"Kalau buang sampah di tempat sampah ya. Jangan buang sembarangan."

"Kalau ngomong, pelan aja suaranya. Nggak usah teriak-teriak."

"Kalau keluar kamar, AC-nya dimatiin. Boros."

"Keran air ditutup dong ya. Jangan boros air."

"Ini kan udah terang, nggak usah nyalain lampu. Biar irit."

"Kalau habis main, mainannya dirapiin lagi. Biar nanti gampang nyariinnya."

Tiga tahun belakang, mendadak aku menjadi manusia yang super cerewet. Beruang-ulang mengingatkan untuk hal yang sama. Berkali-kali pula harus memendam jengkel karena yang kuingatkan tak kunjung juga dikerjakan.

Tiga tahun belakang, mendadak menjadi orang yang tak mau lagi begadang, tetapi masih kurang tidur. Tiap pagi badan terasa pegal. Meskipun begitu, hidup terus berjalan. Pring-piring kotor menanti untuk dicuci, perut lapar menanti untuk diberi sarapan, dan rumah berantakan menanti untuk dibereskan.

Kalau sudah begini, aku jadi ingat penuturan ibuku bertahun-tahun silam. "Yang namanya punya anak itu harus siap kurang tidur, harus siap capek nganterin kemana-mana, harus siap rumah berantakan, harus siap sama anak yang ngompol sama muntah". Lalu, ia menyambung lagi, "Kalau belum siap repot ya jangan punya anak. Punya anak nggak cuma enaknya aja!"

Begitulah kalau ibuku menasihati anaknya yang masih gadis. Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian. Tapi jujur, belum tahu persis bagaimana rasanya. Baru tiga tahun belakangan ini, semua nasihatnya terbukti.

Berada distatus yang sama, barulah aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Aku juga jadi tahu, seberapa mengecewakannya diriku ketika aku dengan seenaknya tak menuruti perkataan ibu. Dan aku juga tahu, ternyata hal kecil nan remeh pun bisa membuat seorang ibu bahagia. Apakah itu?

1. Akur dengan saudara kandung

Kalian tak akan hidup tanpa mereka

Kalian tak akan hidup tanpa mereka via https://sayingimages.com

Layaknya kakak-beradik, aku pun sering bertengkar dengan saudara kandung. Berebut mainan hingga makanan. Berebut saluran televisi (karena televisi cuma satu). Berdebat untuk hal-hal yang absurd. Tak mau mengalah. Saling melempar tanggung jawab apabila disuruh ibu. Bertengkar kemudian baikan. Bertengkar lagi, lalu mendadak seperti tak terjadi apa-apa.

Advertisement

Terkadang, bertengkar itu memang wajar. Tapi apakah kalian tahu jika pertengkaran itu membuat ibu sakit kepala?

Banyak masalah yang harus diselesaikan ibu. Mulai dari membuat rumah menjadi nyaman, menyiapkan makanan agar kalian tidak kelaparan, mengurus keuangan keluarga, belum lagi masalah pribadi yang kadang terjadi antara suami dan istri. Sekarang, kalian malah menambah ruwet pikiran ibu dengan bertengkar.

Seorang ibu pasti memaklumi anaknya yang sedang bertengkar. Tapi akan lebih baik jika kalian dan saudara-saudara bersepakat untuk tidak membuat keributan dirumah. Saling meminjamkan barang, berbagi makanan, berbagi tugas dalam mengerjakan pekerjaan rumah, dan tidak saling membentak atau berteriak.

Advertisement

Pertengaran kecil memang wajar untuk anak-anak balita yang masih mengembangkan sifat ego dalam dirinya. Namun, bagaimana kalau sudah remaja apalagi dewasa?

Namanya ibu pasti punya pemikiran bahwa suatu saat ia akan tiada. Tak ada yang bisa membuatnya tenang selain anak-anaknya hidup rukun. Mulai dari sekarang, buat ibu senang dengan akur sesama saudara kandung. Bagi yang sudah saling berjauhan, minimal saling sapa dan memberi kabar.

Akan lebih membuat senang jika bisa saling tolong-menolong dan bergerak untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Walaupun hal itu sangat sederhana. Bersama-sama mendirikan taman bacaan mungkin? Atau saling iuran untuk memberi beasiswa pada anak yang kurang mampu?

Lalu, buktikan dengan melihat raut wajah ibumu :)

2. Berkata "iya" dengan tulus

Dengan tulus lho ya...

Dengan tulus lho ya… via http://www.joshuanhook.com

Suatu hari, saat sudah masuk jam makan siang. Anakku masih berlari-lari dan mengacaukan semua isi rumah. Demi menjaga kedisiplinan waktu makan, maka aku menginterupsi kegiatannya. "Nak, makan dulu yok. Udah jam makan siang." Tanpa diduga anakku memberhetikan kegiatannya dan menjawab, "Iya, Mi." Dan langsung bergegas menuju meja makan.

Sesuatu sederhana kan? Tetapi percaya atau tidak, hatiku terasa senaaaaaaaaang sekali mendengar anakku menuruti perkataanku dengan tulus. (Seorang ibu akan tahu mana yang tulus dan tidak. Tanpa diajarin sekalipun. Ini namanya naluri :p)

Aku menyadari jika dulu, aku sering membantah perkataan ibu. Sering pula melakukan apa yang disuruhnya dengan terpaksa. Sekarang aku menyesal. Ketika waktuku berbakti kepadanya sudah tak lagi utuh, aku baru tahu jika menuruti perkataannya akan membuat ia senang. Bahkan terlampau senang.

Bagi kalian yang masih berbakti penuh dengan ibu, ada baiknya menuruti permintaannya. Umumnya permintaannya yang sering kalian tolak adalah permintaan sederhana kan? Menurunkan baju yang sudah kering dari jemuran, mencuci piring, mematikan lampu, menjemur handuk yang basah, atau membersihkan rumah. Biasanya juga yang ia minta adalah untuk kepentingan bersama. Bukan untuk kepentingan pribadinya. Terkecuali kalau ia sedang sakit dan meminta diambilkan sesuatu. Kalau sedang sehat, biasanya seorang ibu bisa melakukan apa saja.

Yang jelas, permintaannya pasti tidak sesulit dan menyakitkan seperti ketika melahirkan kita ke dunia.

Jangan lupa lakukan lah dengan segera tanpa ada rasa keberatan.

3. Makan masakannya dengan lahap

Masakannya membuatmu senang. Memakannya dengan lahap lah yang membuatnya senang

Masakannya membuatmu senang. Memakannya dengan lahap lah yang membuatnya senang via https://www.google.co.id

Meski lauknya sederhana, tangan ibu bisa membuatnya istimewa. Setuju kan??

Jangan sampai menggerutu dengan lauknya itu-itu saja. Kalau kalian sudah cukup pendapatan, yakin deh makanan semewah apapun tak akan menandingi lezatnya masakan ibu. Jangan protes kalau kurang bumbu. Cukup kalian diam dan menuju dapur mengambil bumbu yang kurang. Tak usah berkata yang tak perlu. Apaalgi sampai menyinggung hatinya.

Mungkin kalian hanya menyadari lauk yang tersaji. Tanpa kalian lihat bagaimana repotnya ibu dalam berbelanja sayur yang naik terus harganya padahal uang bulanan tak kunjung bertambah. Makanya, ia menyajikan lauk yang itu-itu saja.

Mungkin kalian tak mengerti usaha ibu yang harus memasak dalam waktu singkat karena pekerjaan lain telah menunggu. Itu sebabnya bumbunya kurang pas.

Bagi yang masih tinggal di rumah bersama ibu, pastikan kalian makan masakan ibu dengan lahap. Sebelum menjadi perantauan sepertiku. Tak ada yang bisa dilakukan jika sudah rindu masakan ibu. Tahu resepnya, ngerti cara masaknya, tapi rasanya tak akan pernah sama. Karena di dalam masakan ibu terselip doa-doa terbaik untuk keluarganya.

Jadi tahu kan mengapa saat kalian berkumpul bersama, ibu akan pontang-panting direla-relain repot menyiapkan makanan? Iya, karena melihat anak-anaknya lahap memakan hasil masakannya adalah hal yang membahagiakan.

4. Memberi kabar

Beri kabar meskipun kamu baik-baik saja

Beri kabar meskipun kamu baik-baik saja via https://i.ytimg.com

Seberapa sibukkah kalian? Seberapa pentingkah kerjaan kalian? Hal-hal berbau kepentingan pribadi, biasanya membuat kalian lalai dalam memberi kabar ke ibu.

Pernah suatu ketika aku meminta ijin akan pergi ke suatu tempat. Aku tahu di tempat itu jaringan komunikasi tak begitu baik, tapi tak kuberitahukan kepada ibu. Alasanku karena acara hanya berlangsung satu hari dan satu malam. Selama itu, ibu tak mendapat kabar dariku. Sepulangnya dari acara, aku kena marah. Waktu itu, aku pikir ibu lebay. Toh tak terjadi apa-apa denganku.

Ternyata, setelah memiliki anak baruklah ku tahu. Menjadi ibu itu terkadang rumit. Otak para ibu sudah diatur oleh Tuhan untuk tidak pernah berhenti berpikir tentang keluarganya. Ia akan cemas jika perut anak-anaknya lapar. Ia akan kuatir jika anaknya tak enak badan (walaupun itu cuma flu ringan). Ia akan gelisah jika anaknya tak berkabar.

Bagi kalian yang jauh dari ibu, teruslah memberi kabar. Walaupun ia tak meminta, sesungguhnya ia berharap diberitahu bagaimana keadaanmu. Satu hingga dua kalimat cukup membuatnya senang.

Jika terpaksa kabar buruk yang disampaikan, doanya lah yang akan menguatkan kalian.

5. Meminta doa

Jangan lupa minta doa. WAJIB!

Jangan lupa minta doa. WAJIB! via https://www.dakwatuna.com

Pada saat kalian berada di puncak gunung tertinggi pencapaian hidup, tahukah siapa yang paling bangga? Iya, siapa lagi kalau bukan ibu. Meskipun ia hanya di bawah, tertutup, tak nampak, tersembunyi, tak dianggap. Ia adalah yang paling bangga tanpa ingin menunjukkan namanya. Satu-satunya yang ia sebut dengan menggebu-gebu bangga adalah nama kalian.

Pun kadang kalian merasa bahwa pencapaian adalah murni dari kerja keras yang kalian dengungkan berkali-kali. Tapi apakah pernah terbayang, bahwa Tuhan mengijinkan kalian untuk mencapai sesuatu bukan karena usaha keras kalian tapi justu karena doa ibu? Doa ibu yang mengetuk pintu langit, hingga Tuhan akhirnya mengabulkan. Jadilah kalian sukses seperti sekarang.

Mintalah doa sebelum ujian, sebelum berlomba, sebelum tes masuk kerja, sebelum berobat, dan segalanya. Selelah apapun ibu, ia akan segera berdoa untuk anaknya.

Walaupun, tanpa diminta ibu tak akan berhenti mendoakan kalian. Namun, dengan meminta doa darinya artinya kalian menganggap bahwa doanya begitu berarti. Itulah yang akan membuatnya senang.

6. Hindari berkata "Ibu udah pernah cerita"

Saling berceritalah dengan bahagia

Saling berceritalah dengan bahagia via http://health.sunnybrook.ca

Otak ibu yang tidak pernah berhenti bekerja, membuat benaknya penuh dengan uneg-uneg. Kalau sudah begini, seorang ibu pasti ingin bercerita dengan panjang dan lebar.

Namun terkadang, makin bertambah usia seorang ibu maka ia makin sering mengulang-ngulang cerita yang sama. Cerita hari ini akan sama dengan cerita kemarin, dan tidak beda dengan cerita esok hari. Disaat yang bersamaan, kalian akan makin dewasa. Yang terkadang merasa bosan mendengar cerita yang selalu sama dan secara spontan berkata, "Ibu udah cerita kemarin."

Ibu pun tidak akan protes jika mendengar hal itu. Tapi, apakah kalian tahu, bahwa itu membuatnya sediktit terluka?

Mungkin kalian perlu mengingat dialog dengan ibu saat masih belajar berbicara:

Kamu: "Itu apa, Bu?"

Ibu: "Itu meja. Meeee…jaaaa…."

(selang beberapa menit)

kamu: "Itu apa, Bu?"

Ibu: "Itu meja. Meeee….jaaaa…."

Nah, lihat kan? Saat kalian belajar berbicara, juga selalu mengucapkan pertanyaan yang sama. Sebagian besar ibu di belahan dunia manapun biasanya akan berulang-ulang menjawab tanpa bosan dan marah meskipun ditengah kesibukannya.

Mendengar cerita yang sama tak akan mengurangi tabungan kalian dan tak akan pula menguras tenaga, bukan? Jadi, dengarkan lah, Ia hanya meminta waktu sedikit. Luangkanlah.

7. Mendoakan

Doa adalah hadiah yang paling bergarga

Doa adalah hadiah yang paling bergarga via https://3.bp.blogspot.com

Bagiku, poin yang terakhir ini adalah yang paling membahagiakan bagi seorang ibu.

Memang, tak ada satu pun yang dapat menandingi jasa ibu dalam membesarkan kalian. Tapi kalian bisa membalasnya dengan doa untuk kesehatannya, rejekinya, kebahagiaannya, keamanannya, dan sebagainya.

Hadiah-hadiah kecil yang berupa materi tentulah berarti. Namun, tidak akan lagi berguna jika ibu telah tiada. Doa kalian lah yang terus menerus akan membantunya mencapai surga. Ingat kan, salah satu amalan yang tak akan berakhir adalah doa anak kepada orang tuanya?

Jangan lupa buat ibu senang dengan mendoakannya ditengah kesibukan hari-hari kalian ya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya