Agar Bisnis Semakin Cuan, Ini 5 Tips Branding untuk Bisnis Kuliner!

Nama Brand Semakin Dikenal, Semakin Untung!

Branding tidak melulu tentang produk atau barang saja. Bisnis kuliner juga butuh branding yang bagus. Sayangnya beberapa brand kuliner tidak terlalu mempedulikan branding, padahal branding merupakan hal yang penting untuk zaman sekarang. Sebab dengan branding yang bagus akan menaikkan nilai produk, semakin dikenal oleh customer dan otomatis akan menambah keuntungan juga.

Yuk, simak 5 tips branding untuk bisnis atau usaha kuliner biar semakin cuan!

Advertisement

1. Pilih nama brand yang unik dan menjual

Branding/Foto oleh Eva Elijas

Branding/Foto oleh Eva Elijas via https://www.pexels.com

Yang pertama yang harus dilakukan ketika membangun sebuah usaha adalah memikirkan nama brand. Nama brand adalah hal yang krusial dan sebisa mungkin dipakai seterusnya. Oleh karena itu, hindari menggunakan nama brand yang aneh-aneh atau kurang menjual. Terkadang nama brand hanya dipikirkan seadanya, sehingga kurang menarik. Kesalahan pemilihan nama, juga akan berdampak panjang dan mispersepsi dari orang-orang.

 

Advertisement

Misalnya Warung Sempag , sempag dalam bahasa Jawa berarti celana dalam. Dengan memberi nama Warung Sempag, maka akan membuat orang berpikir dua kali untuk makan di tempat tersebut. Terdengar lucu, tetapi tidak etis. Nama brand yang bagus akan membuat orang-orang tertarik untuk berkunjung. Sebaiknya, pilih nama brand yang unik dan spesifik. Contohnya Toko Kopi Tuku, yang pasti produk utamanya adalah kopi atau Sate Ratu, yang menjual olahan sate. Nama brand yang unik dan beda ini bisa didaftarkan di HAKI, agar tidak ada yang menggunakan nama brand yang sama.

2. Maksimalkan teknologi

Social media/Foto oleh Tracy Le Blanc

Social media/Foto oleh Tracy Le Blanc via https://www.pexels.com

Setelah memiliki nama brand yang bagus, sayang bukan kalau tidak di-publish? Tidak perlu pusing-pusing pasang iklan atau sewa baliho untuk memasarkan produk kuliner, cukup maksimalkan social media saja!. Zaman sekarang hampir semua orang memiliki social media, apalagi kaum millennial. Tidak ada salahnya jika warung rumah makan sederhana punya Instagram. Terkadang justru warung makan sederhana inilah yang dicari anak muda zaman sekarang. Jika ditanya, sebagian anak muda pasti mengetahui rekomendasi kuliner dari Instagram, entah dari postingan teman, selebgram atau akun kuliner.

Advertisement

 

Ketika punya bisnis kuliner, sebisa mungkin buatlah akun Instagram. Dengan ini, bisnis kuliner dapat  menjangkau market anak muda dengan lebih mudah. Namun, jangan sekadar punya saja! Buatlah postingan atau konten yang menarik, seperti foto makanan yang menggiurkan dan foto tempat atau suasananya. Apabila ada budget lebih, maksimalkan potensi Facebook Ads agar menjangkau lebih banyak orang.

3. Daftar di aplikasi ojek online atau food delivery service

Food delivery/Foto oleh Mike Jones

Food delivery/Foto oleh Mike Jones via https://www.pexels.com

Di era pandemi seperti sekarang, orang-orang sudah mengurangi mobilitasnya. Baik kantor maupun sekolah, dilaksanakan dari rumah saja. Hanya bermodalkan handphone, orang-orang bisa memesan makanan dari rumah. Untuk menambah keuntungan dan menjangkau customer, bisnis kuliner bisa mendaftar menjadi merchant di aplikasi ojek online atau food deliver service.

 

Sejauh ini, aplikasi yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah aplikasi GoFood, GrabFood dan yang baru, Shopee Food. Tidak perlu daftar ketiganya, jika dirasa tidak mampu menanganinya. Cukup salah satu saja, namun telaten dalam mempersiapkan pesanan yang masuk.  Dengan mendaftarkan bisnis kuliner di aplikasi tersebut bisa menaikkan branding juga. Sebab dengan itu, kepercayaan customer semakin meningkat. Terlebih lagi jika restoran memiliki rating yang bagus dan ulasan yang positif.

4. Hindari membuat klaim-klaim

Diskusi/Foto oleh Ketut Subiyanto

Diskusi/Foto oleh Ketut Subiyanto via https://www.pexels.com

Tidak semua brand harus punya slogan atau klaim. Terkadang klaim yang dibuat justru jadi boomerang sendiri. Misalnya, klaim, Bakso paling enak se-Jogja tapi ternyata menurut sebagian orang tidak enak, jadinya klaim tadi hanya bualan semata. Klaim, Bakmi ayam murah, buktikan sendiri!, kata 'murah' sebenarnya relatif, definisi murah bagi tiap orang bisa beda-beda. Jangan sampai diprotes customer jika harganya sebenarnya tidak murah.

 

Pemilik usaha kuliner tidak perlu membuat klaim selangit yang bisa terkesan murahan. Pada dasarnya,review atau ulasan customer lah yang bisa menjadi klaim sendiri. Kadang ulasan jujur dari customer, justru membuat orang lain tertarik. Misal, customer memberi ulasan seperti ini, Satenya gurih dan pedas, beda dengan sate kebanyakan, orang-orang akan tertarik untuk mencoba, sebab di benak mereka, sate kebanyakan adalah sate khas Madura dengan bumbu kacang yang manis.

 

Ulasan dan komentar dari para customer, bisa dibuat menjadi klaim-klaim bisnis kuliner itu sendiri. Agar branding semakin naik, cobalah sesekali publish komentar customer yang didapat melalui Google Review, atau  aplikasi ojek online lewat social media. Dengan begitu, akan semakin banyak orang tertarik untuk mencobanya.

5. Dekat dengan customer

Interaksi dengan cusstomer/Foto oleh Andrea Piacquadio

Interaksi dengan cusstomer/Foto oleh Andrea Piacquadio via https://www.pexels.com

Bisnis yang dapat berjalan dan bertahan lama, adalah yang dekat dengan customer-nya. Inilah kunci keberlangsungan hidup bisnis, tak terkecuali bisnis kuliner. Apabila bisnis tersebut tidak pernah mendengarkan pendapat atau keluhan customer, cuek terhadap kebutuhan customer, atau tidak ramah terhadap customer, bisa-bisa bisnis tersebut tidak berlangsung dengan lama. Memang tidak perlu menyapa customer satu per satu, namun ketika mereka menyampaikan keluhan, sebaiknya didengarkan. Terlebih jika menyangkut kesalahan dari pihak sendiri, sebaiknya berikan compliment, agar pengalaman customer terhadap brand kuliner tersebut tidak menjadi buruk.

 

Dekat dan ramah terhadap customer, bisa dicapai dengan rajin membalas pertanyaan atau komentar yang diajukan di social media. Bisa juga dengan cara sesekali mengobrol dengan customer dan menampung kritik saran dari customer. Jika customer merasa puas dengan pelayanan di restoran atau warung makan tersebut, pastinya mereka akan merekomendasikan kepada keluarga, teman atau koleganya. Hal ini tentunya menaikkan branding usaha kuliner tersebut.

Nah, itu dia 5 tips branding untuk usaha kuliner! Tidak terlalu susah untuk diaplikasikan, bukan? Kelima tips di atas terinspirasi dari buku Kok Bisa Gitu yang dikarang oleh Fabian Budi Seputro dari Sate Ratu. Kalau ada tips lain menaikkan branding untuk bisnis kuliner, jangan lupa di-share ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE