Ya namanya juga Indonesia. Nggak heran.

Di sekolah, pasti kalian udah tau banyak bagaimana sistemnya. Dan, berani taruhan kalianpun sudah tau bagaimana orang-orang sekolah mengutak-atik sistemnya menjadi sedemikian rupa untuk kepentingan tertentu. Kadang sistem yang diotak-atik tersebut malah berkesan licik. Namun, lantaran beberapa faktor dan demi kepentingan bersama terkadang hal tersebut melindas aturan yang berlaku secara tidak adil. Banyak kok sisi-sisi gelap yang kita anggap wajar-banget bahkan mungkin kalian para murid juga sedang bermain-main di sisi gelap ini. Apa aja sih? Ini nih ....

1. Kongsi juri dalam kompetisi.

Juri kompetisi. via http://google.com

Di dunia pendidikan pastilah udah terasa erat kaitannya dengan lomba, kompetisi, olimpiade dan kegiatan-kegiatan sejenisnya. Kegiatan-kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan prestasi para murid-murid. Namun, pada kenyataannya tujuan ini kadang hanya diutamakan agar bisa mendapatkan prestice-nya saja dengan cara yang tak halal. Apa sih maksudnya? maksudnya tuh pokoknya bisa juara satu dengan cara curang supaya dapet gengsi.

Cara yang tak halal paling umum adalah adanya kongsi dari para juri. Jadi jika ada penyelenggaraan suatu lomba di suatu daerah, dan sebagian besar juri didatangkan dari daerah tersebut. Maka ada kemungkinan juri-juri tersebut akan berpihak ke peserta lomba dari daerahnya.

Contohnya ada suatu lomba karnaval. Nah, lomba tersebut diselenggarakan di Kabupaten X. Peserta lomba berasal dari berbagai kecamatan. Kebetulan juri-juri penilai aslinya juga dari Kabupaten X. Maka akan ada tendensi sekolah perwakilan dari daerah Kabupaten X yang akan menang lomba, dan lanjut ke tingkat provinsi. Kok bisa ya? Namanya juga juri dari orang sendiri.

Advertisement

Memang sih enggak semua penyelenggara lomba seperti itu, tapi pasti kalian bakal denger-denger kasus beginian. Kemenangan lomba itu tidak semata-mata untuk tujuan prestasi, lho. Hal tersebut juga dapat mengibarkan nama sekolah perwakilan murid tersebut di mata para masyarakat untuk meningkatkan harga dirinya.

2. Les di guru sendiri = Bocoran ulangan.

Bocoran? ya dong dapet 100 kok. via https://www.123rf.com

Ini kasus yang sangat umum di kehidupan sekolah. Sistem bocoran ulangan harian sampai UAS dari guru les memang udah lazim di telinga para murid.

"Eh Lala kok dapet bagus matematikanya? jarang-jarang, lho."

"Plis deh, Tys, Lala kan les di Pak Habib, guru matematika kita sendiri. Ya nggak heranlah!"

Iya. Memang sistem pembocoran ulangan kepada murid les adalah kejadian paling majemuk bagi kita. Dan, biasanya bentuk bocoran tersebut tidak secara blak-blakan dengan memberi kertas ulangan begitu ke murid les. Terkadang bentuknya beragam. Contoh yang pernah gue alami adalah dimana si Guru Les membahas suatu soal buatannya sendiri padahal itu "terinspirasi" dari pilihan ganda soal UAS. Jadi, para murid enggak tau tentang itu, dan kemudian tiba-tiba waktu ujian mereka berujar: "KOK SAMA YA AMA DI LES-LES AN GUE?"

Atau, bentuk kedua adalah si Guru Les memberikan soal yang mirip-mirip ama soal ulangan tetapi beda rupa. Contohnya adalah waktu ujian matematika, maka soal yang diberikan akan sama bentuk penyelesainnya tapi beda angka. Ya endingnya murid-murid pun akan tetapi paham pola tersebut. Dan, mereka akan berujar, "KOK SOALNYA HAMPIR SAMA CUMAN ANGKANYA YANG BEDA?"

Tapi, ya enggak semua guru les kayak gitu. Ada kok guru yang suci rohani dalam mengajar les.

3. UN datang, nyontek halal.

Nyontek halal kok waktu UN. via https://adamtheteacher.files.wordpress.com

Pernahkan kalian denger ini dari guru kalian ?

"Eh, besok kalo UN, yang pinter jangan pelit-pelit jawaban, ya. Kasihan yang kurang pinter nanti nilainya jelek. Dibantu ya temenmu!"

Waktu ulangan harian tuh guru ngelabrak kita waktu ketahuan nyontek, waktu UN kita malah dianjurkan buat nyontek jamaah. Enggak nyambung, cekgu.

Entahlah. Dari generasi ke generasi, sebelum UN pasti guru bakal memberikan petuah agar si pinter "membantu" si kurang pinter. Hal ini dilakukan lantaran penghalalan menyontek ada kaitannya dengan pamor sekolah. Kok bisa?

Gini. Kalo ada sekolah yang muridnya enggak lulus (apalagi dari sekolah yang beken), maka berita tersebut bakal tersebar di masyarakat, dan bakal ada omong-omongan nggak enak yang menurunkan martabat tuh sekolah.

"Eh sekolah X ada yang enggak lulus loh!"

"Eh nggak mungkin, tuh sekolah kan sekolah bagus."

"Iya katanya ada yang UN nya jelek."

"Kok sekarang sekolah X jadi gini kualitasnya. Dulu aja lulus 100% terus."

Yap. Nilai UN itu bisa jelek karena itu nilai asli dari kita sendiri. Tidak ada campur tangan guru dalam pengatrolan nilai. Jadi kalau nilainya jelek ya jelek. Itulah kenapa para guru memberikan siraman rohani kepada yang pintar untuk membantu ama yang kurang-kurang.

4. Bidikmisi palsu.

Bidik misi: menggapai asa, memutus temenku yang misikin. via http://www.populer.web.id

Kecurangan ini adalah kecurangan paling jahanam. Enggak sedikit loh orang kaya yang pura-pura miskin supaya bisa dapet beasiswa bidik misi. Padahal, kuota bidik misi itu terbatas banget di masa sekarang. Kasian banget buat yang kurang mampu. Jadi, kepada anak kaya tapi masuk ngambil bidik misi…

Beneran loh. Ketika si kaya ngambil bidik misi, itu artinya kalin telah mengambil kesempatan si miskin untuk merubah nasibnya. Cobalah berpikir lebih luas lagi apa yang kalian lakukan. Kalian mencurangi sistem hanya untuk kepentingan dirimu sendiri, padahal masih ada yang SANGAT membutuhkan itu.

So, kepada para bidik misi palsu, bertobatlah mumpung masih ada kesempatan. Jangan sampai uang bidik misi haram kamu makan terus-menerus. Jika kamu bisa dapet kerjaan dari kuliah harammu, lalu dari uang kerja itu kamu berikan ke anak istrimu nantinya itu bakal berakibat fatal. Semua kerja payahmu hanya dapat uang haram. So, sadarlah wahai saudaraku yang berpura-pura miskin untuk dapet bidikmisi. Terangkanlah … terangkanlah …

5. Nepotisme.

Nepotisme. Om boleh ya kerja di tempat om? via https://ashokbhatia.files.wordpress.com

Nepotisme di dunia pendidikan beragam banget jenisnya. Salah satunya dalam pendaftaran sekolah. Kalau ada anak guru yang mau daftar di sekolah dimana guru itu ngajar. Maka kecenderungan buat lolos bisa lumayan besar. Namanya juga anak sendiri. Tapi, enggak semua loh sekolah yang bisa blang-bleng gini kalo ada anaknya guru mau masuk ke sekolahnya. Untuk sekolah yang pengawasannya lumayan ketat dan kualitasnya bagus, mungkin susah juga nerapin nepotisme ini.

Contohnya nepotisme lainnya adalah bagian perekrutan guru. Bagi seseorang fresh graduate dari kuliah keguruan tidaklah mudah mencari kerjaan ngajar di sekolah-sekolah. Bahkan, kata temen gue yang kakaknya nyari kerja jadi guru bahasa inggris, nyari lowongan jadi guru itu susah banget, banyak lamaran kerja dia yang hanya ditumpuk di kantor tanpa pernah dilirik. Tapi, ada loh metode nyari kerja jadi guru yang langsung plong masuk. Namanya : orang dalem. Iyap turunannya nepotisme. Sepanjang kalian punya orang dalem di sekolah itu, entah mbakmu, ayahmu, atau bahkan om mu. Dijamin kalo kalian nyari kerjaan di sekolah itu langsung cemplung-cemplung-cemplung.

6. Pengatrolan nilai.

Kecurangan ini sejatinya terjadi lantaran kebodohan kita-kita sebagai murid. Gue kadang kasihan ama guru-guru gue dulu. Mereka harus main kotor dalam pembuatan nilai gara-gara banyak muridnya nggak pernah nyampe batas minimal atau KKM. Walaupun sudah berkali-kali remidi, terkadang murid juga kurang ajar enggak mau belajar dan nilainya tetap aja sama atau malah jeblok. Kadang sangking budrek guru dalam membuat sistem penilaian dan dituntun oleh rasa kasian, maka merekapun terpaksa mengatrol nilai-nilai muridnya yang buruk menjadi pas KKM. Biasanya sistemnya begitu. Jadi yang nilainya jelek dibuat 76 atau 77 yang sama ama batas minimal, dan yang bagus dibuat >90 atau 80 an. Alhasil rentang nilai dalam satu sekolah bakal sempit banget. Pembatas antara yang pinter dan goblok jadi gak kelihatan. Tapi, apa daya lantaran kalian yang males belajar, guru-guru yang kena dosanya.

Pernahkah kalian ngerasa nilai ulangan kalian jelek tapi di raport bisa pas KKM? siapa lagi kalo bukan guru kalian yang baik hati yang menyulapnya supaya kamu bisa naik kelas. Pernah kah kalian berterima kasih akan itu? KAGAK.

Pernah suatu ketika guru PKN gue tanya,

"Pernahkah kalian dapet nilai jelek gara-gara salah koreksi terus kalian minta ke guru kalian buat dirubah ? tetapi kenapa waktu nilai kalian bagus di rapor padahal sebenernya jelek kalian nggak minta guru buat merubahnya?

KAGAKLAH!

Itulah beberapa daftar kontroversial yang pernah terjadi di Indonesia mengenai belusukan-belusukan gelap di bidang pendidikan. Sebernernya masih ada banyak lagi penyelewengan-penyelewengan dalam bidang ini, cuman belum ngambang aja di permukaan. Seperti sistem uang bangunan, tes CPNS, dan lain-lain. Namun apa daya, kita di Indonesia. Negri paling ramah dan murah senyum, apa yang tersembunyi dari senyum itu ya?

Melihat banyaknya kekurang pada sekolah, maka tidak heran banyak nasehat yang mengatakan kita harus belajar banyak di luar sekolah. Karena belajar di sekolah saja belum membuatmu bisa survive di dunia nyata. Kita bisa hidup tidak dengan makan kertas nilai ulangan, tetapi kita bisa hidup dengan ilmu yang bikin nilai ulangan kita.