#BelajarDiNegeriOrang-Kesempatan Mengenyam Pendidikan S2 di Luar Negeri yang Tak Terbayangkan Sebelumnya

Ingatlah, kesempatan tidak akan datang dua kali!

Bagi mahasiswa S1 tingkat akhir pastilah sedang dihadapkan dengan beragam persoalan seputar dunia perkuliahan. Skripsi yang tak kunjung dicap “Acc” oleh dosen pembimbing menjadi momok yang kerap menghantui. Belum lagi memikirkan jalan mana yang harus dijejaki selanjutnya selepas lulus S1, apakah langsung melanjutkan S2, atau pilih bekerja, atau bahkan menikah?

Butir-butir rencana mulai tersusun. Seperti bunyi nasihat yang sering didengar,

            “Hidup itu harus punya tujuan dan rencana ke depannya mau jadi apa”

Namun, terkadang ada hal-hal dalam hidup yang terjadi tanpa direncanakan dan justeru membawa keberuntungan. Seperti kisah seorang mahasiswi asal Bandung ini yang tak menyangka bahwa dirinya akan bersekolah ke luar negeri. Dengan modal “iseng-iseng berhadiah” ia pun berhasil mendapatkan beasiswa untuk #BelajarDiNegeriOrang.

Advertisement

1. Langkah awal pencarian beasiswa S2 luar negeri

Photo by @Armin Rimoldy on Pexels

Photo by @Armin Rimoldy on Pexels via https://www.pexels.com

Di tengah kesibukan mempersiapkan sidang kelulusan Apoteker, Dina –akrab disapa- dan temannya mulai membahas tentang langkah lanjutan seusai lulus nanti. Dina pun diajak oleh temannya itu untuk mencoba mencari beasiswa S2 ke luar negeri.

Cari demi cari akhirnya mereka berhasil mendapatkan beasiswa S2 ke Belgia tepatnya di Universiteit Gent program jurusan Public Health Nutrition. Padahal tak ada bayangan dan niatan Dina sebelumnya untuk lanjut kuliah S2 apalagi di luar negeri. Memang terkadang rejeki dan keberuntungan datang di waktu yang tak disangka-sangka.

Advertisement

2. Persyaratan beasiswa yang harus dilengkapi

Photo by@cottonbro on Pexels

Photo by@cottonbro on Pexels via https://www.pexels.com

Sebelumnya, sudah ada kakak tingkat Dina yang juga berhasil mendapatkan beasiswa sejenis untuk kuliah di Universiteit Gent. Hal ini cukup membantu Dina dalam mencari informasi perihal persyaratan pendaftaran yang harus dilengkapi. Syarat-syarat tersebut yaitu sertifikat IELTS (skor minimal 6,5), transkrip nilai dan ijazah S1, surat motivasi untuk berkuliah di universitas yang dituju, serta surat rekomendasi dari dosen.

Untuk sertifikat IELTS bisa saja diganti dengan TOEFL, tergantung mana yang nilainya lebih mendukung sesuai persyaratan. Menurut Dina, seleksi beasiswa tersebut cukup mudah karena hanya membutuhkan seleksi berkas.

3. Merasakan perbedaan atmosfer belajar di negeri orang

Advertisement
Photo by @Andrea Piacquadio on Pexels

Photo by @Andrea Piacquadio on Pexels via https://www.pexels.com

Alasan mengapa banyak orang ingin berkuliah di luar negeri yaitu salah satunya ingin merasakan aura baru hidup di negeri orang. Perbedaan sistem pendidikan dan budaya menjadi hal yang paling dirasakan. Masa kuliah S2 di Universiteit Gent ditempuh selama 2 tahun, sama dengan di Indonesia. Pengajarnya sebagian besar para profesor yang ahli dibidangnya masing-masing.

Sistem penilaian IPK yang digunakan pun sangat jauh berbeda dengan sistem di Indonesia. Dimana rentang nilai yang digunakan yaitu 0-20 dengan cakupan nilai utama bukan dari nilai ujian, namun ada beberapa yang bobot nilainya lebih besar diambil dari nilai tugas. Sistem ujiannya terdiri dari dua jenia yaitu tes tulis dan lisan. Sulit bagi mahasiswa di sana untuk mendapatkan nilai IPK tinggi karena sistem penilaiannya yang cukup rumit.

4. Kemudahan beradaptasi di negara Belgia

Photo by @Jacek Dylag on Unsplash

Photo by @Jacek Dylag on Unsplash via https://unsplash.com

Adaptasi menjadi hal yang wajib dikuasai bagi para perantau. Meskipun Belgia termasuk negara minoritas Muslim, namun tidak tampak dengan jelas diskriminasi terhadap mahasiswa Muslim di sana terlebih untuk yang berasal dari luar negeri. Ada satu tempat di Belgia yang di sana didominasi oleh masyarakat Muslim pendatang seperti dari Timur Tengah dan Indonesia.

Menurut Dina, sistem kehidupan di Belgia yang tertata jauh lebih rapi dibandingkan Indonesia membuat para pendatang merasa mudah untuk beradaptasi di sana. Bahasa yang digunakan umumnya adalah bahasa Perancis, Belanda, dan Jerman. Namun hampir semua masyarakat Belgia mahir dalam berbahasa Inggris sehingga ini juga memudahkan para pendatang dalam bercakap sehari-hari.

5. Peran dukungan orang tua dan kerabat sekitar

Photo by Education Post

Photo by Education Post via https://educationpost.org

Poin terakhir yang paling penting sebelum memutuskan untuk #BelajarDiNegeriOrang adalah restu dan dukungan orangtua serta kerabat. Dina merasa beruntung karena lahir di tengah keluarga yang selalu memberikan respon positif terhadap apa yang diputuskannya.

Dukungan orang tua membuat Dina semakin bersemangat untuk mewujudkan impiannya tersebut. Selain itu, restu dan doa orangtua juga secara tak langsung berpengaruh terhadap kelancaran proses kita selama mengenyam pendidikan di negeri orang. So, pastikan hubungan kalian dengan orangtua baik-baik saja, ya sebelum berangkat belajar ke luar negeri.

Nah, pengalaman Dina di atas bisa menjadi referensi untukmu jika ada bayangan ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri terutama di wilayah Eropa. Selain itu, kisah Dina juga mengajarkan kita untuk memanfaatkan peluang atau kesempatan yang datang sebaik-baiknya, karena kesempatan belum tentu akan datang kedua kalinya.

Kamu juga bisa bergabung di Qatar Airways Student Club, salah satu maskapai yang menyediakan berbagai pelayanan untuk para pejuang kuliah di negeri. Kamu bisa cek di akun Instagram @qatarairways untuk info lebih lanjutnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE