Ehm… sebuah pertanyaan yang terlalu luas untuk dijawab. Pertanyaan ini membutuhkan reuni perasaan selama hidup sampai seseorang melontarkan pertanyaan ini untuk kita jawab. Reuni perasaan ini campur aduk. Jika diaduk bagai kopi susu yang bercampur sempurna. Kopi yang hitam melambangkan perasaan yang kelam dan susu yang putih melambangkan perasaan yang jernih. Saat diaduk, kedua bahan ini akan menyatu dan menghasilkan warna yang menggugah selera. Perpaduan kopi dan susu ini lah yang melambangkan kebahagiaan. Ya, sebuah perpaduan indah yang menyimpulkan kebahagiaan dalam hidup.

Kehidupan itu seperti sebuah buku dengan lembaran-lembaran kertas. Lembaran-lembaran kertas ini akan memuat beragam kejadian dari hari-hari yang kita alami. Pemilik buku akan menentukan apa isi dan warna dari setiap lembaran. Tentunya kita menginginkan isi dan warna yang indah. Namun, tak semua kejadian sesuai keinginan. Apa yang akan terjadi bersifat random. Kejadian apapun itu tak jadi masalah. Yang akan jadi masalah adalah bagaimana respon dan kesan kita atas suatu kejadian.

1. Tidak ada kejadian yang baik dan buruk

Contohnya saja, saat turun hujan.

Advertisement

Hujan ini tidak bisa dikatakan kejadian baik juga tak bisa dikatakan kejadian buruk. Respon dari kejadian ini yang akan menentukan perasaan apa yang akan menyertai kejadian ini.     

Kalian mungkin akan menyukai hujan setelah kemarau panjang. Tapi tak begitu bagi mereka yang tinggal di daerah yang baru saja turun hujan deras dimana permukaan air sudah hampir masuk ke dalam rumahnya. Kalian mungkin akan menyukai hujan saat kalian hanya ingin menghabiskan waktu di rumah.

Tapi tak begitu bagi mereka yang punya rencana menarik di luar ruangan. Perbedaan ini yang membuat beberapa doa jahat seperti, “Ini malam minggu, semoga hujan deras.” #eh

2. Respon atas kejadian ini akan menentukan suasana hati kita

sebuah pergulatan...

sebuah pergulatan… via https://www.kompasiana.com

Advertisement

Mari kita lihat berbagai macam kemungkinan dari perasaan yang mengisi suasana hati masing-masing manusia.

Si Penjuang Kemarau akan berkata, “Hari ini sungguh indah, lihat jejak-jejak air di permukaan yang kering kerontang itu, mereka lepas dari dahaga.”

Si Penjuang Banjir akan berkata, “Tiap hari demikianlah, langit bocor, menumpahkan semua isinya ke dalam rumah, saya sampai tak bisa membedakan mana air hujan dan mana keringat kelelahan.”

Si Pejuang Patah Hati akan berkata, “Saya senang di luar hujan, mereka yang berpasangan bernasib sama di dalam rumah, tapi entah mengapa, saya jadi merasa bersalah ya…?

Si Pejuang Rindu akan berkata, “Saya dengan susah payah menyelesaikan pekerjaan agar bisa ke sini di akhir pekan untuk bertemu dengannya, hujan deras membuat saya terjebak kemacetan dan merelakan waktu berjam-jam ini bersama genangan air bukan dengannya.”

3. Pencipta suasana hati adalah kuasa pemiliknya

penguasa suasana hati...

penguasa suasana hati… via http://scdc.binus.ac.id

Hal yang mudah bagi kita untuk merasa bahagia saat kejadian yang dialami adalah jawaban atas kekurangan kita, seperti contoh si Pejuang Kemarau. Namun, tidak sama halnya dengan si Pejuang Banjir, si Pejuang Patah Hati, dan si Pejuang Rindu.

Si Pejuang Banjir mengalami kejadian yang sama secara bertubi-tubi yang membuat ia terpuruk dalam sesuatu yang ia sebut sebagai masalah. Ketika kejadian yang sama datang lagi, ia sungguh merasa jengah dan lelah. Apa mungkin baginya untuk merasa bahagia? Tentu bisa. Mendapati rumah yang kebanjiran. Air terus masuk ke dalam rumah yang entah berapa kali kita timba airnya sampai kering. Belum kering sempurna, air hujan tak kembali bertamu.

Langit yang gelap dan suara gemuruh mungkin akan menjadi trauma tersendiri. Dalam hati kita berharap, agar semua kejadian ini berhenti. Ada kejadian baru bisa tahu dimana kesalahannya. Dari sini banyak hal yang bisa kita pelajari. Apa mungkin karena rumah di daerah rawan banjir? Apa mungkin perlu meninggikan lantai? Apa mungkin perlu mengajak warga untuk hidup bersih bebas sampah. Semua masalah keluar dibarengi dengan keluarnya solusi.

Permasalahan membuat manusia menjadi lebih kreatif. Saat ada musibah, di sana pula akan terasa peri kemanusiaan dan kehangatan dari orang-orang sekitar yang peduli. Sungguh suatu kondisi yang sangat sulit kita temui di masa-masa tenang kehidupan kita.

Si Pejuang Patah Hati mendapati hidupnya tak seberuntung orang-orang di luar sana. Orang lain ada, saya tidak ada. Ini menimbulkan rasa iri di dalam hati. Rasa iri ini akan membawa kita ke jalan yang baik dan jahat. Semua itu adalah kuasa dari pemilik perasaan ini. Kita akan belajar untuk menjadi bijak atau kerdil. Dan tentu juga akan menentukan derajat kita sebagai seorang manusia. Rasa iri harus dibarengi dengan usaha ekstra. Jika ingin memiliki sesuatu, kita harus berusaha secara bermartabat. Ini akan menjadi pemacu kita untuk lebih maju.

Dan lagi, bukankah kita selalu berharap setiap jejak langkah kita dipenuhi restu dan doa dari orang-orang di sekitar kita. Dan selalu lah memulai diri sendiri untuk memberi restu dan doa yang baik kepada orang lain. Restu dan doa yang baik ini bagai boomerang yang akan kembali ke diri sendiri.

Si Pejuang Rindu telah berusaha semaksimal yang ia bisa untuk mencapai keinginannya. Namun, keberhasilan tak selalu datang dari satu atau beberapa kali percobaan. Dari sini kita belajar, bahwa segala sesuatu itu, sulit didapat. Kita pasti tak akan mudah menyia-nyiakannya, bukan? Kita pun belajar untuk menyayangi setiap hal yang kita miliki.

4. Suasana

Memang tidak semua kejadian itu bisa disimpulkan baik. Tapi jika kita bisa lebih bijak meresponnya, kita akan menemukan bahwa di setiap kejadian pasti ada kebaikan. Untuk kasus ini, kita boleh agak “egois”, ambillah dan simpanlah yang menurut kita baik untuk dimasukkan ke dalam hati kita dan buang jauh-jauh yang menurut kita buruk. Tak ada faedahnya untuk menyimpan ampas atau sampah, bukan?

5. Kebahagiaan tak melulu soal diri sendiri, melihat senyum dan tawa orang lain pun adalah sebuah kebahagiaan

tawa bahagia

tawa bahagia via http://pinterest

Saat kita lahir, masih dalam wujud adik bayi menggemaskan, kita menangis. Saat kita menangis, semua orang dewasa tertawa bahagia menyambut kelahiran kita. Sebenarnya, itu adalah amal pertama kita saat terlahir di dunia karena telah membawa kebahagiaan. Begitu pula, saat kita perlahan beranjak dewasa.

Kita yang masih kanak-kanak, merasakan penderitaan saat harus belajar dan mengerjakan tugas. Tapi nilai yang baik menggantikan jerihpayah itu. Tanpa kita sadari, orang tua kita pun menyimpan rasa bangga atas kerja keras kita. Kita yang sedang berkutat dengan skripsi, merasakan sakitnya penolakan-penolakan dosen pembimbing.

Namun, saat tali toga sudah dipindahkan, diam-diam orang tua membicarakan keberhasilan kita ke semua orang. Hidup memang demikianlah. Sebuah bibit tak pernah siap untuk tumbuh, namun ia harus siap tumbuh berkembang saat musim semi. Tak masalah berapa lama ia berkembang indah, tapi yang pasti, saat ia berkembang, semua orang akan selalu tersenyum melihat kelopak bunga yang cantik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya