Anak Pertama dan Suara Yang Selalu Ia Simpan di Dalam Hatinya

Menjadi segala yang pertama memang tidak mudah. Begitu juga bagi anak pertama. Berisitirahatlah jika kamu lelah.

“Menjadi anak pertama adalah kesempatan besar untuk menjadi seseorang yang besar.” Ya, kalimat itu pantas disematkan kepada anak pertama dalam keluarga. Bukan berarti, anak kedua, ketiga, dan seterusnya tidak punya kesempatan menjadi orang besar seperti anak pertama, tetapi harapan dan beban yang besar terkadang memang dibebankan lebih kepada anak pertama.

Bahunya diminta untuk lebih kuat, hatinya diminta untuk lebih tegar, jiwanya diminta untuk lebih sabar. Tidak mudah memang menyandang gelar anak pertama di dalam keluarga. Sejak kecil, diajarkan oleh orangtua untuk tumbuh lebih cepat dewasa dibandingkan saudara-saudara yang lainnya. Ada kesepakatan yang otomatis bahwa suatu hari nanti, kamulah yang akan menerima tongkat estafet dari mereka untuk merawat dan menjaga keluarga.

Sebagai anak pertama, seringkali banyak sekali isi hati dan cerita yang mereka pikir untuk lebih baik memendamnya saja. Takut menjadi beban lebih bagi orangtua dan akan merasa berat jika harus diceritakan kepada adik-adiknya. Tulisan ini mungkin sedikit mewakili, rasa yang selama ini banyak kamu simpan di hati, sebagai anak pertama. 

Advertisement

1. Terkadang muncul perasaan dalam diri, di mana tidak siap untuk berbagi dan menerima bahwa bukan lagi satu-satunya cinta diantara mereka.

Photo by Liza Summer from Pexels

Photo by Liza Summer from Pexels via https://www.pexels.com

Hal pertama yang sangat perlu diapresiasi dan dihargai dari anak pertama adalah kerelaan hatinya untuk berbagi cinta dari orangtua.

Dulu dia adalah permata hati yang sangat dinanti dan sebagai bukti jati diri dari sepasang suami dan istri. Namun, semuanya terkadang berubah ketika ada sosok kecil yang hadir lagi.

Advertisement

Dan dia harus bisa berbagi dan mengasihi. Ini bukanlah hal yang mudah, ketika dia harus berbagi cinta dan perhatian dari orangtua. Dan mungkin saja cintanya tak hanya dibagi menjadi dua, tapi tiga, empat, lima dan seterusnya.

Wahai anak pertama, kamu sudah hebat sejak kamu itu ada. Bahumu sudah kuat sejak kamu menerima bahwa kamu bukan satu-satunya yang harus dimanja. 

2. Dituntut cepat mendewasa, terkadang ada rasa sulit untuk menerima.

Foto oleh Alexandr Podvalny dari Pexels

Foto oleh Alexandr Podvalny dari Pexels via http://https

Ketika orang tua tidak ada di rumah, seringkali anak pertama berubah peran menjadi “kepala keluarga” sementara.

Tiba-tiba dianggap sebagai orang dewasa yang bisa mengatasi semua semuanaya. Ia harus bisa menjaga keadaan rumah dalam aturan yang sudah ditetapkan orang tua.

Menjaga adik, membersihkan rumah, dan kegiatan rumah tangga lainnya seringkali menjadi tanggung jawab anak pertama.

Ketika tanggung jawab tersebut dianggap tak berjalan baik, orangtua pun tak segan memberikan kritik. Terkadang ini menjadi sesuatu yang sulit dan rumit. 

3. Daripada menambah masalah dan tak dianggap dewasa, lebih baik mengalah saja.

Foto oleh Liza Summer dari Pexels

Foto oleh Liza Summer dari Pexels via http://https

Terkadang anak pertama berpikir daripada menambah runyam masalah dan membuat hal yang kecil menjadi besar dan yang besar menjadi menjadi tambah lebih besar, lebih baik menyudahinya dan mengalah saja.

Menyadari bahwa sodaranya yang lebih muda belum mengerti dan berpikir lebih baik menahan diri. Berharap orangtuanya akan mengerti dan bisa menghargai. 

4. Disaat kondisi tak baik-baik saja, terkadang aku butuh tempat bersandar juga, seperti yang lainnya.

Photo by Alena Darmel from Pexels

Photo by Alena Darmel from Pexels via https://www.pexels.com

Menjadi anak pertama yang dituntut menjadi lebih dewasa terkadang seringkali ia banyak memendam rasa.

Berpikir bahwa sebenarnya ia harus selalu mandiri dan menyelesaikan masalahnya seorang diri, membuat ia kehilangan tempat untuk berbagi. Padahal sebenarnya ia pun sama, manusia biasa yang membutuhkan tempat untuk saling berbagi rasa.

Untuk kamu anak pertama, kalau ada masalah jangan dipendam sendiri yaa carilah tempa yang bisa kamu percaya untuk berbagi. Tak apa kesampingkan dulu ego dalam diri, dengan begitu kamu semakin siap untuk bisa lebih kuat lagi. 

5. Harus selalu siap menjadi sosok pengganti orangtua, terkadang rasa takut akan gagal selalu ada.

Photo by RODNAE Productions from Pexels

Photo by RODNAE Productions from Pexels via https://www.pexels.com

Menjadi anak pertama, berarti ia menjadi pemimpin bagi adik-adiknya. Dan ia harus menjadi siap menjadi pengganti orangtuanya ketika mereka tidak ada.

Terkadang tugas ini menjadi beban berat ketika dirasa, dimana ia harus bisa lebih dewasa dan menjadi teladan dan pelindung bagi saudara-saudaranya. Wahai anak pertama, kamu hebat dan kuat dengan segala tanggungjawab yang ada. 

6. Terbiasa hidup mandiri menjadi lupa rasanya sepi dan sendiri.

Photo by Tima Miroshnichenko from Pexels

Photo by Tima Miroshnichenko from Pexels via https://www.pexels.com

Karena tanggungjawabnya yang begitu besar, anak pertama harus lebih mandiri dan belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.

Takut menjadi beban pikiran orangtua yang sedang sibuk mengurus adik-adiknya, membuatnya harus berpikir dan bertindak lebih dewasa.

Ketakutan akan kesepian dan kesendirian, terkadang tidak dirasa dan semakin lama semakin terbiasa. Entah karna sudah rela atau karna sudah mati rasa.

Tapi yang pasti kamu hebat karena kamu bisa bertanggungjawab dan menerima semua konsekuensi atas semua keputusan yang kamu buat sendiri. 

7. Terkadang berandai-andai bukan menjadi sosok yang tertua dalam keluarga dan rindu rasanya dimanja.

Photo by RODNAE Productions from Pexels

Photo by RODNAE Productions from Pexels via https://www.pexels.com

Menjadi yang tertua dalam keluarga, membuat ia harus berbagi kasih dan cinta orangtua kepada adik-adiknya. Orangtua yang dulunya memanjakannya, kini harus dibagi dan ia harus memahami.

Namun, rasa sebagai anak tentu pasti ada. Pelukan dan ciuman yang tulus dari orangtua, seringkali dirindukannya. Untuk para orangtua, sejatinya anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya juga sama.

Mereka tetap menginginkan kehadiran dan pelukan yang biasa dulu kalian lakukan. Jangan dibeda-bedakan yaa karena mereka butuh cinta dan kasih sayang sama besarnya. 

8. Semuanya tak ada yang perlu disesalkan. Terpaan dan tekanan yang ada semakin membuat mentalku kuat untuk bertahan.

Photo by RODNAE Productions from Pexels

Photo by RODNAE Productions from Pexels via https://www.pexels.com

Anak pertama biasanya memiliki mental yang kuat, jiwa yang berani, dan dia juga orang yang bisa mengayomi. Siap berdiri di kaki sendiri, mungkin semboyan yang cocok untuk disematkan kepada anak pertama.

Untuk kamu anak pertama, kamu begitu berani untuk menghadapi sesuatu yang mungkin banyak tidak kamu mengerti.

Namun, dengan kegigihanmu dan keberanianmu, kamu bisa menaklukan segala rintangan yang mungkin orang lain berpikir kamu tidak akan mampu. Teruntuk anak pertama,kamu sudah hebat sedari kamu dilahirkan di dunia. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang pembelajar ulung yang sedang berpetualang mencari makna kehidupan.

CLOSE