6 Esensi Desain Grafis yang Harus Dipahami Oleh Desainer Pemula

Saat ini, graphic design atau desain grafis merupakan sebuah bidang yang sedang naik daun.

Saat ini, graphic design atau desain grafis merupakan sebuah bidang yang sedang naik daun. Cukup banyak orang yang menggeluti bidang ini untuk sekedar hobi ataupun sebagai sebagai profesi yang serius.

Pada dasarnya untuk mendalami dan ahli dari suatu hal, kita harus memahami dasar hal tersebut, bukan? Begitu pula pada dunia desain grafis. Sebelum menjadi desainer grafis yang handal, kita harus mengetahui terlebih dahulu, berbagai hal-hal dasar yang biasanya dianggap sepele akan tetapi akan berperan penting dalam pembuatan sebuah desain. Oleh karena itu, mindset mengenai “esensi” dari desain ini sangat penting untuk diketahui oleh para desainer grafis yang baru terjun dalam dunia desain grafis.

Berikut adalah 6 esensi dari desain grafis yang harus diketahui para desainer grafis pemula:

1. Fundamental Desain

Person Holding Black Click Pen

Person Holding Black Click Pen via https://www.pexels.com

Advertisement

Fundamental desain merupakan dasar dari setiap medium visual. Hal tersebut pasti terdapat dalam setiap desain, mulai dari seni rupa ataupun desain modern seperti poster. Fundamental desain mencakup berbagai elemen seperti, garis, shape (bentuk 2D), form (bentuk 3D) dan tekstur. Mungkin, bila diperhatikan hal-hal mungkin sangat biasa saja, akan tetapi berbagai karya desain grafis yang kita lihat setiap hari, merupakan gabungan dari elemen-elemen tersebut.

Setiap elemen tersebut mengandung makna dan fungsinya masing-masing, tergantung bagaimana desainer grafis menggunakan elemen itu untuk mengkomunikasikan ide yang dimilikinya secara visual. Melalui garis, shape, form dan tekstur, sangat membantu kita untuk menyampaikan dan memahami suatu konsep ide.

2. Typography

Quote Calligraphy Under Cup of Lemon Tea

Quote Calligraphy Under Cup of Lemon Tea via https://www.pexels.com

Typography atau tipografi adalah hal yang sangat familiar untuk kita lihat. Baik itu pada buku yang kita baca, website, kemasan produk, poster dan lainnya. Singkat kata, tipografi merupakan tampilan atau gaya dari teks, baik dalam hal warna, ukuran, ketebalan, jarak dan font (jenis huruf).

Advertisement

Setiap jenis font memilikimaknanya tersendiri yang dapat melampaui kata-kata yang tertera. Misalkan, jenis Sans Serif (seperti Helvetica) dapat memberikan kesan sederhana dan modern, biasa digunakan untuk website atau tampilan digital karena mudah untuk dibaca. Oleh sebab itu, bagi seorang desainer grafis penting untuk memperhatikan pesan yang ingin ia sampaikan agar sesuai dengan tipografi yang ia terapkan.

Tips: Hukum untuk melakukan tipografi yang baik adalah “less is more”, yaitu usahakan untuk menggunakan tidak lebih dari 2 jenis font. Padukan juga hukum “opposites attract”, yaitu kombinasikan gaya font bold dan light sebagai kesan kontras.

3. Warna

Color Palette

Color Palette via https://www.pexels.com

Warna memiliki peran yang vital dalam sebuah desain. Warna dapat mewakili citra, menciptakan emosi, persepsi bagi yang melihatnya dan bahkan berkomunikasi tanpa menggunakan kata sama sekali. Walaupun menjadi hal yang sangat penting, tidak jarang penentuan warna juga menimbulkan masalah bagi para desainer grafis pemula.

Jawaban dari masalah itu adalah: “pahami teori warna”. Apakah kamu masih ingat warna dasar yang dipelajari ketika masih TK atau SD? Yaitu merah, biru dan kuning. Ketiga warna tersebut adalah warna-warna dasar yang menciptkan warna lainnya, sehingga membuat color wheel. Melalui color wheel, kita dapat memilih warna berdasarkan saturation ataupun value dari warna. Kita juga dapat memainkan kontras untuk mencari warna yang sesuai.

Jangan lupakan teori ini, “setiap warna memiliki pesan”. Bagi desainer grafis professional, mereka sudah sangat paham dengan maksud pernyataan tersebut. Misalkan seperti, warna cerah dapat mewakili keceriaan dan modern, warna yang desaturated atau pucat biasa mewakili kesan formal dan bisnis.

4. Layout dan Komposisi

Notebook Beside the iPhone on Table

Notebook Beside the iPhone on Table via https://www.pexels.com

Layout dan komposisi merupakan pondasi dari suatu desain. Elemen ini berfungsi untuk memberikan struktur dan mempermudah navigasi. Elemen ini juga sangat jarang diperdulikan oleh beberapa desainer grafis pemula, padahal apabila tidak terkomposisi dan di-layout dengan baik, maka suatu desain akan terlihat tidak seimbang (mungkin rapuh adalah kata yang tepat). Biasanya terdapat beberapa prinsip dasar layout dan komposisi yang digunakan oleh para desainer grafis professional diantaranya adalah,


  • Proximity, yaitu memisahkan antara jenis kelompok konten.

  • White space, dapat diterapkan dengan cara membuat space kosong pada desain.

  • Alignment, yaitu menyesuaikan letak kesejajaran konten berdasarkan sisi kiri, kanan, tengah, atas atau bawah.

  • Contrast, membuat kontras antar objek desain dengan menggunakan warna, bentuk atau komponen desain lainnya, agar membentuk suatu hirarki.

  • Repetition, atau lebih tepat diartikan sebagai konsistensi elemen pada desain, baik dalam hal warna, tipografi dan lainnya.

Layout dan komposisi yang baik akan memudahkan navigasi dalam menyajikan pesan visual kepada viewer. Dengan memperhatikan detil-detil dalam layout dan komposisi, kita dapat menciptakan desain yang menarik dan terlihat profesional.

5. Citra

Adult Art Artist Blur

Adult Art Artist Blur via https://www.pexels.com

“An image is worth a thousand words”. Image atau citra merupakan konten pendukung dari karya desain grafis. Citra dapat berupa sebuah foto, gambar ilustrasi yang dibuat, termasuk icon ataupun logo. Dalam dunia desain grafis, citra biasa digunakan sebagai “umpan” untuk memancing para viewers. Citra mampu memicu impression yang kuat sebelum viewer melihat konten desain secara keseluruhan.

Dalam memilih citra yang dibutuhkan, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti selalu pilih citra dengan resolusi tertinggi, edit gambar untuk menyesuaikan warna dan selalu berfikir out of the box untuk melihat perspektif dari suatu citra.

6. Branding dan Identitas

Art Blur Close Up Fingers

Art Blur Close Up Fingers via https://www.pexels.com

Branding dan identitas merupakan hal yang cukup sulit dilakukan oleh beberapa desainer grafis pemula. Secara sederhana, branding adalah apa yang orang lain pikirkan, tentang produk, perusahaan ataupun hasil suatu karya. Branding dapat diciptakan dengan menggunakan pemilihan warna, logo dan lainnya.

Untuk menciptakan identitas yang baik, kita harus benar-benar memahami bagaimana cara berkomunikasi visual dengan baik, sehingga perspektif kita akan sama dengan perspektif viewer. Hal tersebut sangat penting untuk menimbulkan pesan persuasif yang efektif. Contohnya, bukankah kita sering memilih produk berdasarkan dari kemasannya yang bagus?

Setiap esensi yang telah dijabarkan sebelumnya sangat mempengaruhi untuk pembentukan suatu identitas. Inti dari hal ini adalah bukan sekedar alat promosi, akan tetapi bagaimana menciptakan sesuatu yang unik, konsisten dan berbeda dari yang lain, sehingga viewer akan selalu mengigat desain tersebut.

“Untuk menciptakan sesuatu yang sangat besar, kita harus mulai dari hal-hal yang sangat kecil”. Mungkin berbagai esensi tadi sudah tidak asing lagi bagi para desainer grafis, tapi belum banyak yang menyadari bahwa hal-hal sepele tersebut sudah membantu kita menciptakan sebuah hasil luar biasa. Jadi, terus belajar, berkreasi dan tetap kreatif!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE