5 Kenangan Masa Kecil yang Kalau Diingat Bikin Ngakak. Anak Zaman Now Mana Paham

Kalau lagi reunian, masih pada suka bahas kisah-kasih masa kecil dulu, nggak? Semisal, pada nyeritain dulu gimana nakalnya si A, gimana lugunya kamu, dan masih banyak gimana lainnya yang bisa bikin geleng-geleng. Bahkan, saking banyaknya malah menggumam sambil megang kepala. Dulu gue gitu, ya? Hm … pura-pura lupa atau malu kalau diceritain, nih? Eits, gak apa-apa kali. Semua orang punya kisah masa kecil mereka masing-masing. Entah hanya cukup sampai di ekspresi nyengir atau malah penasaran dengerin lagi karena lupa. Mulai dari yang lucu, nyebelin, dan dramatis. Kalau ibu-ibu pada suka bilang gini, maklum, masih anak-anak.

Masa-masa itu adalah kisah yang masih penuh dengan pemakluman. Momen saat masih anak-anak adalah masa paling menyenangkan. Kalau sedih, ya, palingan karena nggak diizinkan nonton kartun favorit sebelum ngerjain tugas sekolah. Atau hal lain, nangis karena gak diizinkan main hujan. Padahal pengin, pengin banget pakai z.

Kamu masih ingat, nggak? Dulu pernah ngebayangin jadi orang dewasa. Setelah dewasa, malah pengin ngerasain balik ke masa-masa dulu. Di saat rumit isi kepala bukan masalah kerjaan, tapi hanya karena nggak diajak main bisa bikin kamu galau seharian.

Advertisement

1. Bertengkar karena nyebut nama orang tua teman

Foto oleh Lukas

Foto oleh Lukas via https://www.pexels.com

Ingatkah, kamu? Gengsi paling tinggi ketika dahulu bukan terletak dari seberapa mahal bajumu, seberapa upgrade smartphone-mu, atau sebanyak apa barang branded yang melekat pada tubuhmu? Hanya karena menyebut nama orang tua, maka kau bukan lagi temanku.

Iya, paling kesal kalau teman udah mulai ceng-cengan manggil dengan nama orang tua. Benar atau nggak? Rasanya dulu, nama orang tua hampir sama kayak soal Ujian Nasional yang masih belum dibuka. Serasa rahasia negara. Apalagi, kalau jam kosong di sekolah, udah pada nyeletuk-nyeleneh. Dalam hati bergumam, Please, jangan nama orang tua gue, okeee?!

Advertisement

Dewasa kini, kita sadar bahwasanya yang dahulunya suka usil, lama kelamaan makin usil. Eh, nggak gitu juga. Teman yang dulunya suka nyebut nama orang tua kita, sebenarnya adalah mereka yang akan menjadi teman dekat kita. Kisah pertemanan masa kecil itu hampir mirip kayak orang lagi PDKT-an. Awalnya jaga image-udah mulai nggak-nggak sama sekali. Bahkan, kalau udah dekat banget gak sungkan-sungkan manggil satu sama lain dengan nama orang tua.

Edi, duluan, ya? ucap mereka, misalnya. Ooh, iya, Budi. Besok main lagi, ya! jawabmu, spontan. Duh, kangen banget nggak sih?

2. Ban sepeda dikasi gelas plastik, siap membalap

Advertisement
Foto oleh Tarikul Ranaa

Foto oleh Tarikul Ranaa via https://www.pexels.com

Menjadi anak kecil itu adalah proses paling berkesan. Ketika berimajinasi masih dianggap etis, tampil beda masih dianggap masuk logika. Apalagi, kalau imajinasinya udah kayak balap MotoGP, padahal nggak ada motornya. Hanya ada bunyi cempreng karena gelas plastik yang diselipkan di ban sepeda. Ban sepeda dikasi gelas plastik ketika main rasa senangnya udah nyampe ubun-ubun.

Belum lagi kalau ramean muterin kompleks. Beuh, rasanya kayak pembalap lagi rebut-rebutan naik podium. Benar atau gak? Eh, tapi kalau udah diteriakin sama tetangga karena berisik, ngibrit banget kayak pembalap cepat-cepatan finish. Sambil teriak-teriak tuh biasanya: ayo, ayo, yang punya rumah marah, tuh! Dih, pada percaya diri banget, ya! Padahal yang punya rumah mau ngasi buah.

3. Maksa minta buah tetangga, maafkan, ya!

Foto oleh Rudy Hartono

Foto oleh Rudy Hartono via https://www.pexels.com

Bukankah, hidup itu belajar dari pengalaman? Pengalaman pribadi adalah guru paling berharga yang kita semua pasti punya. Untuk bekal kini, esok, dan nanti. Kalau katanya, satu kali salah itu namanya normal. Dua kali salah bisa dinegosiasikan. Kalau udah tiga kali, mah, namanya doyan. Doyan maksa tetangga ngasih buah juga nggak, ya? Dibayangkan lagi ke masa dulu, maksa minta buah tetangga itu seperti normal, ya? Jangan, deh, ya. Kalau sekarang apa-apa dikasi viral. Tapi gimana, ya. Anak-anak itu kalau mau, kemauannya harus dituruti, termasuk maksa si pemilik buat ngasih. Nggak dikasih sekali, balik lagi, dikasi sekali, balik berkali-kali.

Nggak ada, Dek. Tadi udah dipanen, kata yang punya. Ada kok, Bu. Itu, ya, ya? jawabmu. Hm … Sebenarnya, bukan mau buahnya. Kebanyakan mau manjat pohonnya aja, gaya-gayaan di atas pohon. Paling ngeri kalau balapan siapa yang paling cepat naik ke puncak duluan. Hati-hati! Jangan liat ke bawah, ya!

4. Paling sering dijadikan bahan percobaan

Foto oleh Shuvrasankha Paul

Foto oleh Shuvrasankha Paul via https://www.pexels.com

Anak kecil, anak yang polos banget. Sampai mereka nggak bisa bedain yang namanya asli dan palsu. Semua yang direkayasa seolah nyata. Iya, mungkin kalau dulu diceritain internet nggak bakalan ada, percaya-percaya aja, deh. Orang dulu dia nggak tau internet itu apa.

Ada banyak sekali anak yang berasal dari korban bahan percobaan. Aku, kamu, atau kita semua pernah di posisi itu. Pernah berada di posisi percaya seratus persen. Nyebarin berita semisal: jilat telunjuk sehabis nunjuk pelangi atau kuburan. Sekolah bekas rumah sakit atau kuburan. Dengan percaya diri yang tinggi menyampaikannya ke banyak orang, sampai takut ke toilet sekolah. Rasanya pengin cepat-cepat pulang ke rumah karena kebelet, tapi keburu ngeri duluan. Bohong kali, ah! ucap mereka. Beneran, kamu, sih, ngeyel! katamu penuh keyakinan. Mungkin, yang dulunya jarang gunain toilet sekolah karena kisah ini juga nggak, ya? Eh, di jalan pulang malah makin ngeri. Ngeri karena …

5. Jeep adalah mobil pencuri

Foto oleh Markus Spiske

Foto oleh Markus Spiske via http://pexels.com

Anak 90-an pasti pernah dengar Jeep si Pencuri. Rasanya kalau udah ngeliat mobil Jeep kayak habis dipantau elit global. Rasa was-wasnya jadi tinggi. Adrenalin terpacu. Udah, tuh, ngambil ancang-ancang lari. Persis kayak orang mau ikutan lomba sprint. Entah siapa yang menyebarkan cerita ini terlebih dahulu, yang jelas cukup bikin ketar-ketir.

Persis kayak kalimat yang viral baru-baru ini, bek bek bek cemas kau dek. Ya, cemas, lah! Besok masih mau main gundu. Dibedakin sebelum keluar rumah. Apa pun kisahnya. Masa dulu indah, ya? Indah karena semuanya berasa ngalir. Kalau kamu pernah ngalamin cerita apa? Ada gak, cerita yang gak bisa kamu lupain kalau diajak nostalgia waktu reunian atau sendirian?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Suka menulis dan membaca.

CLOSE