Jalan-jalan ke Kota Semarang, kiranya belum lengkap jika belum menikmati kulinernya. Salah satu makanan khas Semarang adalah lumpia. Makanan ini juga cocok dijadikan sebagai oleh-oleh.

Lumpia merupakan makanan yang yang berasal dari Tiongkok. Pada kisaran tahun 1870, pasangan Tjoa Thay Yoe dan Mbak Wasih, memasukan cita rasa manis orang Semarang ke dalam resep lumpianya. Merekalah orang pertama yang memadukan kuliner Tiongkok dengan cita rasa Indonesia menjadi Lumpia Semarang.

Resep Lumpia Semarang Tjoa Thay Yoe dan Mbak Wasih ini diwariskan pada Siem Gwan Sing, menantu yang menikah dengan anak perempuannya, Tjoa Po Nio. Pada kisaran tahun 1930 itu, lumpia menjadi jajanan yang digemari baik keturunan Tiongkok maupun warga Semarang asli.

Usaha Lumpia Semarang ini tidak putus pada Siem Gwan Sing saja. Anak cucu mereka turut meneruskan perjuangan buyutnya dalam berjualan lumpia. Ada tiga aliran dari tiga anak kandung Siem Gwan Sing, yakni Siem Swie Kiem (Lumpia Gang Lombok), Siem Swie Hie (Lumpia Pemuda), Siem Hwa Nio (Lumpia Mataram).

Hingga saat ini, ada 4 toko lumpia dari keturunan Tjoa Thay Yoe dan Mbak Wasih dengan karakter dan rasa yang berbeda-beda.

1. Kios Lumpia Peninggalan Leluhur di Gang Lombok

Main ke Semarang jangan lupa mampir di Lumpia Gang Lombok (foto: dokumentasi penulis)

Main ke Semarang jangan lupa mampir di Lumpia Gang Lombok (foto: dokumentasi penulis) via https://www.pikniek.com

Kiranya, Lumpia Gang Lombok ini adalah peninggalan Siem Gwan Sing, generasi kedua Lumpia Semarang. Kios ini diwariskan pada anaknya, Siem Swie Kiem. Penerus Lumpia Semarang yang bernama lain Purnomo Usodo ini merupakan generasi ketiga.

Toko ini terletak di Gang Lombok no. 11, Purwodinatan dan selalu ramai pembeli. Lumpia Gang Lombok ini masih memegang bahan baku dan resep leluhurnya. Racikan rebung yang tidak berbau serta campuran telur dan udang yang tidak amis jadi alasan banyak penggemar.

Advertisement

Ciri khas Lumpia Semarang adalah kemasan yang berupa besek ketika lumpia hendak dibawa pulang. Namun, pembeli tetap bisa menikmati kelezatan lumpia di tempat. Sembari menikmati lumpia, pembeli bisa mengunjungi klenteng Tay Kak Sie di samping kios dan merupakan kelenteng tua di Semarang.

2. Karakter Baru dari Generasi Ketiga Lumpia Semarang: Lumpia Pemuda

Generasi ke-4 Lumpia Semarang

Generasi ke-4 Lumpia Semarang via http://hellosemarang.com

Pada awalnya, Lumpia Mbak Lien adalah kios lumpia milik Siem Swie Hie. Ia merupakan saudara kandung Siem Swie Kiem (Lumpia Gang Lombok). Toko ini terletak di Jalan Pemuda, maka sering disebut dengan Lumpia Pemuda.

Setelah Siem Swie Hie meninggal, usaha ini dipegang oleh anak perempuannya, Siem Siok Lien. Barulah nama Mbak Lien digunakan sebagai merek lumpia.

Advertisement

Loepia Mbak Lien memiliki karakter tersendiri yang beda dengan Lumpia Gang Lombok, yakni campuran daging udang dan ayam kampung. Untuk mengembangkan penjualan, Mbak Lien membuka cabang di Jalan Pandanaran. Tepatnya di depan pusat oleh-oleh Bandeng Juwana.

3. Sayap yang Melebar dari Generasi Keempat Lumpia Semarang; Lumpia Mataram

Lumpia Semarang bikin ketagihan

Lumpia Semarang bikin ketagihan via https://food.idntimes.com

Masih dari generasi ketiga keturunan pembuat Lumpia Semarang, ada satu kios di Jalan Mataram (Jalan MT Haryono) yang dioperasikan oleh Siem Hwa Nio. Tepatnya di Kampung Baris. Kios tersebut dinamai Lumpia Mataram.

Lumpia Mataram besutan Siem Hwa Nio ini diteruskan oleh anak-anaknya. Ada yang membuka kios-kios baru di seputar Semarang, ada pula yang membuka cabang di Jakarta.

Salah satu penerus Lumpia Mataram ini adalah Tan Yok Tjay. Sama seperti Mbak Lien, Tan Yok Tjay berarti juga generasi keempat Lumpia Semarang. Tan Yok Tjay mendapat julukan master chef Lumpia Mataram karena dedikasinya melanjutkan perjuangan melestarikan makanan tradisional Lumpia Semarang.

Kiranya, Lumpia Mataram adalah aliran Lumpia Semarang yang paling banyak melebarkan sayap. Bahkan generasi kelima Lumpia Semarang lahir dari sini dan membuka kios sendiri dengan lebih modern.

4. Kreasi Resep Modern Lumpia Semarang Generasi Kelima

Sebelum berganti nama menjadi Lumpia Cik Me Me, dahulu toko ini bernama Lumpia Delight. Alasan perubahan adalah karena ingin lebih ditonjolkan nama Cik Me Me selaku pemilik dan generasi kelima Lumpia Semarang.

Cik Me Me bernama asli Meliani Sugiarto. Ia merupakan putri bungsu dari generasi keempat, Tan Yok Tjay. Meliani menciptakan konsep modern tanpa bergeser dari bahan baku utama dan kualitas Lumpia Semarang yang sudah melegenda.

Toko Lumpia Cik Me Me ini terletak di Jalan Gajahmada 107. Selain sajian lumpia yang bervariasi seperti daging kakap, kepiting, jamur, dan kambing jantan muda, menu lumpia orisinal masih tetap disediakan.

5. Lumpia Alternatif di Luar Keturunan Lumpia Semarang yang Tersebar di Sudut-sudut Kota

Kios Lumpia Alternatif Tersebar di Sudut-sudut Kota Semarang

Kios Lumpia Alternatif Tersebar di Sudut-sudut Kota Semarang via https://www.pikniek.com

Selain lumpia di atas, ada beberapa kios lumpia yang bukan dari satu garis keturunan. Beberapa kios lumpia ini merupakan usaha mantan karyawan keluarga besar Lumpia Semarang. Sebagian di antaranya merupakan pecinta kuliner yang turut meramaikan bisnis lumpia.

Kios lumpia yang bukan keturunan asli Lumpia Semarang di antaranya adalah Lumpia 57, Lumpia Sari Rasa, dan Lumpia Pak Sastro. Kios-kios lumpia ini meski tidak satu garis keturunan Lumpia Semarang, memiliki rasa yang tak kalah nikmat. Pantas saja sering dijadikan alternatif oleh-oleh karena harganya juga lebih terjangkau.

Ada lagi satu kios lumpia modern yang bisa dijadikan alternative, yaitu Lumpia Express. Kios lumpia ini memang memodifikasi resep. Masih banyak lagi penjual lumpia yang tersebar di sudut-sudut kota Semarang yang memiliki karakter tersendiri. Namun, apa pun kreasinya, cita rasa rebung khas lumpia masih dijunjung tinggi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya