#BelajarDiNegeriOrang-Oh Negeri Sakura! Bermula dari Iseng-iseng Magang Sampai Impian Masa Mendatang

Ada apa dengan Jepang? Ada apa dengan Indonesia kita?

Apa sih yang terlintas dari mahasiswa semester pertengahan? Sibuk menapaki kuliah? Tercebur dan berusaha mengarungi bahtera organisasi? Atau malah kepengen terbang ke negeri orang untuk sekedar menambah ilmu juga pengalaman?

Kalau kamu lagi ada di posisi ini, kamu mendarat di artikel yang tepat! Karena kali ini, saya bakal berbagi kisah pengalaman magang saya selama di negeri sakura alias Jepang, yang tanpa disadari memproyeksikan impian saya di masa mendatang. Siapa tau dengan baca pengalaman ini, kamu jadi makin tergiur untuk mencicipi #BelajarDiNegeriOrang di masa depan! Sudah siap baca ceritanya? Mari meluncur!

Advertisement

1. Mencoba adalah kata sakti

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook via https://www.facebook.com

Bisa dibilang, #BelajarDiNegeriOrang adalah sebuah kalimat yang sedikit pun tak pernah terlintas dalam benak mahasiswa pangan semester 5 seperti saya ini. Rasanya, dulu itu, saya sudah terlanjur cinta dengan dinamika kuliah, kegiatan organisasi, dan kelas-kelas seni yang mengelilingi. Jadi, tak pernah ada jeda untuk memikirkan hal-hal di luar rutinitas favorit saya kala itu.

Walau begitu, saya yang keranjingan baca artikel Bahasa Inggris dan nulis esai-esai pendek di blog pribadi- sering sekali dimintain tolong oleh teman-teman terdekat untuk sekedar mengoreksi dan mengulas proposal exchange program mereka.

Advertisement

Sampai akhirnya, salah seorang teman saya yang berencana magang ke Jepang tiba-tiba menyeletuk, “Ra, kamu kan kasih kita ide untuk nulis proposal exchange yang bagus. Kenapa sih kamu gak sekalian magang ke Jepang?”.

Selayang dengan peribahasa “dunia itu tak selebar daun kelor” yang bermakna bahwa dunia itu tidak sempit. Singkatnya, saya iseng-iseng daftar magang ke Jepang. Mengingat cerita kakak mawapres (mahasiswa berprestasi) di kampus saya yang baru diterima magang di Jepang setelah 14 kali mendaftar di program yang sama dengan yang saya daftar, saya jadi benar-benar tak memiliki ekspektasi apapun. Eh, ternyata….saya lolos one-shot! Alhamdulillah!

Jadi, resepnya apa supaya bisa lolos magang ke luar negeri? Coba, coba, dan coba! Lalu, hilangkan ekspektasi dan semoga beruntung!

Advertisement

2. Aoki yang Dingin Ternyata Penuh Kehangatan

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook via https://www.facebook.com

Berjumpa musim gugur untuk pertama kalinya, saya pikir akan terasa begitu dingin. Apalagi saya magang di perusahaan pangan fungsional yang terletak di Aoki-mura, sebuah desa yang dikelilingi deretan pegunungan di Prefektur Nagano.

Sebenarnya, saya tidak ingin membual. Tapi, sungguh, Aoki-mura menyuguhkan panorama pertanian organik yang amat cantik dengan penduduk lokal yang begitu hangat.

Selama magang di Aoki, saya ditempatkan di divisi pengendalian mutu (QC) pada produk sirup yakon (umbi kesehatan khas Peru), keripik kale, dan spirulina protein bar. Saya terjun langsung dalam memantau pemanenan sayur di ladang organik hingga memproses makanan sehat yang sesuai etika alam.

Di sini, saya belajar untuk lebih menghargai dan mengapresiasi keharmonisan alam dalam menjaga keberlangsungan hidup para sayuran. Melalui kehangatan tangan-tangan petani organik Aoki, saya percaya bahwa sistem pertanian berkelanjutan ini akan mampu menghasilkan sayur-mayur yang lezat nan menyehatkan jiwa raga manusia.

3. Soba Matsuri dan Setumpuk Pertanyaan Tentang Indonesia

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook via https://www.facebook.com

Menutup bulan Oktober, saya dan host family menghadiri festival soba atau disebut dengan Soba Matsuri. Festival ini diadakan sebagai perayaan panen biji gandum hitam (Japanese buckwheat) yang nantinya akan diproses menjadi semangkuk soba. Dalam festival ini, beragam soba dibuat langsung di tempat dan disajikan dingin ataupun hangat. Tak perlu berkata-kata, semangkuk soba khas Nagano sangatlah lezat!

Saat saya mulai mengitari festival ini, saya melihat lebih dari deretan soba. Ada beragam makanan lokal vegan yang sehat, boga bahari segar seperti ikan bakar arang, lalu juga ada gerai produk-produk pangan fungsional khas pertanian organik Aoki yang telah diekspor ke mancanegara. Tepat di sebelah gerai produk pangan organik, ada gerai mesin nanobubble- mesin penjernih air sekaligus perangsang pertumbuhan ikan menggunakan metode gelembung nano yang sangat ramah lingkungan.

Saya masih dibuat terpana oleh festival yang sangat menjunjung tinggi keberadaan alam dan budaya ini, hingga beberapa warga Nagano tiba-tiba menghampiri saya dan mengajak mengobrol.

Mereka bertanya banyak hal tentang Indonesia, mulai dari jenis buah-buahan khas Indonesia, daerah penghasil sayuran terbaik, sampai pertanyaan, “Apakah Indonesia selalu memperhatikan aspek keselarasan alam dalam proses pembuatan pangan sehari-harinya?”. Teruntuk pertanyaan terakhir, saya memilih menyeruput kuah soba saya yang hampir habis.

4. Planisphere yang Telah Memetakannya

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook via https://www.facebook.com

Sepulang kami dari Soba Matsuri, matahari mulai bersembunyi di peraduan. Host mom saya bergegas duduk di samping saya dan menunjukkan planisphere atau peta bintang. Kata beliau, peta bintang ini akan menuntun kita melihat beragam posisi dan rasi bintang di langit malam.

Setelah mengarahkan jarum penunjuk ke tanggal dan waktu pengamatan berlangsung, saya mampu meihat dan membedakan rasi bintang yang muncul di malam itu. Apakah rasi orion (pemburu), rasi leo (singa), atau rasi ursa major (beruang besar).

Sembari menatap keindahan bintang yang menghiasi langit malam itu, host mom saya berkata bahwa terkadang jelasnya rasi bintang yang muncul amat bergantung pada tiga hal yakni ketinggian titik pengamatan, cuaca mendung, dan tingkat polusi. Kata beliau, “Mungkin dua poin awal adalah takdir. Tapi, poin ketiga dapat kita ubah. Salah satunya dengan memastikan proses pengolahan pangan dilaksanakan secara berkelanjutan.”

5. Jepang, Indonesia, dan Cerita Diantaranya

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook via https://www.facebook.com

Penerbangan Jepang menuju Indonesia memakan waktu kurang lebih lima jam. Dan selama itu pula, pikiran saya mengudara menuju masa depan sistem pangan Indonesia. Saya bertanya-tanya dalam hati, “Apakah benar membiarkan alam terbengkalai adalah solusi terbaik sistem pangan di negeri saya?”.

Sebagai langkah awal dalam memecahkan masalah, saya mencoba melihat masalah itu sebagai hal yang dapat dipecahkan. Dimana salah satu jalan pemecahannya ialah dengan menimba ilmu ke negeri empunya sistem pangan berkelanjutan. Yang berarti, saya perlu mengambil kuliah master jurusan Biosphere Sustainability Science di Universitas Hokkaido.

Bisa dibilang, jurusan inilah yang memadukan urusan pangan, kesehatan dan lingkungan guna memenuhi kebutuhan manusia di masa depan. Saya rasa, jurusan ini ialah pilihan paling tepat untuk mewujudkan sistem pangan Indonesia yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.

6. Pesan Sebelum Mengudara Kembali

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook

Photo by Hayunda Lail Zahara on Facebook via https://www.facebook.com

Berbekal pengalaman magang di Jepang, saya mengamini bahwa perjalanan master saya nanti perlu didukung dengan fasilitas mengudara yang mumpuni. Syukurlah, kini ada maskapai sebesar Qatar Airways yang telah meluncurkan program bernama Qatar Airways Student Club bagi para pelajar atau mahasiswa berusia 18-30 tahun di seluruh dunia. Tentunya, program ini hadir dengan beragam manfaat.

Pertama, biaya penerbangan yang ramah kantong pelajar maupun mahasiswa. Program ini memiliki keunggulan dalam hal potongan harga di setiap pemesanan tiket. Qatar Airways akan memberimu potongan harga sebesar 10%, 15%, dan 20% untuk pemesanan tiket pertama, kedua, dan ketiga.

Kedua, fasilitas penunjang yang bakal membuatmu tercengang! Misalnya, jatah bagasi ekstra sebesar 10 kg untuk anggota Student Club Burgundy, fleksibilitas perubahan jadwal penerbangan, koneksi internet gratis selama di udara, hingga peningkatan tingkat Privilege Club sebagai hadiah kelulusan.

Ketiga, bonus ekstra berupa Qmiles. Teruntuk kamu yang mengajak teman untuk bergabung Qatar Airways Student Club, kamu berkesempatan mendapatkan 5.000 Qmiles. Qmiles ini yang nantinya dapat ditukar dengan berbagai manfaat menarik, seperti hadiah penerbangan, kabin atau bagasi lebih besar, berbelanja di Qatar Duty Free, penerbangan dan menginap di hotel mitra Qatar Airways. Wah, menarik banget kan? Jadi, jangan lupa mendaftar di bit.ly/scQatarAirways yaa!

Kembali ke urusan mengudara, bila saya disuruh memilih pesan bagi diri saya maupun untuk orang lain yang sedang memimpikan #BelajarDiNegeriOrang, maka saya akan menjawab dengan sebuah kutipan, “Bermimpilah setinggi langit, jika engkau terjatuh, maka kau akan jatuh di antara bintang-bintang.”. Semoga artikel ini bermanfaat untukmu ya! Selamat mencoba, melangkah, dan bersinar bersama para bintang!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE