"Sejak dulu beginilah cinta. Deritanya tiada akhir."

Kalimat yang sering terlontar dari mulut Cut Pat Kay. Tokoh manusia setengah babi di serial Kera Sakti. Tontonan populer tahun 90-an. Waktu itu, saya memang hanya melihatnya sebagai kalimat yang lucu dan pantas untuk ditiru berulang-ulang. Makin dewasa, justru ketika serial itu tidak tayang lagi, saya baru menyadari bahwa kalimat tadi ada benarnya juga.

Cinta memang hanya satu kata, namun yang diakibatkannya bisa berjuta-juta. Lihatlah di sana, banyak buku bertebaran menawarkan berbagai masalah pelik kehidupan cinta. Hampir semuanya laris-manis. Apalagi jika yang dituliskan adalah kisah cinta bertepuk sebelah tangan. Uhhh...peminatnya ribuan.

Eh... Padahal tidak hanya cinta bertepuk sebelah tangan saja lho yang berakhir dengan duka. Pada artikel kali ini, akan dibahas mengenai kisah cinta yang berhasil menyatu, namun berakhir dengan tidak bahagia atau rasa sedih yang mendalam. Kisah ini tidak semuanya terjadi di kehidupan nyata. Adapula yang merupakan mitos dan karangan fiksi pada sebuah karya sastra. Akan tetapi, baik bagi kita untuk mengambil hikmah di dalamnya. Agar tidak terulang kalimat.

"Sejak dulu beginilah cinta. Deritanya tiada akhir"

Yuk mari kita baca satu-satu!

1. Rama dan Shinta

Rama dan Shinta

Rama dan Shinta via https://wayangku.id

Siapa sih yang belum mengenal pasangan legendaris ini? Rama dan Shinta. Sebuah kisah percintaan dari India yang digubah oleh Walmiki. Ceritanya pun sudah populer di negara kita. Namun, apakah ada yang tahu bahwa kisah dua sejoli ini berakhir tidak bahagia? Iya, Shinta meminta kepada Dewa untuk merekahkan tanah. Sejenak tanah itu merekah, tercipta sebuah lubang teramat dalam. Shinta memutuskan terjun ke dalamnmya.

Mengapa?

Advertisement

Desas-desus dari rakyat tentang kesucian Shinta yang telah ternoda oleh Rahwana merisaukan hati Rama. Di satu sisi, Rama sangat mencintai Shinta. Di sisi lain, Rama mempercayai perkataan rakyatnya. Untuk membuktikannya, Shinta diminta dua kali melewati ujian.

Pertama, ia diminta melewati lingkaran api dan lolos. Seharusnya kerelaan Shinta melewati lingkaran api sudah cukup membuat Rama percaya. Sayang, Rama rupanya masih meragukan kesucian istrinya sendiri. Akhirnya, dengan berat hati Shinta melewati ujian yang kedua. Ia diasingkan ke sebuah hutan belantara sepuluh tahun lamanya ketika tanpa diketahui Rama, istrinya itu sedang mengandung anak mereka.

Setelah dua belas tahun lamanya, Rama tak juga menjemput Shinta. Di saat itu pula Lawa dan Kusa, anak mereka, mengetahui kejadian yang sebenarnya. Demi membalaskan penderitaan ibunya, Lawa dan Kusa menghancurkan Kosala. Kerajaan yang dipimpin oleh Rama.

Advertisement

"Jangan lakukan! Dia ayah kandung kalian!" kata Shinta memohon-mohon.

Rama kaget, "Shinta…kau kah itu? Lantas, anak-anak ini siapa?"

Shinta dengan jujur menjawab, "Mereka anakmu, Paduka Raja".

"Tidak mungkin!" lagi-lagi Rama tidak mempercayai istri yang dicintainya sejak pandangan pertama itu. Kepergian Shinta begitu lama, membuat Rama berpikir bisa saja itu anak dari orang lain yang ditemui Shinta selama masa pengasingan.

Shinta pun berlari putus asa. Meminta bantuan Dewa untuk membelah tanah sambil menangis histeris layaknya orang gila. Dewa pun mengabulkan. Tanah terbuka perlahan. Menunjukkan sebuah lubang yang sangat dalam. Shinta meloncat. Tepat di depan suami yang amat sangat dicintainya bahkan sejak pandangan pertama. Laki-laki yang menjadi satu-satunya alasan bagi Shinta untuk setia. Namun apa dikata, laki-laki itu ternyata tetap memilih untuk tidak percaya.

Dari cerita ini kita dapat mengambil hikmah. Apalah arti sebuah cinta jika di dasarnya tidak dilandasi rasa percaya. Bagai api yang melahap batang kayu. Hangus menyisakan abu. Akan hilang tertiup angin yang berhembus.

2. Bonnie dan Clyde

Bonnie dan Clyde

Bonnie dan Clyde via https://www.smithsonianmag.com

Bonnie dan Clyde adalah kisah cinta fenomenal yang terjadi pada tahun 1930-an. Saking fenomenalnya, kisah mereka sampai diangkat ke dalam layar lebar. Bukan. Bukan adegan romantisme yang membuat mereka terkenal. Namun, sepak terjangnya di dunia kriminallah yang membuat namanya terus dikenang.

Pasangan ini tercatat melakukan berbagai tindakan kriminal bersama. Mencuri, merampok bank, dan tidak segan-segan membunuh. Dari hasil penggeledahan di kediaman terakhirnya, polisi mendapati pasangan ini ternyata selalu berfoto berdua dengan pose mesra di antara barang hasil curian atau korban yang berhasil dilumpuhkan. Serem ya?

Bagi Clyde, jeruji besi memang tidak lagi asing dalam kehidupannya. Sementara, Bonnie sebenarnya adalah murid berprestasi di sekolah. Ketika pertama kali bertemu, Bonnie sudah mengetahui bahwa Clyde adalah seorang bad boy. Tetapi tidak menghalangi Bonnie untuk menjalin kasih dengan Clyde. Namanya sudah cinta, lupa deh semua…

Kemalangan akhirnya menimpa pasangan ini. Pada 23 Mei 1934 dalam usaha pelariannya dengan mobil curian, mereka berhasil ditembak mati oleh empat polisi Texas dan dua polisi Lousiana.

Cerita tentang Bonnie dan Clyde mengingatkan kita akan satu hal: jika sudah jatuh cinta, maka runtuh semua logika. Salah satu ciri mati logika adalah mengabaikan nasihat orang terdekat. Orang tua, contohnya. Tidak jarang kita justru membantah. Apalagi jika nasihatnya seolah menentang hubungan kita. Padahal bisa saja dibalik nasihat itu memang tertanam banyak kebaikan. Sudah banyak sekali kisah cinta berakhir tidak bahagia karena mengabaikan nasihat orang tua.

Kita bebas memilih mau mencintai siapa. Pun menjalani hidup seperti apa. Namun, kita tidak bisa melepas segala konsekuensi yang menyertai pilihan tersebut.

3. Ken Arok dan Ken Dedes

Ken Arok dan Ken Dedes

Ken Arok dan Ken Dedes via http://reidfile.com

Hampir semua dari kita tahu tentang dua nama ini. Kisahnya sudah malang melintang memenuhi halaman buku sejarah di sekolah. Memanggil-manggil meminta dihafalkan. Membuat kita hanya menghafal sebelum ujian dan menguap sehari kemudian. Padahal dari kisah sebenarnya, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Mari kita ambil hikmah dari kisah pertemuan antara Ken Arok dan Ken Dedes.

Awalnya, Ken Dedes merupakan istri dari seorang akuwu Tumpel bernama Tunggul Ametung. Dan Ken Arok hanyalah pengawal kepercayaan dari Si akuwu. Tidak adanya cinta Ken Dedes terhadap suaminya, membuat celah bagi Ken Arok untuk masuk ke dalam hubungan mereka.

Demi melanggengkan hubungan, Ken Arok meminta paksa sebuah keris sakti kepada Mpu Gandring. Pencegahan yang dilakukan Mpu Gandring berakhir nahas. Ia justru ditusuk sendiri oleh Ken Arok.

Pada suatu malam yang penuh kesempatan, Ken Arok menusuk Tunggul Ametung di depan Ken Dedes yang tengah hamil. Meskipun tahu, Ken Dedes bungkam. Semua orang mengira bahwa Kebo Ijo lah pembunuh si akuwu.

Sepeninggal Tunggul Ametung, Ken Arok menikahi Ken Dedes dan menasbihkan dirinya sebagai raja Tumapel. Tidak lama berselang, anak Ken Dedes dari suami pertamanya lahir. Ia diberi nama Anusapati.

Bau bangkai tidak bisa selamanya disimpan. Anusapati akhirnya mengetahui bahwa Ken Arok bukan ayah kandungnya. Lebih murkanya lagi, justru Ken Arok lah yang ternyata membunuh ayah kandungnya.

Tanpa sepengetahuan Ken Dedes, keris sakti yang dahulu digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung dicuri oleh Anusapati. Ia memerintahkan seseorang untuk menusuk Ken Arok dengan keris sakti tersebut. Dan orang suruhan tersebut, harus meregang nyawa di tangan Anusapati guna menghilangkan jejak.

Dari cerita di atas kita bisa menarik pelajaran. Jarang sekali kisah berakhir bahagia apabila dimulainya dengan cara yang salah. Hati-hati ya, Gaes!

4. Charles Bovary dan Emma Bovary

Mia Wasikowska berperan sebagai Madame Bovary

Mia Wasikowska berperan sebagai Madame Bovary via https://www.csmonitor.com

Kisah ini dituliskan dalam sebuah novel fiksi berjudul Madame Bovary karya novelis Perancis Gustave Flaubert pada tahun 1856. Ketika itu, novel ini sempat menjadi kontroversi. Bahkan penulisnya sempat harus masuk pengadilan dengan tuduhan ketidaksenonohan dan tidak bermoral. Walaupun akhirnya Flaubert dibebaskan dan karyanya justru makin terkenal.

Madame Bovary merupakan panggilan untuk seorang perempuan bernama asli Emma. Semenjak menikah dengan seorang dokter bernama Charles Bovary, panggilannya berubah sesuai nama akhir suaminya.

Mereka menikah karena permintaan ayah Emma yang ingin menghibur Charles akibat ditinggal mati oleh istri pertamanya, Madame Dubuc. Charles senang bukan kepalang memiliki istri cantik seperti Emma. Sementara, Emma tidak tahu apakah ada cinta di dalam hatinya untuk Charles.

Dikisahkan bahwa Charles seorang yang kikuk, kaku, lugu, dan tidak romantis. Sangat berbeda dengan pasangan yang ada dalam cerita-cerita di novel milik Emma. Apalagi semenjak menikah dengan Charles, Emma harus selalu berada di rumah di sebuah kota kecil. Membuatnya terus merasa kesepian. Ia merasa mimpinya untuk hidup di Paris harus dikubur dalam-dalam. Meskipun sudah melahirkan seorang anak, Emma tetap tidak bersemangat. Malah ia enggan mengurus anaknya sendiri.

Sampai akhirnya ia bertemu dengan dua lelaki dan menjalin kasih. Dua laki-laki tersebut bernama Leon dan Rodolphe. Ia bermain asmara dengan laki-laki lain tanpa diketahui oleh Charles. Bahkan, Emma rela berhutang sana-sini demi memberi barang sebagai tanda cinta bagi selingkuhannya.

Malang. Hutang yang terus menumpuk, tak bisa lagi dibayar oleh Emma. Rumah Charles yang menjadi jaminan pun terancam disita. Charles kaget bukan kepalang. Ia tidak pernah menyadari bahwa istrinya memiliki hutang. Apalagi menggadaikan hartanya sebagai jaminan. Buat selingkuhannya lagi!

Emma sangat tertekan karena selalu ditagih hutang. Tidak ada satu pun yang bisa membantu. Termasuk Charles karena hartanya telah habis dikuras. Merasa putus asa, Emma menenggak racun dan tewas. Charles sangat terpukul dan patah hati. Kesehatannya mulai menurun dan akhirnya meninggal dunia. Meninggalkan anak satu-satunya sebagai yatim piatu.

Dari cerita Madame Bovary ini kita bisa mengambil pelajaran berharga. Bahwasannya ketika kita memiliki hubungan dengan seseorang, maka kita harus menerima kekurangan dan kelebihannya sebagai satu paket. Pantang pula membandingkan pasangan dengan tokoh yang ada di dunia khayalan. Ingat! Sesungguhnya kesempurnaan hanya di depan layar. Keburukannya terlihat saat tayang iklan.

Selain itu, kehidupan pernikahan memang tidak semudah membalikkan tangan. Perlu pontang-panting dalam usaha mempertahankannya. Karena dalam perjalanan pernikahan, pasti akan ada saat di mana kita menghadapi sesuatu yang tidak kita senangi. Pada kasus Emma yang tidak disukai adalah tinggal di kota kecil. Dia berangan-angan hidup di Paris padahal raganya masih di kota kecil kediamannya. Jadinya apa? Ya tersiksa sendiri. Emma tidak pernah merasa bahagia karena pikirannya tidak berada dalam realita.

Mensyukuri kelebihan pasangan dan bersabar dengan kekurangannya adalah solusi terbaik dalam satu hubungan. Mensyukuri yang terjadi dan bersabar atas apa yang belum dimiliki adalah kunci dari kebahagiaan.

5. Shah Jehan dan Mumtaz Mahal

Shah Jehan dan Mumtaz Mahal

Shah Jehan dan Mumtaz Mahal via http://www.riau24.com

Siapa sih yang tidak tahu Taj Mahal? Tahu semua dong yaaa. Tahu sejarah pembangunannya? Oke mari kita simak…

Taj Mahal merupakan sebuah monumen yang dibangun oleh Shah Jehan untuk mengenang istrinya Mumtaz Mahal. Dibangun selama 22 tahun dan menjadi bangunan yang terindah di dunia. Bagaimana tidak? Seluruh tembok bangunan ini tidak ada satupun yang menggunakan bata melainkan menggunakan marmer putih yang dibawa langsung dari Rajahstan, Afghanistan. Pembangunannya melibatkan sekitar 20.000 pekerja, arsitek paling ahli, seniman kerajinan tangan, ahli kaligrafi, ahli pahat, dan ahli batu seantero India, Persia, dan Turki. Bahkan menggunakan 1.000 ekor gajah. Mantap!

Ada apa gerangan Shah Jehan sampai menghabiskan sekitar 32 juta Rupee hanya untuk makam istrinya? Jadi begini.

Shah Jehan bertemu pertama kali dengan Mumtaz ketika usianya baru 14 tahun. Shah Jehan yang sudah memiliki dua istri tersebut, harus menunggu lima tahun agar diperbolehkan menikahi Mumtaz. Tahun 1612 Shah Jehan resmi menikahi Mumtaz sehingga ia mendapat julukan Mumtaz Mahal Begum. Meskipun dirinya adalah istri ketiga, namun Shah Jehan justru paling menyayangi dan memanjakannya. Memang ya rasa itu selalu menjadi misteri.

Sepanjang karir Shah Jehan, Mumtazlah yang menemaninya ke manapun dia pergi. Ketika berperang pada tahun 1617 pun, Mumtaz tetap dengan setia mendampingi suaminya. Membuat suaminya bersemangat dan akhirnya berhasil menaklukkan Lodi di Decan dan mengamankan wilayah perbatasan daerah selatan dinasti Mughal. Sehingga Shah Jehan ditetapkan ayahnya sebagai penerus kelima dinasti Mughal.

Mumtaz tidak pernah luput mendampingi suaminya. Ketika masih pangeran, ketika perang, ketika senang, ketika berduka, dan ketika telah menduduki tahta sebagai raja. Hubungan romantis mereka sampai tersiar ke seluruh kalangan prajurit dan rakyat.

Keadaan berbalik ketika Mumtaz Mahal harus meregang nyawa saat melahirkan anak mereka yang ke-14. Betapa terpukulnya hati Shah Jehan. Melihat istri yang sangat dicintainya itu mengehembuskan nafas terakhir dalam pelukannya. Konon katanya, Shah Jehan sempat mengurung diri selama dua tahun karena kesedihan yang teramat dalam. Setelah jiwanya mulai bangkit, Shah Jehan merealisasikan keinginan Mumtaz. Salah satunya adalah membangun Taj dan mengunjunginya secara teratur.

Dari cerita ini kita dapat mengambil pelajaran. Di sinilah kita harus menyadari bahwa antara hidup dan mati itu jaraknya hanya satu mili. Dekat sekali. Kita pun tidak bisa mengelak dari perpisahan yang disebabkan karena kematian. Seberapa pun kita mencintai pasangan, tetap saja kita akan berpisah jika ajal sudah menjemput. Tak peduli apakah anak-anak masih kecil, baru saja melahirkan bayi, atau bahkan baru menikah beberapa hari.

Maka, ketika masih bersama yuk mari kita saling membahagiakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya