Apakah kamu masuk dalam kelompok usia 15 – 34 tahun? Atau mungkin kamu lahir antara tahun 1980 – 2000 an? Jika ya, selamat! Kamu masuk dalam kategori generasi (Y) atau yang biasa disebut generasi era milenial.

Berbicara tentang generasi milenial, secara umum generasi ini adalah generasi yang saat ini tengah banyak menjadi bahan perbincangan masyarakat di berbagai belahan dunia. Generasi milenial disebut-sebut sebagai kelompok generasi yang sangat bergantung pada teknologi dan gaya hidup bebas. Benarkah demikian? Lantas, bagaimanakah cara kita sebagai generasi muda masa depan bisa survive di era milenial?

1. Gadget bagaikan tabung oksigen yang harus dibawa ke mana-mana

harus banget, nih.

harus banget, nih. via https://4.bp.blogspot.com

Tidak bisa dipungkiri bahwa gadget saat ini adalah must have item yang mempunyai peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa gadget, hidup terasa kurang lengkap karena kita diharuskan untuk terhubung dengan khalayak kapanpun dan dimanapun berada. Perangkat kecil nan praktis ini pun kian mengalami perkembangan yang pesat dari hari ke hari.

Advertisement

Generasi milenial pun seolah dipaksa mengikuti perkembangan yang ada, sehingga ketergantungan kepada gadget pun membawa berbagai dampak negatif. Inilah tugas utama kita sebagai generasi milenial saat ini. Yakni mengubah hal-hal negatif menjadi hal-hal yang positif. Salah satu contohnya adalah mulai mengurangi penggunaan gadget untuk hal yang sia-sia dan lebih memanfaatkan kecanggihan teknologi ini untuk hal yang lebih bermanfaat.

2. Gaya hidup hedonis

Gaya hidup hedonis adalah gaya hidup yang lebih mengutamakan materi daripada hal-hal lain. Remaja saat ini adalah remaja yang haus akan perhatian dari orang lain, mereka ingin diakui lewat apa yang mereka miliki. Tak sedikit dari mereka yang terlibat persaingan kurang sehat sebagai akibat dari gaya hidup hedonis. Hal ini tentu kurang baik. Sebagai generasi milenial saat ini kita kembali ditantang untuk mengubah gaya hidup hedonis dengan gaya hidup yang lebih sederhana dan tak haus akan pengakuan yang bersifat sementara. Mulai mengalihkan pemikiran ‘pamer ini, pamer itu’ dengan kegiatan positif seperti ikut organisasi kemasyarakatan tidak kalah keren kok untuk diceritakan kepada teman ataupun di upload ke instagram mu.

3. Nilai sosial yang mulai bergeser

Pergeseran budaya ketimuran menuju budaya kebarat-baratan sudah menjadi alarm darurat di bumi pertiwi. Sembilan puluh persen remaja di Indonesia sudah mengalami pergeseran budaya karena kecanggihan teknologi yang membuat informasi lebih cepat tersebar. Mengetahui dunia luas memang bisa menambah wawasan yang membuat kita lebih cerdas dan maju, tetapi dampak buruk dari kecanggihan internet saat ini sedikit banyak mempengaruhi perilaku kita sebagai generasi milenial. Satu-satunya cara bertahan pada zaman ‘edan’ ini adalah dengan mulai mencintai negara sendiri yang menjunjung erat nilai sosial dan budaya ketimuran. Jangan sedikit-sedikit buka internet, yang dicari malah gosip artis internasional. Coba, deh. Ingat-ingat kapan terakhir kali buka-buka tentang isu nasional.

4. Punya role model, yang tidak punya idola dianggap cupu

Advertisement

“Pake syal panas-panas begini, memangnya mau kemana?” “Eh, jangan salah ya. Ini syal yang dipakai sama aktris inilah di drama itulah.” Well, mungkin semua remaja Indonesia saat ini punya artis idolanya masing-masing. Entah darimana asalnya, remaja yang tidak memiliki artis idola akan dianggap kurang gaul.

Sebenarnya sah-sah saja memiliki artis idola, asal bisa membatasi diri. Artis idola juga manusia biasa yang punya sisi baik dan sisi buruk, nah tugas kita sebagai generasi milenial yang memiliki idola adalah mampu memilah-milah mana yang patut dicontoh dari sang idola, dan mana yang tidak boleh. Banyak kok generasi muda saat ini yang akhirnya mendapatkan beasiswa di negara idolanya karena iseng-iseng mempelajari idola dan negaranya lewat internet.

5. Pola hidup bebas

Dari judulnya saja sudah negatif. Ya, pola hidup bebas yang banyak diterapkan remaja saat ini sudah sedikit banyak membuat khawatir. Banyak hal yang sebenarnya tabu dilakukan, tapi dianggap biasa saja oleh anak-anak zaman sekarang. Kembali lagi ke perkembangan teknologi yang tanpa batas sehingga membuat kita juga ikut berkembang tanpa batas. Pikir ulang sekali lagi, deh. Kehidupan bebas di luar sana tidak mendatangkan manfaat apa-apa. Malah membuat generasi kita mengalami cacat mental dan kerusakan diri.

6. Persaingan dalam hal pendidikan dan pekerjaan.

Mendengar kata persaingan, apa yang kalian pikirkan?

Persaingan tak selalu berkonotasi buruk, loh. Malah generasi milenial saat ini harus turun langsung menghadapi segala persaingan di tengah masyarakat. Persaingan yang dipilih tentulah harus persaingan yang sehat. Pantang menyerah dalam hal mencari pendidikan dan pekerjaan terbaik juga seharusnya tidak hanya berdasarkan gengsi, tapi juga demi keinginan menjadi generasi milenial yang cerdas, produktif dan tentunya berguna bagi bangsa dan negara.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya