6 Tips Ampuh agar Tidak Mendapat Tugas Tambahan dari Atasan saat Bekerja

Kamu tipe pekerja yang mager atau aktif nih?

Berapa jam kamu habiskan waktu untuk bekerja setiap harinya? 7 jam? 8 jam? 12 jam atau tak ada batasan jam bekerja? Bagi yang kerja sebagai pengusaha atau freelancer, suka-suka dialah ya mau ngatur jam kerjanya. Beda cerita kalau yang kerja di pabrik atau kantoran. Biasanya mereka bekerja antara 8–10 jam per harinya. Bisa ditambah beberapa jam lagi kalau ada lembur atau tugas tambahan dari atasan.

Bicara tentang lembur atau tugas tambahan, pasti setiap pekerja tidak mau mendapatkan itu. Alasannya sudah pasti jelas yaitu waktu istirahat berkurang, badan lelah berkepanjangan, dan juga pikiran pusing tidak karuan. Namun, bagi kaum yang sudah memegang teguh keyakinan bahwa ketika bekerja harus sesuai dengan tugas pokok saja dan katakan tidak pada lembur atau tugas tambahan, maka mereka akan sekuat tenaga memikirkan berbagai macam cara atau alasan agar bisa terhindar. Berikut ini akan saya jabarkan apa saja tips ampuh yang cocok buat Sobat Hipwee supaya tidak mendapat tugas tambahan dari atasan.

Advertisement

1. Mempunyai kerja sampingan lain

Photo by Valeria Boltneva from Pexels

Photo by Valeria Boltneva from Pexels via https://www.pexels.com

Menjadi orang produktif yang mampu melihat peluang usaha sehingga mendatangkan pundi-pundi uang selain dari pekerjaan utama memang tidak bisa dilakukan oleh orang sembarangan. Alasannya adalah belum tentu semua orang mampu membagi waktu, pikiran, dan tenaganya untuk bekerja di banyak tempat. Di setiap tempat kerja, pasti ada saja rekan kerja kita yang terlihat sibuk sendiri hingga kewalahan membagi tugas dan waktu antara kerja di kantor atau pekerjaan lain di luar kantor.  

Bagi orang yang punya kerja sampingan lain ini, pusingnya punya kerjaan banyak bisa menjadi alasan untuk menolak tugas tambahan dari atasan. Dengan kelihaian bercerita mengurai aktivitas lain setelah pulang kerja hingga larut malam bahkan dini hari, atasan pun akan luluh dan mengurungkan niatnya untuk memberi tugas tambahan.

Advertisement

2. Jarang hadir di rapat-rapat penting

Photo by Diva Plavalaguna from Pexels

Photo by Diva Plavalaguna from Pexels via https://www.pexels.com

Rapat memang tidak bisa dilepaskan dari dunia kerja. Tujuannya adalah untuk evaluasi kerja dan merancang kegiatan-kegiatan baru yang akan dilakukan selanjutnya agar sesuai target kantor. Rapat biasanya juga digunakan sebagai agenda pembagian tugas untuk pembentukan tim atau panitia kerja.

Bagi kamu yang merasa malas ketika dilibatkan dalam suatu tim atau panitia kerja, tidak hadir dalam rapat bisa jadi langkah yang tepat untuk terhindar dari tugas tambahan.

Alasan ketidakhadiran bisa dipikirkan pada hari-hari sebelumnya. Misalnya ada kepentingan keluarga, kurang enak badan, ada pekerjaan lain yang lebih urgent, atau alasan-alasan klasik lainnya yang bisa diterima atasan. Jika sudah dimaklumi, maka yang awalnya namamu ada di daftar tim atau panitia bisa saja dicoret. Nggak mungkin juga kamu dilibatkan kerja. Wong, rapat penting di kantor saja jarang hadir. Gimana, mau coba?

Advertisement

3. Sering minta izin pulang cepat

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Setiap pekerja pasti mempunyai hak untuk mendapatkan cuti kerja. Beda cerita jika pekerja tersebut sering sekali pulang lebih awal dengan berbagai macam alasan yang melatarbelakanginya. Walaupun pekerjaannya telah selesai, namun jika jam kerja belum usai maka seharusnya dia menyelesaikan pekerjaan yang lain atau sekedar duduk manis di ruang kerja.

Biasanya yang namanya atasan sering keliling tuh area kantor untuk mengecek satu per satu bawahannya sedang ngapain. Tak jarang juga ajakan ngobrol santai tapi berisi target kerja dilakukan. Jika kamu ingin terhindar dari obrolan tersebut, kamu boleh coba untuk izin pulang cepat. Alasannya bisa bermacam-macam yang penting bisa masuk di akal. Ulangi beberapa kali dalam sebulan. Kamu tertarik, SoHip?

4. Merendahkan kemampuan diri sendiri

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Di tempat kerja itu terdiri dari bermacam-macam tipe orang. Ada orang yang rajin, pintar, ambisius, terlalu nyaman di zona nyaman, penjilat, dan yang lainnya. Diantara banyaknya tipe pekerja, ada satu tipe yang muncul ketika momen pembagian tugas tambahan. Tipe tersebut adalah orang yang suka merendahkan kemampuan diri sendiri.

Misalnya saja saat diberi tugas untuk terjun langsung ke masyarakat menawarkan suatu produk. Biasanya dia terlihat semangat, tiba-tiba mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak mampu untuk berkomunikasi, sering merasa grogi di hadapan orang banyak, dan alasan lain yang sebenarnya mengisyaratkan dia sudah langsung menyerah sebelum mencoba. Jika terlalu banyak memberikan alasan ini itu, atasan pasti akan langsung mengganti dengan orang lain yang dianggap lebih mampu. Bebas tugas deh, akhirnya.

5. Jarang bersosialisasi dengan rekan di tempat kerja

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Menjadi orang yang pendiam dan tertutup di tempat kerja memang tidak selamanya menjadi suatu hal yang keliru. Orang yang jarang bersosialisasi akan lebih sering dianggap tidak ada jika sedang membahas rencana kerja yang penting atau tugas tambahan.

Akibatnya, ada atau tidaknya orang tersebut bukanlah sesuatu yang dianggap berpengaruh. Atasan akan lebih memprioritaskan orang yang aktif dalam bekerja daripada orang yang pendiam dan tertutup dalam mencapai target kerja.

6. Sering menolak ketika diberi tugas tambahan

Photo by Cottonbro Studio from Pexels

Photo by Cottonbro Studio from Pexels via https://www.pexels.com

Jika track record sebelumnya sering menolak ketika diberi tugas tambahan, maka kemungkinan besar orang tersebut akan menolak kembali tugas tambahan di kesempatan yang lain. Daripada atasan mengulang kembali kata-kata motivasi kerja bahkan rayuan untuk menguatkan pekerjanya supaya bersedia melaksanakan tugas, lebih baik dia memilih orang lain yang lebih siap dan mampu. Mati satu tumbuh seribu kalau kata peribahasa.

Dalam dunia kerja, kita tidak bisa terhindar dari yang namanya persaingan kerja antara pekerja yang satu dengan pekerja yang lain. Jika kita sudah menanamkan niat bahwa akan bekerja dengan sungguh-sungguh guna mencapai hakikat bekerja yang merupakan salah satu ibadah, maka kata malas akan terbuang dengan sendirinya. Rezeki setiap orang memang sudah diatur. Namun, Tuhan lebih menyukai orang yang fokus bekerja dan giat berusaha.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

"Jangan Bosan Jadi Orang Baik".

Editor

Penikmat buku dan perjalanan

CLOSE