Teringat awal pertemuan kita. Saat kamu berkunjung kerumahku malam hari bersama teman wanitamu. Saat itu aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapmu. Ah , mungkin itu hanya pertemuan singkat. Dan saat itu kita masih sangat muda masih Sekolah tepatnya saat SMA.
Mungkin alam semesta juga memiliki cara sendiri untuk mendekatkan kita sebagai “Teman Cerita“. Kita terbiasa saling berkomunikasi, walaupun tidak setiap hari. Entah dari kapan rasa itu tumbuh kian lama kian hebat. Sampai akhirnya aku membayangkan hal indah bersamamu, masa depanku bersamamu.
ADVERTISEMENTS
5. Akhirnya Aku Pun Menerima Keadaan Ini dan Berdamai Dengan Diri Sendiri
Mencari kebahagiaan lain via http://unsplash.com
Mencari kebahagiaan lain via http://unsplash.com
Apa lagi yang bisa aku perbuat. Selain akhirnya menerima keadaan ini. Menerima bahwa aku cinta sendiri. Aku pun sudah tidak berharap pada mukjizat Tuhan untuk merubah hatimu kepadaku.
Aku pun juga sudah tak berharap bahwa alam semesta akan mendukung perasaanku. Walaupun aku gagal menjadi teman hidupmu tapi setidaknya aku berhasil menjadi sahabatmu. Tidak ada yang perlu di sesali dari pertemuan kita. Bukankah semuanya sudah diatur Tuhan. Aku pun tidak pernah menyalahkan keadaan atau siapapun. Bukankah cinta juga adalah sebuah anugrah.
Akhirnya aku pun turut mendoakan kebahagiaanmu. Semoga kamu bahagia dengan wanita pilihanmu dan aku harap Tuhan juga akan mengirimkan kebahagiaan lain untuku. Setidaknya dengan menjadi sahabatmu aku pun tak pernah kehilanganmu.
Terima kasih sudah mengajarkanku untuk berjuang
Terima kasih sudah mengajarkanku untuk bertahan
Dan terima kasih sudah mengajarkanku tentang ketulusan dan pengorbanan.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”
”