Perjalanan kali ini saya dan teman-teman menuju atap tertinggi pulau Jawa, ya Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Rencana kali ini pun seperti film 5cm banget. Dimana rencana perjalanan ini baru diberitahukan oleh teman-teman yang sebelumnya tidak saling berhubungan via SMS, BBM, Line, dan media lainnya.

Perjalanan kali ini saya sadari merupakan perjalanan yang cukup berat. Dari bandung menuju Jawa Timur saja sudah menghabiskan waktu selama seharian penuh, karena waktu itu kami menggunakan mobil. Perjanalan ke Semeru ini, bukan hanya sebuah pendakian, tetapi lebih daripada itu. Banyak cerita dan hikmah yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini.

1. Perjalanan jauh membuat tabah

Perjalanan dari pos Ranupani menuju Ranukumbolo tentunya merupakan perjalanan yang sangat jauh. Butuh waktu kurang lebih 7 jam untuk mencapainya. Selama perjalanan cuaca sangat tidak mendukung. Tiba-tiba hujan. Di perjalanan, saya menggerutu karena perjalanan yang jauh, ditambah hujan yang membuat perjalanan menjadi penuh tantangan. Akhirnya kami sampai di suatu trek pendakian yang mana Ranu Kumbolo sudah terlihat jelas. Namun, tetap masih jauh.

Dalam hati saya berkata,

Advertisement

‘Aku kira jarak Ranu Pani ke Ranu Kumbolo tuh dekat.’

Percayalah, perjalanan ini membuat saya benar-benar tabah meskipun harus menanggung lelah.

2. Ranu kumbolo membuat dekat

Dalam rombongan kami, ada dua orang personil yang saya belum kenal. Memang selama perjalanan ke Ranu Kumbolo saya sudah banyak berbicara, tapi entah kenapa pembicaraan dan belum touch yang terasa. Karena yang lainnya itu adalah teman saya sewaktu SMA, jadi saya sudah tidak canggung lagi. Sesudah sampai di Ranukumbolo kami menjadi sedikit lebih akrab.

Advertisement

Saling membantu mendirikan tenda, membereskan carrier dan mengambil air di danau Ranu Kumbolo. Mungkin awalnya, satu sama lain ada rasa saling JAIM (jaga image) yang membuat kita tidak ngobrol secara lepas. Sedikit demi sedikit kami saling mengetahui karakter masing-masing, perasaan ’jaga image’ sudah hilang dan disaat saling mengetahui itu kami sudah tidak canggung lagi untuk berbicara atau bahkan bercanda.

3. Hargai satu sumber air di kalimati

Tanjakan cinta yang melelahkan, oro oro ombo yang menggerahkan, cemoro kandang yang berdebu telah selesai dilewati dengan rasa lelah. Tiba di Kalimati. Di kalimati hanya ada satu sumber mata air, dan itu pun jaraknya cukup jauh. Butuh 20 menit untuk sampai disana. Ketika sudah sampai di sumber air. Terlihat banyak puluhan pendaki mengantri untuk mendapatkan tersebut. satu orang saja, paling sedikit membawa 3 botol air berukuran 1,5 liter. Dan entah berapa lama harus menunggu.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya air saya dapatkan. Dan ketika di perjalanan menuju tenda, saya berpikir kita harusnya merasa malu, jika di rumah cukup tersedia pasokan air sering menghambur-hamburkan nya. Dan di kalimati saya belajar, bahwa kita harus cermat dan hemat dalam penggunaan air. Karena jika di masa yang akan datang, pasokan air susah di dapat, apakah kita masih berani untuk menghamburkan air?

4. Memilih teman ketimbang pemandangan

Lelah dan badan pegal, membuat kami ingin beristirahat dengan cepat. Bersiap untuk nanti jam 23.00 wib mulai summit attack. Semua handphone berdering secara bersamaan. Tepat di pukul 22.00 wib. Membereskan peralatan, menyiapkan barang bawaan yang perlu dibawa hingga pemanasan dan peregangan kami lakukan sebelum menuju trek yang benar-benar berat. Terlihat dari pos Kalimati, lampu-lampu bercahaya pada hutan arcopodo dan sebagian pendaki telah mencapai di trek pasir Semeru.

Setelah melakukan perjalanan selama 4 jam. Mungkin kami telah mencapai setengah dari trek pasir semeru ini. Kami harus mengantri dengan pendaki lain untuk melangkah di trek yang membuat langkah naik 3 turun 1. Lebih dari setengah perjalanan di Semeru, teman kami mengalami keram dan sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. Dan tibalah pilihan yang membuat kami berat untuk memilih. Memilih teman atau pemandangan di atas sana? Jujur, ini pilihan yang berat. Tak bisa dipungkiri, keinginan di foto bersama tulisan ‘Puncak Mahameru’ dan berlatar asap dari kawah Joggring Saloka menjadi suatu tujuan.

Teman yang sakit pun, mempersilahkan melanjutkan perjalanan saja dan dia akan menunggu di tempat dia merasakan sakit itu. Setelah berpikir dan mempertimbangkan, kami lebih baik turun kembali. Artinya tak ada yang ke puncak. Dengan prinsip: naik bareng, turun pun harus bareng.

5. Don't judge to quickly

Bersantai di Ranu pani

Bersantai di Ranu pani via http://kedaipena.com

Selesai menuntaskan perjalanan yang berat dan akhirnya sudah tiba di Ranu Pani. Kami sampai di pos Ranu Pani saat Adzan Subuh. Kami duduk di warung – saya lupa nama ibunya. Terlihat ibu itu sangat jutek dan ketika diajak berbicara pun dengan nada yang tinggi, membuat kami cukup kesal dan enggan membeli di warungnya. Entah apa yang membuat kami untuk bertanya agar lebih dekat dengan ibu itu. Dan setelah selesai berbicara cukup jelas, ibu tersebut mengalami musibah, yaitu suaminya meninggal dan mau tak mau dia harus berjualan demi mendapatkan uang untuk memberi makan anaknya.

Jelas kami merasa bersalah yang menganggap ibu tersebut jutek, pemarah dan tidak ramah. Dibalik sikapnya itu, ibu tersebut memberikan nasi goreng gratis – emm enaknya. Dari situ saya belajar bahwa kita ‘don’t judge to quickly’

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya