Menjadi seorang perempuan di umur 20-an adalah tentang berusaha menemukan banyak hal dalam kehidupan. Beberapa mungkin memikirkan pekerjaan yang tepat, memulai bisnis, atau melanjutkan pendidikan. Tapi ada satu hal yang mungkin kebanyakan perempuan muda akan sepakat, bahwa memiliki seorang pria yang bersedia mendampingi nya dalam mejalani proses kehidupan tersebut adalah sesuatu yang menyenangkan.

Sayangnya, bagiku hal ini cukup penuh tantangan. Menemukan seseorang dan mebina sebuah hubungan terasa jauh lebih sulit dibandingkan menulis tesis untuk mendapatkan gelar master. Sejauh ini aku telah melewati dua patah hati yang cukup menyedihkan dan masih belum menemukan the happy ending. Bukan sebuah prestasi yang membanggakan, namun dengan bekal membaca and mendengarkan beberapa expert di bidang hubungan dan percintaan, kini aku mulai melihat banyak pelajaran yang patut disyukuri dari pengalaman yang tidak terlalu menyenangkan ini.

1. Jangan sampai cinta mengubah dirimu hanya demi dia

Patah hati pertamaku terjadi saat aku memasuki tahun ke dua bekerja di kantor. Dia merupakan seorang kakak kelas di masa sekolah.

Advertisement

Aku sempat menyukainya, dan dia pun menyatakan hal yang sama. Namun ku menolaknya saat itu. Delapan tahun berlalu, media sosial menghubungkan kami kembali dan ternyata kami punya ketertarikan yang cukup kuat.

Dia terlihat memiliki niat baik untuk menjalani hubungan ini secara serius dengan langsung menemui orang tuaku. Obrolan tentang pernikahan pun beberapa kali muncul walau kami baru beberapa minggu bersama. Aku sempat terbawa dengan suasana walaupun sebenarnya saat itu ku belum merasa siap untuk menikah.

Aku ingin menikah tentunya, tapi saat itu aku memiliki prioritas lain, yaitu pekerjaan dan melanjutkan pendidikan. Sesekali aku sampaikan ini padanya, namun dia membalas dengan mengatakan bahwa ia mengingikan istri yang tidak bekerja.

Advertisement

Sampai akhirnya suatu saat aku menerima email bahwa aplikasi untuk melanjutkan kuliahku diterima oleh kampus yang ku inginkan. Aku membaca email itu saat makan malam bersamanya dan dia sama sekali tidak bersemangat mendengar hal ini.

Setelah saat itu, aku sempat berpikir apa aku harus mengubah diriku dan tidak mengejar mimpiku hanya karena ingin bersamanya? Tapi aku tak bisa. Mimpi ini sudah ada jauh sebelum dia masuk ke hidupku.

2. Jangan terlalu polos biar tak dibodohi oleh keputusannya

Kemudian semua berjalan normal, dia sepertinya mulai memperlihatkan dukungannya untukku. Hingga akhirnya semua berubah saat dia liburan ke kampung halamannya. He broke up with me over a text.

Tanpa alasan yang jelas, tak lama setelah itu, aku mendengar kabar bahwa dia akan menikah. Hatiku hancur untuk pertama kalinya. Aku bertanya-tanya apa kurangnya aku. Aku merasa dibohongi.

Tapi sekarang setelah beberapa tahun, aku sadar, dia melakukan hal yang seharusnya. Dia tetap menjalankan niatnya untuk menikah di tahun itu dengan perempuan yang seprinsip dengannya, tanpa menghalangiku mengejar mimpiku sendiri.

3. Adanya alasan yang jelas tidak akan mengubah keadaan

Patah hatiku yang kedua lebih menyedihkan. Pada waktu itu, aku cukup puas dengan beberapa pencapaian. Gelar master yang aku inginkan sudah aku raih dan aku kembali ke kantor mendapatkan pekerjaan menyenagkan.

Sepertinya ini saat yang tepat untuk menikah, setidaknya itu yang dilakukan oleh teman-teman seangkatanku.

Pria ini, sudah lama aku kenal. Juga dari masa sekolah. Dia pernah aku tolak pada masa itu. Saat itu dia kembali datang dengan pencapai mirip sepertiku, kembali menawarkan hal yang dulu dia pernah sampaikan. Namun kali ini lebih serius, ada kata pernikahan.

Lagi-lagi aku terbawa emosi, mungkin kali ini benar. Kita mulai menghabiskan waktu bersama, ku kenalkan dia pada orang tua. Mereka terlihat setuju. Dia mulai  melibatkan ku dalam memilih furnitur untuk rumahnya. Dia juga sudah memikirkan rute ke kantor yang akan kita tempuh setelah menikah nantinya.

Apa aku salah menjadi sangat berharap dengan semua hal itu? Lalu aku mulai bertanya kapan aku akan dikenalkan ke keluarganya. Di situ keadaan mulai berubah. Aku mulai merasa ada sesuatu yang mengganjal dan aku mendesaknya untuk mengatakan ada apa, tapi dia selalu berkilah.

4. Karena soal hati pun banyak yang tak terduga, sudah seharusnya kamu tak mudah menaruh harapan

broken heart

broken heart via https://unsplash.com

Hingga akhirnya di hari ulang tahunku, dia seolah lupa kita pernah punya rencana. Kali ini lebih parah daripada putus lewat teks. Dia hilang tanpa kabar.

Tiga bulan berlalu, dia benar-benar tidak melakukan apa pun untuk menghubungiku. Sampai akhirnya aku dengar dari temannya, yang juga temanku, ia kini sudah kembali bersama mantannya.

Aku benar-benar merasa dibodohi.

Aku pernah merasa ingin menemuinya hanya untuk meminta penjelasan atas semua ini. Dia harus minta maaf. Namun kini aku sadar, anggap lah dia melakukan itu, apakah membuat keadaan berubah? Tidak. Itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku berhasil dibohongi habis-habisan oleh nya.

Mungkin aku bisa melampiaskan amarahku di hadapannya, tapi itu hanya akan melambungkan egonya bahwa ternyata aku sebegitu mengharapkannya dulu.

Di atas semua itu, dia sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan waktu dan energiku. Jadi, stop asking for clearance, girls. If it is important enough, it will come to you.

5. Jangan remehkan firasat pertamamu

fixed heart

fixed heart via https://goo.gl

Apa kesamaan dari dua kisah patah hati ini? Dua-dua nya adalah pria yang pada awalnya aku tolak. So I probably shouldn't change my mind. Perasaan adalah sesuatu yang magical dan tidak butuh alasan.

Berbeda dengan pemikiran yang bisa berubah jika melihat dari perspektif berbeda. Hatiku seperti sudah tau bahwa dua laki-laki ini bukan yang tepat untukku. Namun aku tetap mensyukuri pengalaman ini karena kini aku lebih paham tentang apa yang sebenernya aku butuhkan.

Jangan pernah terbawa suasana atau keadaan yang sepertinya mendukung dan membenarkan sebuah kecocokan. Tanyakan pada hati mu, apa benar ini adalah hal yang kamu inginkan dan kamu butuhkan?

Jangan mengiyakan karena dia terlihat seperti apa yang seharusnya. Hubungan yang kuat butuh keyakinan dari dalam hati yang tidak berdasarkan aspek superfisial untuk memenuhi standar sosial.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya