Ada sebuah kutipan mengatakan; ” Kalau semuanya mudah, kita tak akan pernah mengerti makna berjuang.” Kurang lebih seperti itu. Memang benar sih, tapi kita sebagai manusia, apalagi hidup di era sekarang ini, semuanya pasti ingin serba cepat, mudah dan murah. Apalagi sekarang, dengan tersedianya jasa pesan antar via online; baik makanan barang atau antar jemput penumpang. Semuanya serba mudah dan bisa ditempuh dengan waktu yang tidak lama. Jika suatu saat kemudahan itu selesai dan kita kembali merasakan kehidupan tanpa media sosial atau semacamnya, apakah kita akan tetap bisa bertahan?

Tak bisa dipungkiri, kita hidup di era sekarang ini memang tidak bisa kembali ke era-nya ayah/ibu atau nenek moyang kita. Kehidupan akan tetap berjalan seiring dengan waktu yang terus berputar dan musim yang terus berganti. Pertanyaan-nya, dengan kehidupan yang serba cepat dan mudah ini, apakah di saat kita bisa menikmati kehidupan itu, kita pernah berpikir, masih banyak orang-orang di luar sana yang hidup dengan banyaknya keterbatasan? Keterbatasan fisik, biaya, hidup sebatang kara, bahkan serba kekurangan dalam segalanya?

Kita semua pasti pernah merasakan salah satu, beberapa atau bahkan semua perjuangan yang bahkan menguras pikiran dan air mata kita setiap malam. Kaya atau miskin, cantik atau biasa saja, berpendidikan tinggi atau hanya tamatan sekolah dasar, semuanya pasti pernah merasakan yang namanya berjuang. Namun, semuanya mempunyai cara sendiri dalam memaknai arti berjuang dalam hidup mereka masing-masing.

Demikian denganku. Ada beberapa hal disini, yang merupakan pengalaman hidupku. Bagaimana-pun juga aku banyak belajar dari arti berjuang itu sendiri.

1. Berjuang untuk keluarga; aku selalu berharap ayah-ibu tetap sehat, sampai nanti semua cita kan kudapat

Untukmu ibu,ayah dan saudara tiriku

Untukmu ibu,ayah dan saudara tiriku via https://google.com

Kita diciptakan di dunia ini tidak akan pernah bisa memilih, di mana dan oleh siapa kita dilahirkan. Dari keluarga kaya atau biasa. Serba kelimpahan atau kekurangan. Hidup dalam keluarga broken-home, sebatang kara sebagai yatim piatu. Atau hanya hidup sendiri bersama seorang ayah atau seorang ibu.

Advertisement

Pernah hidup hanya bersama ibu saja, karena ayah dan ibuku bercerai sejak aku kecil. Bahkan aku pun tak mengenali wajah ayah kandungku seperti apa. Aku banyak belajar arti berjuang dari ibuku. Yang berjuang menyekolahkanku dan merawatku sendirian.

Namun, sejak tahun 2005, aku dan ibu hidup bersama dengan keluarga baru. Babak baru kehidupan keluarga kami lewati dengan hal yang semuanya tak mudah juga. Dari ayah yang sering sakit-sakitan membuat beliau tak bisa bekerja normal seperti dulu lagi. D isini aku melihat ayah yang sebenarnya tak tega membiarkanku dan ibu harus berjuang merawat beliau dan bekerja. Apalagi saudara tiriku juga sekarang sudah memiliki keluarga dan sedang menunggu kelahiran anaknya yang ke-2.

Aku sadar, suatu saat nanti aku atau bahkan orangtuaku pasti akan kembali menghadap yang Maha Kuasa. Untuk itu aku selalu berusaha membuat bangga beliau, meskipun dengan cara yang kadang membuat beliau khawatir karena aku seorang anak perempuan. Tapi, saya selalu berusaha selalu meyakinkan beliau. Tetap terus doa merekalah yang selalu menguatkanku berjuang untuk membanggakan mereka dan tak mengecewakan kepercayaan mereka.

2. Berjuang untuk karir dan masa depan; Bukan sekedar hobi melainkan memberi arti

Melompat dari pikiran tidak bisa

Melompat dari pikiran tidak bisa via https://google.com

Advertisement

Setiap orang diciptakan dengan kecerdasan masing-masing oleh Sang Pencipta. Ada yang pandai dalam bidang akademik, ada juga yang selalu mendapatkan nilai terendah di sekolah, tapi sangat kreatif dalam bidang lainnya. Jujur saja, waktu sekolah dulu, aku pernah merasa iri kepada mereka yang bisa mendapatkan kesempatan les ke sana ke mari. Karena selain bisa menambah ilmu juga ada materi yang bisa menjadi tambahan selain dari sekolah.

Tapi, di satu sisi aku juga berpikir, apakah keinginan les atau jam tambahan itu inisiatif dari anak atau karena orangtua yang sangat ingin anaknya tak ketinggalan dengan siswa pandai lainnya? Bagaimana dengan tanggapan anak itu sendiri?

Seringkali tolak ukur kecerdasan hanya dilihat dari kecerdasan akademiknya saja. Padahal kita tahu, tidak semua anak memiliki kecerdasan yang sama. Bahkan mungkin jika seorang anak dipaksa mengikuti pola pikir orangtua, bisa saja suatu hari nanti mereka akan berontak atau tidak bisa menjalankan pekerjaan atau karir mereka dengan sepenuh hati, karena tidak sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Dalam meraih masa depan, setiap kita juga punya prinsip masing-masing. Meskipun dengan keterbatasan fisik, biaya, tujuannya ya tetap sama yaitu sukses di masa depan. Kita percaya sukses di masa depan memang dimulai dari sekarang ini bukan nanti. Bagi kalian yang sekarang kuliah dengan biaya kalian sendiri dari bekerja, kalian sangat keren. Perjuangan kalian akan sangat membanggakan orangtua kalian. Jangan pernah sia-siakan doa dan kepercayaan orangtua kalian.

Dalam hidup, aku pun juga punya prinsip yang sangat kuat dan selalu aku pegang sampai sekarang ini.

"Bukan sekedar hobi, melainkan memberi arti." Jujur aku sangat bersyukur, meskipun tidak bisa kuliah, tapi aku mendapatkan pekerjaan yang bisa mendukung cita-citaku.

Bos tempat kerjaku selalu memberikanku kesempatan jika suatu hari aku izin untuk pergi main band di cafe/resto. Atau juga kegiatan lainnya yang mendukung cita-citaku. Jadi selain aku bisa berjuang bekerja membantu orangtuku, akupun juga bisa meraih masa depanku.

Jadi, yang terpenting apapun kepandaian yang kita miliki, semuanya adalah anugrah dari Tuhan yang selayaknya bisa memberi arti untuk orang lain. Tak ada yang sia-sia meskipun dengan menahan rasa sedih dengan anggapan orang lain yang akan meremehkan karir atau masa depan kita. Tetap semangat kawan. Hehehe..

3. Berjuang sebagai pemimpin wanita; Mengalah bukan berarti kalah

Wanita punya ciri tersendiri dalam memimpin

Wanita punya ciri tersendiri dalam memimpin via https://google.com

Menjadi seorang pemimpin, apalagi dengan diri kita seorang wanita pastinya seringkali kita dipandang sebelah mata. Selalu diragukan, entah itu dalam memutuskan suatu hal atau memimpin dalam suatu organisasi atau bidang lainnya. Keputusan kita sering dinomor-sekiankan. Apa karena bentuk ketegasan kita berbeda dengan mereka kaum pria?

Bisa dibilang sering setelah memimpin dalam sebuah rapat, aku mengurung diri di kamar sampai tidak nafsu makan. Rasanya seperti percuma saja aku memimpin sedangkan keputusanku seperti tidak pernah dihiraukan. Rasa kecewa, sedih tapi tak bisa marah dihadapan mereka. Sampai sekarang akupun masih belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin yang bisa mengerti benar-benar mengenai anggota lainnya.

Doa dan tindakan nyata yang selalu aku pupuk setiap harinya. Supaya aku pun tak tenggelam dengan kesedihan diri. Aku tahu tujuan mereka baik. Tapi mungkin dengan cara yang masih aku coba pelajari dan renungkan serta evaluasi.

Mengalah bisa dibilang makanan sehari-hari ketika hati tak ingin semua menjadi sebuah masalah. Karena aku tahu, sampai diposisi sekarang ini, dipercaya memimpin mereka adalah tanggung jawab yang harus aku kerjakan dan selesaikan. Tetap kuat menahan diri dari rasa marah dan rasa ingin mundur yang sering saja menghantui ketika rasa lelah menghampiri.

4. Berjuang dalam Cinta; Perjalanan hidup tak kan berhenti hanya karena patah hati

Aku berhak memperjuangkanmu!

Aku berhak memperjuangkanmu! via https://google.com

Menjadi penasihat cinta? Rasanya aku tak akan bisa. Selalu payah dalam mengurusi diri sendiri dari sakitnya patah hati. Sehingga terkadang ketika ada seorang teman yang meminta saran atau nasihatku tentang pacarnya yang tidak perhatian lagi, tidak sayang lagi, atau sedang online tapi tak membalas chatnya lagi , justru aku malah yang jadi galau sendiri. Malahan aku berbalik curhat sendiri ke temanku. Yang bisa kulakukan hanya ikut mendoakan hubungan mereka. Rasanya dalam cinta aku sangat payah.

Mencintai dalam diam? Pernah. Friendzone? Pernah. Mencintai teman tapi teman belum move on dan selalu menceritakan mantannya? Pernah. Mencintai dan akhirnya disakiti? Pernah juga. Ternyata perkelanaanku belum selesai sampai tempat tujuannya.

Sepenggal lirik dari Sheila on 7, "Jangan mengejarnya! Jangan mencarinya! Dia yang kan menemukanmu. Kau mekar dihatinya. Dihari yang tepat."

Ketika aku mendengar lirik lagu ini lantas aku berpikir, "Kalau aku berdiam diri nanti orang yang aku cintai dimiliki orang lain gimana? Apa aku hanya berdiam diri?" Tidak ada yang salah dari lirik lagu itu. Aku yang salah karena belum bisa mengontrol hatiku sendiri. Bagaimana memperjuangkan cinta yang benar. Terkadang ada yang suka, tapi aku tidak suka. Aku yang suka tapi dianya tidak suka.

Melihat mereka yang bisa ke mana-mana bersama pasangan kadang juga membuatku ingin seperti itu juga. Tapi, semua belum waktu-Nya. Di usia hampir seperempat abad ini memang selalu menghantuiku mengenai akan pasangan hidup. Terkadang dalam lamunan dan doaku aku berpikir, "Siapa jodohku?"

Saat ini aku hanya berusaha tetap memantaskan diriku. Karena ada sebuah kata kutipan juga,

"Jika kamu belum menemukan cinta, biarlah cinta yang menemukanmu."

Tetap berjuang memperbaiki diri dan mempersiapkan diri jika waktunya itu datang. Berdoa dan tetap terbuka dan membangun relasi dengan setiap orang. Siapa tahu ada salah satu diantaranya.

5. Berjuang ditengah masyarakat; Tak kenal maka tak perhatian

Karena mereka belum mengenal kita lebih dalam

Karena mereka belum mengenal kita lebih dalam via https://google.com

"Tak kenal maka tak sayang." Pepatah ini sangat tepat sekali. Rasanya jengkel ketika orang lain, terlebih tetangga yang tidak tahu menahu soal pekerjaan atau tugas dan tanggungjawab kita, yang memang mengharuskan pulang malam, membicarakan kita dengan seenaknya. "Anak gadis kok selalu pulang malam." Begitu kurang lebihnya.

Meskipun pendapat mereka seperti itu, di sini aku tidak pernah main-main dengan kepercayaan orangtuaku. Sebelum berangkat aku selalu meminta doa dan ijin dari mereka. Orangtuaku pun sudah paham dengan pekerjaan dan tanggungjawabku. Yang terpenting segala pekerjaan dan kegiatanku ini positif dan tidak merugikan orang lain.

Kepada kalian tetanggaku, terimakasih untuk perhatian kalian. Yang perlu kalian tahu, aku pulang selarut ini karena ada tanggung jawab yang memang harus diselesaikan. Terima kasih. Aku percaya suatu hari nanti kalian akan paham dengan apa yang aku lakukan.

Buat aku atau kalian yang pernah ngalamin, yang terpenting tetap berjuang menjaga kerukunan dan toleransi antartetangga. Meskipun mereka belum memahami apa yang sedang kita kerjakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya