Dataran Tinggi Dieng, yang banyak orang memanggilnya dengan sebutan “negeri di atas awan”, terletak di wilayah Kabupaten Wonosobo (Dieng Wetan) dan Kabupaten Banjarnegara (Dieng Kulon). Mengapa disebut negeri di atas awan karena daerah ini berada di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dan sering diselimuti kabut sehingga membuat siapa saja yang berada di daerah tersebut seperti sedang berada di kayangan. Dataran Tinggi Dieng menawarkan banyak keunikan yang sulit ditemukan di tempat-tempat lain di Indonesia. Apa saja keunikan-keunikan yang dimiliki oleh Dieng?

1. Daratan tinggi terluas kedua yang dihuni manusia setelah Tibet

Landscape salah satu desa di Dieng via http://dieng.org

Beberapa artikel menyebut Dataran Tinggi Dieng sebagai Dataran Tinggi (plateau/plato) terluas kedua yang dihuni oleh manusia setelah Tibet. Gelar tersebut dirasa pantas diraih Dieng karena memang banyak manusia yang menetap dan membangun kehidupannya di daerah yang tergolong terpencil tersebut.

Advertisement

Dataran tinggi yang terletak di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut ini dihuni masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani sayuran dan buah. Penduduk terdahulu mengubah lahan-lahan yang tadinya tak berpemilik menjadi “tambang emas” mereka dengan menanami kentang, kubis, wortel dan sayuran lainnya. Dan sampai sekarang, Dieng menjadi tempat hidup dan menghidupkan ekonomi bagi “wong gunung” tersebut.

2. Ada salju di Dieng. Tidak percaya?

Dieng berasa Eropa. Bersalju via https://ekaandrisusanto.files.wordpress.com

Karena berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut pastinya membuat suhu di Dataran Tinggi Dieng sangat menusuk tulang. Jika kamu sedang berada di dalam rumah di sana dan kamu menginjakkan kakimu di lantai keramik tanpa alas kaki, kamu akan merasa seperti menginjak sebongkah es batu berukuran raksasa.

Pada bulan Juli – Agustus, suhu pagi hari di Dieng bisa sangat rendah. Tercatat pada bulan Juli 2015, suhu turun sampai ke angka minus 1 derajat Celcius dan di siang hari bersuhu 10 – 15 derajat Celcius. Suhu rendah di pagi hari memunculkan embun beku atau frost yang oleh penduduk lokal sering disebut sebagai bun upas.

Advertisement

Bun upas atau butiran salju sering muncul di permukaan tanaman dan ketebalannya bisa sampai 0,5 centimeter lho! Kalau ingin lihat salju, tidak usah jauh-jauh ke Swiss. Cukup datang ke Dieng pada musim kemarau.

3. Bocah berambut gimbal itu bukan fans berat Reggae. Mereka bocah Istimewa!

Prosesi pemotongan rambut gimbal anak Dieng via http://adigunaku.blogspot.com

Rambut gimbal atau dreadlock umumnya identik dengan anak Reggae. Tapi bagi beberapa anak di Dataran Tinggi Dieng, rambut gimbal mereka bukan karena menjadi fans berat musik Reggae. Rambut gimbal mereka tumbuh alami dan dipercaya sudah ada sejak jaman dahulu.

Anak-anak di Dataran Tinggi Dieng yang mempunyai rambut gimbal adalah anak yang tergolong diistimewakan. Bagaimana tidak, rambut gimbal mereka harus dipotong jika si anak sudah menyatakan keinginannya untuk potong rambut. Jika tidak meminta, tentu saja sangat tidak diperbolehkan. Ketika rambut si anak sudah dipotong, ia akan memiliki rambut normal seperti anak pada umumya.

Memotong rambut gimbal pun tidak boleh sembarangan. Harus ada ritual atau upacara khusus (ruwatan) jika tidak ingin anak tersebut jatuh sakit. Pada pagi hari sebelum ritual, biasanya orang tua akan menanyakan apa saja keinginan anak dan sang orang tua harus bisa memenuhinya. Jika tidak, ritual harus ditunda.

Sekarang, prosesi pemotongan rambut gimbal dilakukan secara massal dan dijadikan atraksi pariwisata karena biaya ritual yang tidak murah. Ruwatan massal anak berambut gimbal ini bisa disaksikan dalam acara tahunan Dieng Culture Festival yang biasanya diselenggarakan pada bulan Agustus oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Acara tahunan ini juga menyuguhkan atraksi lain seperti Jazz Atas Awan, pesta bakar jagung, pesta lampion, pagelaran wayang kulit, pameran kesenian dan kerajinan tradisional dan masih banyak yang lainnya.

4. Desa tertinggi di pulau Jawa ada di Dieng. Desa Sembungan, benar-benar desa di atas awan!

Desa Sembungan, desa tertinggi di Jawa via http://www.diengindonesia.com

Salah satu keunikan lainnya yang dimiliki oleh Dataran Tinggi Dieng adalah keberadaan desa tertinggi di pulau Jawa. Inilah dia Desa Sembungan. Desa yang terletak di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut dipercaya sebagai cikal bakal dimulainya kehidupan bermasyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Orang-orang terdahulu datang dan menetap di desa tersebut dan kemudian menyebar ke daerah-daerah di sekitar dan membentuk desa-desa baru.

Desa Sembungan kini dihuni sekitar 1.300 jiwa yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayuran dan buah papaya gunung (Carica). Desa ini menjadi sangat indah karena keberadaan sebuah telaga bernama Telaga Cebong yang dikelilingi bukit yang berhiaskan hijaunya areal perkebunan sayuran warga. Akhir-akhir ini, desa ini menjadi sangat terkenal karena menjadi akses utama menuju Gunung Sikunir, spot terbaik untuk melihat golden sunrise di Dieng.

Desa ini tidak terlalu sulit untuk dijangkau, yaitu berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat wisata Dataran Tinggi Dieng. Jalanan yang sudah di aspal cukup baik akan memudahkanmu untuk berkunjung dan bercengkrama dengan para penduduk desa tertinggi yang sangat ramah tersebut.

5. Gunung Sikunir, salah satu spot Sunrise yang tanpa cela! Golden Sunrise dan jajaran gunung di sekitarnya siap memanjakan matamu yang lelah

Golden Sunrise di Puncak Sikunir, Dieng via http://birowisatadieng.com

Mungkin belum sepopuler spot sunrise di Bromo, tapi dijamin golden sunrise dari atas Gunung Sikunir sangat amat tidak kalah menakjubkan. Namanya saja golden sunrise, sunrise yang terlihat seperti emas karena menyuguhkan fenomena matahari terbit yang sempurna dan “mahal”.

Dari ketinggian 2.463 meter dari permukaan laut, kamu bisa melihat matahari yang perlahan terlahir dan melukiskan gradasi warna jingga dan biru tua yang menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Bukan itu saja, jika cuaca cerah, kamu juga akan dimanjakan dengan jajaran gunung yang berbaris seperti Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, dan Ungaran lengkap dengan kabut yang membentang seperti lautan kapas mengelilingi gunung.

Trekking kurang lebih 1 jam dengan udara tipis menaiki gunung tersebut dijamin terbayar lunas ketika melihat atraksi alam tanpa cela tersebut. Waktu yang paling sempurna untuk menjadi saksi golden sunrise di Puncak Sikunir adalah pada bulan Juli – Agustus.

6. Ada buah yang hanya bisa tumbuh di Dataran Tinggi Dieng dan Pegunungan Andes. Inilah Carica! Buah para Dewa

Buah Carica khas Dieng yang belum diolah via http://www.satyawinnie.com

Banyak orang awam salah menyebut buah ini dengan sebutan “rica-rica”. Yah, memang sedikit mirip sih. Inilah buah Carica, buah yang hanya bisa tumbuh di Dataran Tinggi Dieng dan di Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Carica juga bisa disebut sebagai Pepaya Gunung.

Carica berasal dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Menurut beberapa sumber, buah ini dibawa pada masa menjelang Perang Dunia II oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan berhasil dibudidayakan di Dataran Tinggi Dieng. Banyak orang menyebutnya buah para Dewa karena buah ini hanya bisa tumbuh di ketinggian mulai dari 1.500-3.000 meter di atas permukaan laut. Saking tingginya mungkin para Dewa pun bisa dengan mudah meraihnya.

Buah Carica berbentuk seperti papaya namun berukuran kecil seukuran mangga dan berkulit kuning keemasan. Aroma buah ini sangatlah wangi dan menggiurkan. Daging buah ini jika dimakan mentah akan terasa sepat, tidak seperti buah papaya pada umumnya. Penduduk lokal biasanya mengolah buah ini menjadi manisan dalam botol, keripik, dodol dan sirup. Dan karena rasanya yang lezat, harum, kenyal dan aman dikonsumsi, buah ini banyak diburu oleh wisatawan yang datang ke Dataran Tinggi Dieng. Penasaran rasanya buah “para dewa” ini?

7. Bangga menjadi salah satu daerah penghasil kentang terbesar di Indonesia

Saatnya memanen kentang via http://foto.viva.co.id

Di masa lalu, Dataran Tinggi Dieng merupakan daerah pegunungan berapi yang aktif. Hal ini yang menyebabkan Dataran Tinggi Dieng memiliki tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Potensi ini yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dieng untuk bercocok tanam. Salah satu komoditas andalan penduduk Dieng adalah Kentang.

Kualitas Kentang Dieng diakui oleh provinsi-provinsi lain di Indonesia. Kentang-kentang yang berkualitas baik akan dikirim ke daerah lain dan sisanya masuk ke pasar local. Mayoritas masyarakat memilih kentang karena modalnya kecil dan hasilnya bisa berlipat ganda.

Namun, karena banyaknya pembukaan lahan hutan lindung untuk penanaman sayuran dan pemukiman dan juga sistem pertanian dengan menggunakan bahan-bahan tidak ramah lingkungan seperti pestisida dan pupuk buatan menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Banyak terjadi erosi dan bila musim hujan sering terjadi bencana longsor. Kualitas air di daerah tersebut pun menurun. Semoga di masa yang akan datang masyarakat bisa lebih menjaga kondisi alam Dieng agar terhindar dari bencana alam di kemudian hari.

8. Dieng menyuguhkan Totally Unlimited Adventure; Kawah, telaga, gua, candi, gunung, wisata kuliner, semuanya ada!

Telaga tertinggi di Dataran Tinggi Dieng, Telaga Dringo via http://www.visitindonesia.travel

Dataran Tinggi Dieng benar-benar menawarkan paket petualangan yang sangat lengkap! Petualanganmu di Dieng bisa dimulai dengan munyusuri keindahan gunung-gunung yang ada di sana. Dieng memang tidak lepas dari keberadaan gunung-gunung di sekitarnya yang memberikan pemandangan yang sangat indah.

Beberapa gunung tersebut antara lain Gunung Prau (2.565 m) yang sekarang sangat popular untuk camping dan melihat sunrise dan padang rumput, Gunung Sikunir (2.463 m), spot terbaik untuk melihat golden sunrise. Sedikit menjauh ada Gunung Sumbing (3.387 m), Gunung Sindoro (3.150 m), dan Gunung Pakuwaja (2.595 m)

Dataran Tinggi Dieng mempunyai sejumlah telaga yang mempunyai keunikan yang berbeda satu dengan lainnya. Ada Telaga Warna, telaga yang sering memantulkan warna merah, hijau, biru dan Lembayung. Ada juga Telaga Pengilon yang letaknya bersebelahan dengan Telaga Warna tapi berair jernih seperti pengilon (cermin).

Telaga Dringo, telaga tetinggi di Dieng yang disebut-sebut sebagai “Ranukumbolo KW” karena keindahan yang serupa dengan Ranukumbolo dan telaga lain yang tidak kalah indah seperti Telaga Merdada, Telaga Cebong, dan Telaga Nila.

Dieng juga mempunyai sejumlah kawah vulkanik popular seperti Kawah Sikidang, Candradimuka, Sibanteng, Sileri, Sinila, Timbang, dan Sikendang. Beberapa kawah tersebut berpotensi gas beracun dan kawah yang paling sering dikunjungi adalah Kawah Sikidang. Selain kawah, Dieng juga mempunyai beberapa gua sacral untuk kegiatan spiritual warga seperti Gua Semar, Gua Jaran dan Gua Sumur (Sumur Jalatunda).

Tidak habis disitu saja, Dataran Tinggi Dieng mempunyai sisi historis dan budaya Hindu yang kental dengan keberadaan kompleks candi Hindu. Kompleks candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7 itu antara lain Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki dan Candi Dwarawati.

Dan jika kamu lelah berpetualang kebanyak tempat tersebut dan merasa sangat lapar, Dieng juga menyajikan makanan khas yang akan menggugah selera makanmu. Tutup harimu dengan meminum secangkir Teh Tambi, teh asli Wonosobo, yang panas dan kental, makan Mie Ongklok dengan Tempe Kemul dan sate sapi dan ditutup dengan manisan Carica yang segar. Petualanganmu di Dataran Tinggi Dieng terasa tak terlupakan!

Bagaimana? Ternyata Dieng sangat unik kan? Inilah wajah Indonesia yang harus kita banggakan dan kita jaga kelestariannya. Jangan sampai orang-orang luar sibuk menjaga apa yang kita miliki tapi kita tidak tahu apa pentingnya menjaga budaya dan alam kita. Malu rasanya. So, welcome to Dieng Plateau, guys!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya