Kamu pernah nggak sih merasa sakit hati ditinggal sama orang yang kamu sayangi?

Merasakan kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi memang terasa sangat meyakitkan, seperti kehilangan sahabat, pacar, atau pun anggota keluarga yang sangat kita cintai, seperti orangtua dan saudara kandung. Kehilangan tersebut bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti kematian, diputuskan, atau perasaan dikhianati oleh orang yang sudah dianggap sebagai sahabat.

Merasakan sakit sudah pasti merupakan respons yang wajar. Tekadang kesedihan yang kita rasakan bisa berlarut-larut dalam jangka waktu yang lama, dan butuh proses untuk bisa pulih kembali seperti sedia kala.

Dari sudut pandang ilmu psikologi, umumnya terdapat 5 tahapan kesedihan yang biasa dilalui oleh seseorang ketika mengalami peristiwa kehilangan yang mendalam yaitu penyangkalan, kemarahan, penyesalan, depresi, dan penerimaan. Tahapan tersebut umumnya terjadi pada orang yang mengalami pahitnya rasa ditinggalkan, namun tidak semua orang melalui tahapan-tahapan tersebut dengan urutan yang sama persis.

Terkadang, tahapan kesedihan yang dilalui oleh seseorang bisa saja melewati tahapan kesedihan tersebut hanya dengan dua sampai tiga tahapan sebelum akhirnya bisa menerima kenyataan dari rasa sakit yang ia rasakan. Adakalanya juga seseorang bisa tertahan pada satu tahapan tertentu dalam durasi waktu yang cukup lama, seperti penyesalan yang berlarut atau deperesi yang menahun, tergantung dari sifat masing-masing orang yang mengalami peristiwa tersebut.

Untuk lebih jelasnya, yuk kita kaji satu per satu tahapan tersebut.

1. Penyangkalan

Penyangkalan merupakan tahapan rasa sakit yang paling pertama yang dirasakan oleh orang yang merasa kehilangan. Penyangkalan ini biasanya diikuti oleh kalimat ini tidak mungkin terjadi atau ini pasti tidak nyata. Kalimat-kalimat tersebut diucapkan sebagai bentuk penolakan pada kenyataan bahwa peristiwa kehilangan yang kita alami bukanlah sebuah fakta, melainkan hanya sebuah ilusi.

2. Kemarahan

Setelah berupaya menyangkal kenyataan yang ternyata bukanlah sebuah ilusi, amarah mulai membuncah, bahwa hidup ini tidak adil dan kita tidak siap dengan kenyataan itu. Amarah tersebut biasanya dilampiaskan pada sebuah obyek benda mati, ataupun kepada teman atau keluarga kita, yang bahkan tidak ada hubungannya dengan kejadian tersebut. Terkadang kita juga marah kepada orang yang telah meninggalkan kita.

3. Penyesalan

Rasa Sesal, kadang diikuti dengan penyalahan diri

Rasa Sesal, kadang diikuti dengan penyalahan diri via https://www.pexels.com

Advertisement

Rasa putus asa mulai melemahkan pemikiran kita, seakan tidak ada lagi energi yang bisa menguatkan diri. Nggak ada lagi yang bisa kita lakukan selain berharap bahwa kejadian pahit tersebut tidak terjadi dan semuanya bisa kembali seperti sedia kala.

Rasa sesal itu biasanya muncul dengan kalimat andai saja… dan berharap bahwa peristiwa tersebut tidak seharusnya terjadi jika tidak ada kekeliruan yang kita lakukan di masa lalu, seperti andai saja saya bisa menjadi orang yang lebih baik, atau andai saja saya tidak melakukan hal itu. Penyesalan itu justru hanya menambah kesedihan yang kita alami. Tidak jarang pula kita menyalahkan diri sendiri.

4. Depresi

Depresi berat

Depresi berat via https://www.pexels.com

Tahapan depresi adalah tahapan yang paling menyakitkan karena semua yang terjadi seperti akhir dari segalanya. Dalam tahap depresi ini, seseorang bisa saja mengurung diri, tidak makan, murung, atau menarik diri dari lingkungan sosial dan tidak ingin berbicara dengan siapapun. Di tahap inilah kita sebenarnya sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain. Pertolongan tersebut bisa berupa motivasi atau dukungan dari keluarga atau sahabat untuk meyakinkan kita bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Advertisement


Rasa kecewamu bukanlah akhir dari segalanya. Kamu adalah manusia, kamu juga membutuhkan orang lain untuk meringankan rasa sakitmu


5. Penerimaan

Tahapan terakhir adalah penerimaan kenyataan. Tahap ini bukanlah tahapan yang membuat kita kembali bahagia seperti dulu, melainkan tahapan untuk berusaha move on dan menerima kenyataan yang ada, belajar beradaptasi dengan situasi yang baru di mana kita harus berusaha hidup tanpa kehadiran orang yang kita sayangi, dan berusaha menjalani kehidupan kita sehari-hari seperti sedia kala, meskipun kita tahu bahwa segalanya telah berbeda.

Setiap orang sebenarnya memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi rasa kecewa dan sakit hati. Ada beberapa orang yang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya, namun ada juga yang memang tidak bisa. Wajar, ya. Tapi nggak apa-apa kok kalau kamu ingin melampiaskan kekecewaanmu. Rasa kecewa yang diikuti dengan amarah adalah hal yang manusiawi, apalagi jika kamu sampai ke tahap stres atau depresi yang berat. Itu semua hanya bagian dari tahapan kesedihan. Semuanya hanya membutuhkan proses dan waktu untuk kamu bisa kembali pulih dari rasa sakit yang kamu rasakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya