Bagi Laki-Laki Saat Kamu Memutuskan Menganut Paham Patriarki, 5 Hal ini Perlu Kamu Perhatikan Juga, Lho!

Apa itu Patriarki? Sebagian pasti sudah ada yang familiar dengan kata-kata ini. Bagi yang belum pernah mendengarnya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Patriarki adalah perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Paham ini sudah diiwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi, sejak seorang anak masih kecil hingga menjadi dewasa.

Patriarki ini membuat adanya stereotipe gender terjadi mulai dari anak laki-laki akan identik dengan warna biru, bermain sepakbola, bermain layang-layang, dan juga memanjat pohon. Sedangkan perempuan identik dengan warna merah muda, bermain masak-masakan, bermain rumah-rumahan, dan bermain boneka. Sehingga ketika ada salah satu gender yang melakukan kegiatan tidak identik dengan gendernya, para orang tua pun akan khawatir.

Ketika membahas patriarki, perempuan lebih jelas terlihat secara nyata dirugikan akibat ideologi ini. Mulai dari terjadinya KDRT tetapi pihak perempuan disarankan untuk bersabar karena sudah sepatutnya istri menurut pada suaminya. Dilarang mengambil pendidikan yang lebih tinggi dikarenakan ‘pada akhirnya akan kembali ke dapur’, jarang diberikan posisi atau jabatan yang tinggi maupun penting dikarenakan dianggap sebagai sosok yang emosional dan kurang bisa berpikir secara logis, terjadinya pelecehan seksual karena perempuan dilihat sebagai sosok yang lemah atau kurang bisa menjaga dirinya sendiri, dan masih banyak contoh lainnya yang terjadi disekitar kita.

Patriarki memang merupakan suatu ideologi yang percaya bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, namun jangan kira bahwa ideologi ini sepenuhnya menguntungkan untuk laki-laki. Patriarki merugikan laki-laki dengan cara yang tidak langsung terlihat. Banyak hal-hal besar yang malah merugikan laki-laki dibanding keuntungannya.

1. Laki-laki dipaksa harus menjadi sosok yang kuat.

Anak laki-laki dibentuk untuk menjadi kuat

Anak laki-laki dibentuk untuk menjadi kuat via http://privateislandparty.com

Advertisement

Sedari kecil, laki-laki sudah dibiasakan dengan kata-kata “kamu gak boleh nangis ya, cowo kok cengeng” karena menangis dihubungkan dengan sesuatu yang feminim atau yang biasa dilakukan oleh perempuan.

Hal ini mendorong mundur laki-laki secara emosional karena menyamakan kepekaan dengan ‘kelemahan’. Mereka pun mulai tidak akah menghiraukan hal-hal atau perasaan kecil yang mereka rasakan, karena dituntut untuk tetap menjadi sosok yang terlihat kuat ataupun maskulin dari luar.

Walaupun sebenarnya tidak ada salahnya dengan menunjukkan emosi apa yang dirasakan asalkan sesuai dengan tempat juga keadaan pada saat itu..

Advertisement

2. Laki-laki tidak dapat dengan bebas mengekspresikan emosinya.

Laki-laki tidak boleh menangis

Laki-laki tidak boleh menangis via https://www.konbini.com

Dikarenakan laki-laki sudah dibiasakan agar menjadi sosok yang kuat sejak kecil, mereka akan tumbuh menjadi seseorang tidak peka dan memilih untuk tidak memperhatikan atau menghiraukan perasaan yang mereka rasakan.

Seseorang dengan perasaan atau emosi yang tidak dapat tersalurkan dengan baik dapat merusak dirinya sendiri, dan menyalurkan semua emosi yang terpendam dengan cara yang salah kepada orang sekitar mereka.

Yang paling berbahaya adalah dapat membuat mereka merasa tertekan lalu memilih untuk bunuh diri.

Advertisement

3. Laki-laki dilarang untuk mengambil pekerjaan atau hobi yang terlihat feminim.

Laki-laki boleh memasak

Laki-laki boleh memasak via https://russellkorets.com

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, sedari kecil laki-laki dan perempuan sudah diarahkan terhadap hal-hal tertentu. Laki-laki akan diarahkan kepada permainan yang lebih menggunakan fisik, seperti bermain sepak bola, layang-layang, lalu diajarkan untuk bagaimana memanjat pohon, memperbaiki genting.

Orang tua akan khawatir ketika melihat anak laki-lakinya lebih menyukai boneka daripada mobil-mobilan. Ketika mereka sudah dewasa, secara tidak langsung hobi dan pekerjaan apa yang mereka ambil nantinya pun sudah dibatasi.

Memilih untuk mengambil tata busana ataupun memasak masih kerap kali dipertanyakan “kamu yakin mau ambil itu? Itu kan pekerjaan perempuan”. Tetapi jika kita lihat, banyak laki-laki yang malah terkenal dibidang tersebut.

4. Laki-laki dianggap kurang pandai dalam mengurus anak.

Laki-laki pun dapat mengurus anak dengan baik.

Laki-laki pun dapat mengurus anak dengan baik. via http://daddydazed.co.uk

Sebagai seorang ayah dan / atau suami, peran laki-laki biasanya kurang diapresiasi. Mereka biasanya tidak diberikan pekerjaan dengan porsi yang sama untuk mengurus anaknya, dikarenakan mereka dianggap sebagai seseorang yang kurang mampu, tidak mengerti apa-apa, dan kurang bertanggung jawab dalam hal tersebut.

Dalam kasus perceraian pun, laki-laki sangat jarang diberikan hak asuh anak dikarenakan oleh stigma bahwa mereka merupakan pengasuh cadangan jika sang ibu sedang sibuk, juga dianggap kurang mampu menjadi orang tua tunggal bagi anaknya karena tidak atau kurang memiliki sisi keibuan dan tidak pernah bisa mengganti peran seorang ibu bagi anak.

5. Laki-laki biasanya kesulitan untuk dapat dianggap sebagai korban dalam kasus pelecehan seksual.

Laki-laki juga bisa/dapat melaporkan terjadinya pelecehan terhadap mereka.

Laki-laki juga bisa/dapat melaporkan terjadinya pelecehan terhadap mereka. via http://www.survivorsmanchester.org.uk

Jarang sekali kita mendengar mengenai kasus pelecehan seksual terhadap laki-laki, padahal banyak sekali para laki-laki yang mengalami pelecehan seksual.

Namun mereka memilih diam, beberapanya ada yang malu, ada yang tidak mau terkesan membesarkan sebuah masalah kecil sementara perempuan mengalami hal yang lebih buruk dibanding yang mereka alami, ada juga yang takut tidak ada yang mempercayai cerita mereka.

Pelecehan ini tidak hanya sebatas tindakan, namun juga termasuk pelecehan secara verbal. Tidak hanya perempuan, tapi laki-laki pun mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari, dalam pergaulan biasa, saat dijalan, saat di transportasi umum, bahkan kantor pun tidak menutup kemungkinan untuk hal tersebut bisa terjadi.

Patriarki memang merugikan baik untuk laki-laki maupun wanita. Masih mau berkata bahwa pria diuntungkan dengan patriarki?

Yuk edukasi orang-orang yang kamu sayangi, orang-orang sekitar, juga orang lain tentang ini. Mari kita stop budaya patriarki, semua orang berhak diperlakukan dan mendapat perlakuan yang sama dan setara.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

STIKOM LSPR Batch 21 Majored in Public Relations

CLOSE