Di era modern seperti sekarang, bekerja tidak hanya di kantor. Melakukan berbagai tugas dapat pula dilakukan di rumah. Sebagai gantinya, pihak perusahaan menyewa kantor hanya untuk keperluan administrasi dan lokasinya dipilih yang strategis. Para pelaku startup memilih menggunakan layanan virtual office, dengan virtual office para pelaku usaha dapat memilih gedung perkantoran yang bonafit yang ada di kota-kota besar di Indonesia.

Pilihan model kerja seperti ini banyak digunakan oleh startup yang kini sudah memiliki nama besar. Sebut saja startup seperti WooThemes, Gitlab, ataupun Hubstaff yang bahkan memulai bisnis sejak awal dengan pola kerja secara remote. Pekerjaan pun tetap terselesaikan dengan lancar. Semuanya berkat penggunaan berbagai perangkat lunak yang mendukung pekerjaan remote.

1. Kesempatan merekrut tenaga kerja yang kompetitif

Berbeda dengan perusahaan yang punya kantor fisik, startup yang menggunakan layanan sewa virtual office tidak terbatas pada lokasi. Para karyawannya bisa berada di mana saja. Virtual office bisa saja beralamat di Jakarta, tapi para karyawan tak perlu datang ke sana.

Dengan kondisi tersebut, sebuah perusahaan mampu merekrut karyawan yang berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Bahkan, kalau mau, bisa pula merekrut karyawan dari luar negeri. Dengan pilihan yang lebih banyak, perusahaan bisa lebih selektif dalam proses perekrutan.

Advertisement

Manfaat seperti ini didapatkan oleh startup Toogl. CEO Toogl mengungkapkan, pada awalnya Toogl memiliki kantor secara fisik. Namun, pada tahun 2016 mereka mulai menerapkan kantor virtual dan karyawan bisa bekerja dari rumah.

Hasilnya positif. Awalnya, proses perekrutan karyawan hanya memiliki radius sekitar 10 km dari alamat kantor. Hal ini mengakibatkan tidak adanya variasi budaya di dalam kantor. Dengan memulai pekerjaan secara remote, Toggl bisa memperoleh para karyawan dengan budaya yang berbeda. Hal ini memberi dampak besar dan membuat perusahaan memiliki cara pandang yang lebih luas.

2. Lingkungan kerja yang sehat

Lingkungan kerja yang sehat

Lingkungan kerja yang sehat via https://pixabay.com

Dalam beberapa tahun terakhir, sering muncul suasana kantor perusahaan teknologi dunia seperti Facebook, Google, atau Twitter. Terlihat bagaimana suasana menyenangkan dengan fasilitas hiburan lengkap tersedia di dalam kantor. Saat ini, banyak startup yang meniru konsep kantor seperti itu. Harapannya, para karyawan bisa bekerja dengan nyaman dan betah selama berada di kantor.

Advertisement

Namun, hal itu bisa pula didapatkan dengan memilih pola kerja remote dan menggunakan layanan sewa virtual office. Dengan bekerja dari rumah, karyawan bisa merasa lebih relaks. Mereka pun bisa secara bebas memilih waktu kerja dan lokasi kerja. Bahkan, bisa pula melakukannya saat berada di taman atau di kafe. Dalam kondisi tersebut, karyawan pun bisa bekerja lebih fokus.

3. Tak ada intrik dalam perusahaan dan lebih mementingkan produktivitas

Dalam sebuah kantor, sering muncul persaingan tak sehat antara para karyawan. Bahkan, tak jarang ada karyawan yang melakukan berbagai intrik agar mereka bisa memperoleh kenaikan jabatan.

Namun, hal seperti ini bisa diminimalkan kalau menggunakan konsep kantor virtual. Minimnya tatap muka secara langsung, membuat penilaian para karyawan sepenuhnya dilihat dari produktivitasnya. Dalam kondisi tersebut, perusahaan bisa menerapkan kebijakan yang transparan kepada para karyawan.

Co-founder sekaligus COO Toptal, Breanden Beneschott mengatakan perusahaannya melakukan rapat virtual secara rutin. Aktivitas tersebut bisa dilakukan secara efisien. Karyawan tak perlu datang ke kantor, cukup menggunakan Skype sebagai sarana meeting. Di situ, berbagai pelaporan pun dijabarkan. Termasuk kinerja masing-masing karyawan.

Dengan keuntungan dan pengalaman startup-startup tersebut, memilih bekerja secara remote tidak menghambat kinerja perusahaan. Malahan sebaliknya.

4. Biaya Lebih Murah

Lebih ekonomis

Lebih ekonomis via https://www.google.co.id

Menyewa gedung untuk dijadikan sebagai lokasi kantor memang tidak murah. Bukan hanya itu, perusahaan pun harus menyediakan peralatan sendiri, mulai dari meja kerja, kursi kerja, printer, projector, dan sebagainya. Setidaknya, perusahaan juga harus mempekerjakan seorang office boy untuk merawat dan membersihkan gedung secara berkala supaya kondisinya tetap baik.

Jangan lupa, ada pula biaya operasional yang harus dibayar, seperti biaya listrik atau biaya perawatan gedung. Semua ini tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Berbeda jika perusahaan memilih menggunakan virtual office. Anggaran untuk biaya operasional bisa ditekan sehingga dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain, misalnya untuk kesejahteraan pekerja.

5. Cocok Bagi Pekerja Kreatif

Creative

Creative via https://twitter.com

Salah satu pembunuh kreativitas adalah rutinitas. Ketika Anda menjalankan pola kerja yang sama setiap hari, kemampuan untuk berpikir di luar kotak biasanya semakin berkurang. Ini disebabkan oleh rasa nyaman yang membuat Anda tidak terlatih untuk menghadapi tantangan.

Hal ini bisa terjadi ketika seorang pekerja kreatif terkungkung dalam ruangan yang sama terus-menerus. Bagaimana pun, seorang pekerja kreatif membutuhkan suasana baru agar mampu menemukan ide-ide yang unik setiap hari.

Nah, setelah tidak lagi bekerja di sebuah office room permanen, Anda bebas memilih tempat kerja yang memberi inspirasi. Atau, berinteraksi dengan para pekerja di coworking space. Opsi yang kedua ini bisa memancing munculnya ide-ide yang brilian.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya