Sebelum Menyerah dan Meremehkan Dirimu Sendiri, Belajar Dulu Deh dari 5 Hewan Kecil Ini. Yuk Semangat Lagi!

belajar tidak meremehkan dari hewan

Seringkali kita lebih suka mengkerdilkan diri sendiri ketimbang berusaha bangkit dan menggali banyak potensi yang ada di dalam diri kita. Kita keburu membandingkan diri kita dengan orang lain, dan berakhir pada menemukan banyak kelebihan pada orang lain dan sebaliknya, menemukan banyak kekurangan pada diri kita. 

Berat untuk diucapkan, tapi seperti inilah kenyataannya. Sehingga akhirnya, orang lain terus berkembang maju tapi kita hanya di situ situ saja. Tidak melakukan pergerakan apapun, dan hanya sibuk menghitung kekurangan yang makin hari kok (agaknya) makin bertambah. 

Lalu apa yang terjadi setelahnya? Mengasihi diri sendiri? Iya. Meremehkan diri sendiri? Tentu saja. Hanya itu? Iya. Dan waktu akan semakin terus bergerak maju tanpa memberikan toleransi apapun, sehingga hari-hari kita hanya dipenuhi dengan rasa mengasihi dan meremehkan diri sendiri tanpa pernah mau mencoba bergerak dan memaksimalkan apa yang ada pada diri kita.

Oke, oke, tidak perlu lama-lama berpetuah, yuk mari sama-sama baca dan renungkan sikap hidup 5 binatang kecil berikut ini biar bisa menjadi pematik dalam diri kita masing-masing, agar kita tidak akan lagi meremehkan diri sendiri dengan banyaknya kekurangan. Sebaliknya, kita malah semakin bersemangat bangkit mengasah dan memaksimalkan potensi diri.

Advertisement

1. Semut

Semut-semut kecil.

Semut-semut kecil. via https://images.unsplash.com

Iya, semut. Ciptaan yang kecil dan lemah-tidak kuat, tapi sadarkah kita ciptaan yang kecil dan lemah ini bisa memaksimalkan dirinya masing-masing? Iya, mereka bisa menyediakan makanannya sendiri di musim panas tanpa harus mengemis bantuan pada kelompok hewan lainnya. Bagaimana mungkin? Iya, meskipun semut adalah ciptaan paling kecil tapi dia adalah jenis hewan yang rajin. Dan karena kerajinannya ini, semut mampu mengumpulkan makanan bahkan menyimpan persediaan makanan bagi dirinya.

Kecil sih, lemah sih, tapi dia mampu melihat potensi yang ada dalam dirinya dan mengembangkan potensi itu. Semut memaksimalkan sifat rajinnya dengan senang hidup berkelompok, sehingga dengan ini mereka semakin mampu saling bahu membahu untuk terus mengumpulkan makanan dan melanjutkan hidupnya.

Advertisement

Bisa bayangkan? Kecil banget lho semut itu, bahkan, dia hewan yang seringkali secara tidak sadar terinjak kaki kita. Ya, benar, keberadaannya seringkali tidak kita sadari, tapi lihatlah! Dia hewan yang rajin dan mampu memaksimalkan lingkungan sekitarnya. Sungguh taktik menjalani kehidupan mereka begitu hebat kan?

2. Pelanduk

Pelanduk di bukit batu.

Pelanduk di bukit batu. via https://www.digopaul.com

Pelanduk. Bangsa hewan yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu. Pelanduk normalnya berukuran 20-25 cm. Banyak orang memercayai bahwa pelanduk itu sama dengan hyrax (sejenis kelinci kecil yang biasa terdapat di Asia dan Afrika). Binatang ini seperti hewan pengerat dan digolongkan sebagai kelinci bukit batu. Musuh-musuhnya adalah ular, rajawali, elang, macan tutul, anjing, dan binatang-binatang pemangsa kecil lain seperti musang.

Advertisement

Lalu bagaimana kawan kecil kita ini mempertahankan hidupnya? Ya, seperti sudah dijelaskan sedikit diawal, mereka membuat rumahnya di bukit batu, benar, mereka membuat rumahnya dalam lubang-lubang atau celah-celah bukit batu (yang biasa terdapat di sepanjang sisi jurang yang terjal).

Pelanduk begitu cekatan dalam mencari tempat perlindungan, bangsa hewan kecil ini menyadari kelemahannya sekaligus mengetahui kekuatan sebuah bukit batu yang bisa menjamin keamanannya untuk berlindung saat dalam bahaya. Dan, akhirnya pelanduk selamat. Karena, tidak ada satu binatang buas pun yang sanggup merobohkan bukit batu untuk menemukan bahkan memangsa pelanduk.

Dari pelanduk yang kecil dan lemah ini kita dapat belajar tentang pentingnya suatu perlindungan yang teguh. Pelanduk mengajarkan strategi pertahan diri dan tidak mudah menyerah menghadapi banyaknya kelemahan. Keren kan strategi mempertahankan diri ala pelanduk? Yuk, belajar pada pelanduk yang lemah sebelum memilih untuk menyerah pada hidup.

3. Belalang

Kawanan Belalang.

Kawanan Belalang. via https://timlo.net

Binatang kecil dan lemah yang ketiga adalah belalang. Belalang akan tetap berbaris teratur, walaupun tidak memiliki raja.

Belalang bukanlah jenis hewan yang berbahaya dan perlu ditakuti, alih-alih takut, kebanyakan orang melihat belalang dengan tatapan geli. Hewan ini seringkali menjadi mangsa hewan-hewan besar lainnya. Bahkan, anak-anak kecil dengan mudah bisa menangkapnya, karena hewan ini biasanya hanya akan melompat-lompat di rumput atau terbang. Ya, memang, jika kita menemukan belalang satu atau dua ekor memang akan terlihat lemah dan tak berdaya.

Tapi, ya seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa tanpa memiliki pemimpin belalang bisa tetap berbaris teratur, ini menggambarkan bahwa kekuatan belalang yang kecil ini ada bukan ketika mereka hidup sendirian, sebaliknya, mereka punya kekuatan, ketika mereka bersama-sama dan tetap dalam barisan.

Bayangkan jika di rumput rumah kita didatangi lebih dari dua belalang, yaitu, ratusan atau ribuan belalang? Bisa bayangkan, readers? Itu pasti bisa sangat merepotkan dan menakutkan.

Satu belalang tidak berbahaya, tapi kalau banyak bisa sangat merugikan. Nah, kalau kita sebagai manusia yang adalah makhluk sosial bagaimana? Apakah selama ini kita ingin menyerah berjuang dalam hidup ini karena kita terbiasa menutup diri dan enggan bergaul? Jika iya, coba deh belajar dari belalang, mereka bangsa hewan yang sama lemahnya seperti semut ataupun pelanduk, tapi mereka menyadari kekuatannya ketika berada di dalam kawanannya. Sehingga, akhirnya, populasinya tidak punah sampai sekarang ini. Mantap sekali bukan?

Maukah kalian mencoba untuk tergabung dalam komunitas-komunitas sosial, atau mulai mencari rekan yang sepemikiran sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerah? Mungkin memang benar, jika sendirian potensi di dalam diri kalian akan tidak terlihat, tapi jika bersama? Bagiaman? Pasti potensi kalian akan lebih nampak dan berfungsi, seperti belalang. Wanna try?

4. Cicak

Cicak di dinding

Cicak di dinding via https://fumida.co.id

Binatang keempat yang kecil dan lemah adalah cicak. Cicak, iya, hewan yang  dapat kita tangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja. Hebat kan?

Hebat. Kita yang jauh lebih kuat dan besar dibanding cicak saja mungkin belum tentu bisa menginjakkan kaki di istana. Tapi cicak bisa, dan keberadaan mereka tidak akan dipermasalahkan bahkan oleh raja sekalipun.

Mengapa cicak tidak harus dibunuh meski masuk ke dalam istana? Karena cicak bukanlah hewan buas yang bisa merepotkan, bukan pula tergolong serangga yang mengganggu. Kalau menyebut serangga, cicak bisa jadi lumayan berguna karena mereka memakan serangga-serangga yang merugikan seperti nyamuk misalnya.

Meski lemah, ternyata cicak tidak membahayakan dan malah berguna, dan karena itu mereka bisa berkeliaran dengan bebas di dalam istana. Jadi, meskipun kalian kecil dan lemah seperti cicak, tenang, pasti ada keahlian-keahlian kalian dalam lingkungan di tempat kalian berada, yang itu sangat berguna. Jadi jangan menyerah!

Dan dalam mencari makan juga, cicak merupakan jenis hewan yang bisa begitu sabar menanti buruannya. Cicak tidak terburu-buru dalam memangsa. Mereka sangat tenang dan sabar. Dan itu juga bisa menjadi sebuah hal baik untuk kita jadikan pelajaran untuk tidak buru-buru menyerah dalam hidup dan lebih tenang dan bersabar seperti hewan kecil dan lemah nomor empat ini.

Siapa tahu ketika akhirnya kita bisa lebih tenang dan sabar dalam hidup ini, kita akhirnya bisa masuk dalam istana-istana kerajaan dan bertemu para raja seperti cicak. Iya, karena biasanya dalam ketenangan dan kesabaran pasti ada saja ide (hikmat) dari Tuhan yang menjadikan kita orang-orang yang tangkas, cakap, bahkan cerdas. Mau kan?

5. Landak

Si Landak Berduri.

Si Landak Berduri. via https://iphincow.com

Terakhir, landak. Seekor hewan kecil yang dianugerahi Tuhan bulu-bulu penuh duri di bagian punggungnya. Duri ini berfungsi untuk melindunginya dari musuh yang ingin memangsanya. Landak memang tidak memiliki racun, namun karena tajamnya duri-duri tersebut, musuh-musuhnya akhirnya terluka dan memilih untuk menjauhi (meninggalkan) landak.

Jika kalian membuka-buka buku dongeng tentang binatang yang ada di dunia barat sana, kalian akan menemukan kisah The Fox & The Hedgehog, sebuah dongeng yang bercerita mengenai dua hewan yaitu rubah dan landak. Si rubah adalah binatang yang lincah, suka bergerak kesana kemari, menyukai banyak sekali hal dan terkadang suka mengganggu landak. Sebaliknya, landak adalah hewan dengan pola pikir dan hidup yang sederhana. Jika ia menginginkan sesuatu maka hal itu akan dikejarnya sampai dapat.

Jika dalam meraih impiannya tersebut (mendapatkan makanan dan bertahan hidup) ada yang mengganggunya, maka sang Landak akan memekarkan semua durinya sehingga pengganggunya pergi lalu ia akan meneruskan perjalanannya kembali. Tidak ada niatan untuk mengejar pengganggunya. Ia sangat fokus dan disiplin. Ia tidak ambil pusing dengan yang lainnya. Ia hanya fokus dengan tujuannya. Ia disiplin.

Jadi, teladani sifat landak yang mau untuk fokus dan disiplin untuk mendapatkan apa yang jadi tujuan hidupnya (mimpinya). Jangan mudah menyerah, jika dalam proses mewujudkan semua itu kita menemui hambatan-hambatan, penghalang-penghalan, rasa kecewa, lelah, putus asa, maka sama seperti landak yang mau melawan setiap penghalang tujuannya dengan mengeluarkan durinya, kita juga bisa melawan sekuat tenaga setiap hambatan tersebut dengan selalu mendekat kepada Sang Pencipta kita untuk memberikan kita kekuatan lagi untuk tetap fokus dan disiplin. Mau mencobanya?
 

Well, lebih dari kelima hewan di atas yang memang kecil-lemah-tak berdaya tapi cekatan (mampu terus menggali potensi-potensi atau kelebihan di dalam diri mereka) untuk akhirnya tetap bisa bertahan hidup dan melanjutkan hidup, kita sebagai manusia, lebih dari kelima hewan tersebut. Hewan memunculkan kelebihan-kelebihannya untuk bisa bertahan hidup dan terluput dari serangan musuh, itu hanya karena naluri alami saja. T

api, kalau kita, kita diberikan Sang Pencipta kita hikmat-akal budi untuk bisa lebih dari sekedar bertahan hidup dan menghindari \”musuh,\” hikmat-akal budi kita bisa dipakai untuk memaksimalkan kehidupan dalam segala aspek, menggali semua potensi yang ada dalam diri, bahkan akhirnya mencapai apa yang jadi tujuan dan mimpi-mimpi kita dalam hidup ini.

Jadi, sebelum akhirnya mantap meremehkan dirimu dan berujung pada menyerah dengan hidupmu, sebaiknya kamu belajar lebih lagi deh sama kelima hewan kecil nan cekatan ini. Fighting everyone!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Shangrila.(n) ; any place of complete bliss and delight and peace→The Lost Horizon, James Hilton(England,1933)™ Passion Never Weak

Editor

une femme libre

CLOSE