Selamat Hari Pahlawan 10 November kawan !

Republik Indonesia memperingati tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Pahlawan itu sendiri memiliki arti seseorang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani, perkasa, rela berkorban, dan ksatria (sumber: KBBI). Pada umumnya, seseorang yang diberikan status pahlawan sudah almarhum. Kenapa tidak pada saat masih hidup sudah ditetapkan menajdi pahlawan, kenapa? Menurut teman saya, salah satunya karena siapa tahu semasa hidupnya akan berubah sikap seperti makar atau berkhianat setelah diangkat menjadi pahlawan. Apakah mungkin seperti itu teman-teman?

Pahlawan itu sendiri memiliki arti seseorang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani, perkasa, rela berkorban, dan ksatria

Nah, berhubung saya sedang berada di Garut dan bertepatan dengan hari pahlawan, kenapa tidak mencoba mengangkat tokoh-tokoh yang ada di Garut dan sudah selayaknya mereka bisa disetarakan dengan jasa-jasa para pahlawan lainnya. Yuk, kita simak lebih jelasnya.

1. Raden Ayu Lasminingrat (1843 – 1948)

Tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia

Tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia via https://www.instagram.com

Uniknya, tokoh paling berpengaruh di Garut adalah seorang perempuan. Ya, beliau adalah Raden Ayu Lasminingrat. Disebut-sebut sebagai tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia. Beliau memiliki cita-cita besar terhadap pendidikan perempuan, dengan mendirikan Sakola Kautamaan Istri pada tahun 1907.

Raden Ayu Lasminingrat juga mendirikan kembali Sakola Istri pada tahun 1912, di mana letak dan bangunannya sekarang masih dipakai hingga kini oleh SMA Negeri 11 Garut Jawa Barat. Sosok tokoh perempuan lain seperti Dewi Sartika hingga RA Kartini juga terinspirasi dari Raden Ayu Lasminingrat atas perjuangannya. Bagi para "wanita zaman now", sudah siapkah kalian mengikuti jejak beliau?

Advertisement


Sosok tokoh perempuan lain seperti Dewi Sartika hingga RA Kartini juga terinspirasi dari Raden Ayu Lasminingrat atas perjuangannya.


2. Raden Hadji Moehamad Moesa (1882 – 1886)

Pelopor di Bidang Kesusastraan Sunda

Pelopor di Bidang Kesusastraan Sunda via https://www.instagram.com

Sebagai pelopor di bidang kesusastraan Sunda dan karya beliau sudah diakui dan dijadikan rujukannya oleh Belanda, Raden Hadji Moehamad Moesa merupakan ayah dari RA Lasminingrat. Bahkan karya-karyanya sudah dicetak dan disebarluaskan hingga mencapai ribuan eksemplar di Batavia (sekarang Jakarta). Oleh karenanya, beliau dianggap sebagai pelopor kesusastraan cetak Sunda.

Tidak sampai di situ saja perjuangan beliau. Raden Hadji Moehamad Moesa juga mendirikan sekolah Eropa (Bijzondere Europeesche School), di mana orang Eropa (Belanda) dapat bersekolah bersama-sama dengan anak-anak pribumi pada waktu itu. Berkat salah satu usaha beliaulah pribumi bisa mengenyam pendidikan yang setara dengan masyarkat Eropa.

3. RAA Adiwidjaya

Bupati Pertama Kabupaten Limbangan yang Kini Menjadi Kabupaten Garut

Bupati Pertama Kabupaten Limbangan yang Kini Menjadi Kabupaten Garut via http://www.jelajahgarut.com

Advertisement

Tokoh berpengaruh ketiga di Garut adalah RAA Adiwidjaya. Namanya kini diabadikan menjadi nama museum di Garut. Beliau merupakan Bupati pertama di Kabupaten Limbangan (pada zaman Belanda) dan sering dianggap sebagai Bupati Garut yang pertama sebelum Garut ada. Beliau menjabat dari tahun 1813 hingga tahun 1831.

Nah, uniknya lagi, RAA Adiwidjaya membentuk panitia pencarian lokasi baru yang akan dijadikan Ibukota Kabupaten, yang kita kenal sekarang dengan Garut. Beliau dimakamkan di Kampung Cipeujeuh Sanding, Kecamatan Garut Kota. Oleh karena itu beliau terkenal dengan sebutan Dalem Cipeujeuh.


Salah satu tokoh berpengaruh di Garut, yaitu RAA Adiwidjaya yang berjasa membentuk panitia pencarian lokasi baru yang akan dijadikan pusat Ibukota Kabupaten yang kini di kenal dengan Garut.


Untuk kamu yang belum tahu Tentang Garut, sekarang sudah tahu kan ternyata Garut dahulunya berada di Limbangan (jalur selatan utama Bandung-Tasikmalaya).

4. Prof. KH. Anwar Musaddad (3 April 1909 – 21 Juli 2000)

Tokoh Ulama, intelektual, dan juga Pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan RI pasca Proklamasi

Tokoh Ulama, intelektual, dan juga Pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan RI pasca Proklamasi via https://www.instagram.com

Sejak pada tahun 1945, Prof. KH. Anwar Musaddad memimpin pasukan Hizbullah dan turut menempa mental para pejuang. Sebagai tokoh ulama, tokoh pejuang, Prof. KH. Anwar Musaddad juga disebut sebagai tokoh intelektual. Di mana perjuangannya dilanjutkan dengan cara mendirikan sekaligus menjadi rektor pertama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Beliau juga terkenal sebagai pendiri Pondok Pesantren dan Yayasan Pendidikan Al-Musaddadiyah di Garut, Jawa Barat.

5. KH. Yusuf Tauzirie

Tokoh Yang Melawan Penjajah dan Mempertahankan Kemerdekaan Dari Pesantren

Tokoh Yang Melawan Penjajah dan Mempertahankan Kemerdekaan Dari Pesantren via https://www.instagram.com

Sebagai pendiri masjid serta Pondok Pesantren Darussalam di Wanaraja, Garut, KH. Yusuf Tauzirie ikut serta bersama elemen pejuang lainnya dalam melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan dilakukannya dari pesantren dengan cara membentuk Laskar Darussalam. Beliau juga terkenal karena kisahnya yang legendaris dengan memimpin pemberontakan DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, dan pertempurannya di Cipari Wanaraja.

6. Achmad Noe'man (10 Oktober 1926 – 4 April 2016)

Arsitek 1000 Masjid Dari Garut

Arsitek 1000 Masjid Dari Garut via https://www.instagram.com

Tidak heran jika Achmad Noe'man dijuluki "Arsitek 1000 Masjid". Karena apa Beliau dijuluki hal tersebut? Karena karyanya seperti Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), Masjid Raya Bandung, hingga Masjid Indonesia di Sarajevo, Bosnia masih bisa dilihat dan digunakan hingga kini.

Achmad Noe'man merupakan putera dari Muhammad Jamhari, pendiri Muhammadiyah Garut. Di Garut, sang Ayah membangun beberapa masjid dan Achmad Noe'man sewaktu kecilnya sering mendampingi Ayahnya. Dari sanalah beliau menjelma menjadi arsitek masjid paling diakui di Indonesia bahkan dunia.


Sebagian karyanya tersebar diantaranya seperti Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), Masjid Raya Bandung, hingga Masjid Indonesia di Sarajevo, Bosnia.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya