mba Inem yang begitu cekatan dan keep fight memperjuangkan uang transport dan konsumsi tim ini. Pergi pagi pulang pagi, kurangnya leyeh-leyeh, mengorbankan quality time bareng keluarga, serasa sudah menjadi kebiasaan di kala project di depan mata. Dedikasi kalian begitu luar biasa, seklumit kenangan dari setumpuk momen tetap teringat, bersamaan tumpukan billing yang masuk ke perusahaan.  

3. Tak harus Grogi Hadapi Efisiensi

Photo by Pexels

Photo by Pexels via https://www.pexels.com

Sebagai tim, kami terbilang berjalan baik bisa membantu tim lain lewat ide, maupun ekeskusi sebuah project. Bahkan, pertama dalam hidup saya, di tempat ini lah saya bisa merasakan yang namanya bonus akhir tahun. Rasa senang.. hepi bukan main disambut oleh semua member tim. Meskipun dalam diri saya sedikit pusing, untuk mengajukan besaran bonus tiap-tiap member tim. Sekali lagi, Puji Tuhan Alhamdulillah …. dua tahun berturut-turut semua member tim pun kebagian bagaimana rasanya bonus akhir tahun .

Selama dua tahun berkantor di daerah yang bersahabat dengan kemacetan, dan berjarak 25 KM dari rumah ini pun mulai terdengar kabar burung yang tak enak dan sedikit membuat was-was banyak karyawan.  Sekali lagi, kejadian ini memang jauh sebelum pandemi Covid-19, sehingga kondisi tempat kerja memang bukan karena imbas dari munculnya virus corona. Selama satu bulan penuh kepo + was-was menyelimuti karyawan atas tersiar kabar akan adanya efisiensi.

Singkat cerita, di sore hari jelang para karyawan pulang muncul lah pemberitahuan via email yang tak lain adalah schedule assessement yang pada saat itu menggunakan jasa dari 3rd party. Beberapa rekan kerja terlihat begitu kaget, namun beberapa juga terlihat begitu santai menyikapi pemberitahuan tersebut. Jujur, saya pribadi memang sedikit was-was apabila saya menjadi salah satu karyawan yang terjaring dalam efisiensi. Bukan takut segera berstatus sebagai “Unemployment”, namun dua tahun ini serasa sudah menjadikan saya sudah jatuh cinta sekali dengan tempat kerja satu ini.

4. Ketakutan

Photo by Pexels

Photo by Pexels via https://www.pexels.com

Walaupun beberapa orang begitu santai menghadapi prosesi assessement, rupanya dalam hati kecil mereka pun juga menyimpan ketakutan, meski secuil. Satu sisi, efisiensi akan membuat seorang karyawan terdampak akan segera berstatus sebagai pengangguran, dan belum lagi mencari pekerjaan di saat sekarang memang terbilang susah.

Proses melamar sana sini, dan wara wiri interview pun harus dijalani demi peroleh pekerjaan. Di sisi lainnya, setiap karyawan terkena efisiensi akan mendapat hak berupa pesangon sesuai ketentuan, dimana pesangon tersebut dapat digunakan untuk modal mencari pekerjaan baru, membiayai hidup sementara waktu, atau mungkin dijadikan modal untuk memulai usaha mandiri.

5. Legowo dan Jangan Patah Arang

Photo by Pexels

Photo by Pexels via https://www.pexels.com

Siapa sih yang merasa tak was-was, panik, atau pun galau, ketika kita sudah tau bahwa pengurangan karyawan di tempat kerja ada di depan mata?. Semua orang pasti bakal ngerasa tegang, dan dalam hati beberapa orang mungkin berharap agar bukan dirinya. Sementara bagi mereka yang sudah memiliki masa pengabdian lama, mungkin dalam hati kecil sangat berharap menjadi kandidat sehingga mendapat pesangon yang mungkin dalam jumlah besar tergantung level dan lama bekerja. 

Tiba lah prosesi Assessment, seluruh karyawan mengikut serangkaian test yang telah dipersiapkan. Kami pun berangkat lebih awal menuju lokasi test, dan mengikuti seluruh rangkaian assessment yang tentu tergantung dalam level tiap karyawan.  Setelah itu, pengumuman hasil pun sudah direncanakan bahwa akan diumumkan 14 hari kemudian, dengan akan dipanggil satu per satu oleh bagian personalia. 

Waktu 14 hari pun berlalu dengan sangat cepat, tak lain adalah karena disibuk kan oleh pekerjaan yang kala itu sebuah project dadakan membantu goal salah satu client. Ketika tiba saatnya pengumuman, beberapa nama memang sudah ada di bagian personalia, list yang dipastikan terdampak efisiensi. 

Satu per satu karyawan dipanggil ke sebuah ruangan, dan singkat cerita nama saya adalah salah satu dari sekian karyawan yang terjaring dalam efisiensi. (Mohon maaf, detail obrolan tidak dapat saya paparkan disini teman-teman). 

Cerita saya pendek kan, memang benar adanya bahwa saya terkena efisiensi, dalam ruangan 4×4 meter itu pun dijelaskan akan hak yang diterima atas keputusan ini. Sedih pasti, kaget.. sudah jelas…! Namun saya tetap berusaha untuk legowo, meski air mata ini pun tak kuasa akhirnya jatuh pula. Tepatnya ketika berjalan melewati teman-teman tim saya, yang mereka terdiam dan serasa tak percaya.

Awalnya cuman dua hal dalam benak saya, mungkin saya bukanlah orang yang tepat untuk perusahaan ini, atau mungkin gaji saya sudah ketinggian .. Hehehehhe….. Hari itu, sepulang dari tempat bekerja pun otak ini serasa sudah dipaksa untuk memikirkan akan berbagai langkah ke depan.

“Mau ngapain nih gue?…..,” mencuat satu pertanyaan di kepala.

6. Key Taken

Photo by Pexels

Photo by Pexels via https://www.pexels.com

Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kejadian ini, meski efisiensi itu bikin kita serasa kalah dari perang, dan sudah berlalu beberapa tahun lamanya. Setidaknya hal itu menyadarkan bahwa :

  • Bawahan adalah rekan kerja, so rangkul mereka
  • Tidak ada keadaan nyaman yang pasti, semua bisa berubah dalam hitungan cepat
  • Legowo dalam menghadapi cobaan
  • Rejeki sudah ada yang atur, dan
  • Jangan putus asa.

Meski saya sekarang tak lagi menjadi wanita karir yang selalu mikirin idea, brainstorming, sampai ngukur kesuksesan campaign, setidaknya saya bersyukur bisa kembali ke kampung halaman, tempat di mana saya dilahirkan. Tetap bersyukur dan berusaha, meski kini mencoba menjalani sesuatu yang jauh dari dunia digital dan internet.

(Eva/Syf)

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE