Bukan Salam Siku, tapi Menjadi Kaum Rebahan Bisa Jadi Cara Terbaik untuk Menghindari Corona

rebahan cara terbaik menghindari corona

Akhir-akhir ini lagi trending salam siku yang dilakukan oleh para pejabat negara. Tak jarang salam siku ini juga menjadi guyonan. Tidak hanya salam siku saja, tetapi juga ditambah dengan gerakan tambahan ala-ala anak geng. Yah memang bukan negara ber-flower namanya jika hal serius tidak bisa dijadikan becandaan.

Update terbaru dari Bapak Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah untuk virus corona mengatakan, bahwa sudah ada 172 orang positif terinfeksi COVID-19. Penyebarannya meningkat cukup signifikan. Hal ini membuat pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk meminimalisir resiko penyebaran corona. Salah satunya seperti yang dilakukan Pemprov DKI yang menutup beberapa tempat hiburan selama 2 minggu. Peningkatan jumlah pasien positif corona juga menjadi perbincangan hangat di grup WhatsApp. Beberapa teman saya memilih untuk mengisolasi diri di kosan dan memilih tidak keluar ke tempat ramai. Bahkan teman saya berceletuk, bahwa beruntung rasanya dia menjadi pengangguran di situasi seperti ini, karena tak harus menuntutnya untuk bekerja di tempat keramaian orang.  

Sedangkan saya sendiri pun bersyukur karena bisa pulang ke kampung halaman, yang jadi tempat ternyaman untuk merebahkan diri. Dalam situasi seperti ini rasanya rebahan adalah cara terbaik untuk meminimalisir resiko terpapar corona. Paling tidak ada beberapa alasan berikut yang membuat rebahan menjadi salah satu solusi yang dapat diajukan ke perintah dalam penanganan corona.

Advertisement

1. Kita jadi kaum yang mager alias malas gerak

Males Gerak

Males Gerak via https://www.pexels.com

Mager untuk keluar juga mager untuk beraktivitas. Dengan begitu kita akan jarang terkontak dengan orang atau barang secara langsung, sehingga peluang terkontaminasi dengan si corona pun menjadi kecil. Tanpa lockdown, seperti yang dilakukan oleh Cina, Italia ataupun Filipina, pemerintah sudah cukup terbantu dengan para kaum rebahan ini khan~

2. Jam tidur jadi bertambah

Menambah jam tidur

Menambah jam tidur via http://www.pexels.com

Edward Suhadi merupan salah seorang creative director, membuat campaign untuk menambah satu jam waktu tidur, karena menurutnya tidur dapat menjadi cara yang ampuh untuk menjaga daya tahan tubuh kita. Sontak saja tagar #tambahtidursejam menjadi trending dan di-retweet oleh 11 ribu pengguna. Untuk para kaum rebahan tentu tak akan menjadi masalah jika hanya menambah satu jam waktu tidur. Ditambah beberapa jam pun akan diladeni kok!

Advertisement

3. Kaum rebahan tidak akan panik

Tidak panik

Tidak panik via https://www.pexels.com

Apalagi sampai panic buying masker, orang kerjaannya di kamar doang, ngapain pakai masker? Hal ini tentu akan sangat membantu pemerintah agar pasokan masker dapat tetap tercukupi. Luar biasa kan peran kaum rebahan ini?

4. Menghibur diri dengan hal-hal simpel

Menghibur lewat medsos

Menghibur lewat medsos via http://www.pexels.com

Meski kaum rebahan itu cuman di atas tempat tidur doang, bukan berarti kami tidak ada kerjaan loh! Kaum rebahan punya tugas besar dalam dunia per-medsos-an. Meramaikan tagar, membuat meme, mengabadikan momennya di tempat tidur, ataupun kehaluan lainnya merupan hal receh yang dapat membuat netijen terhibur.

Meskipun corona sudah menjadi pandemic dunia seperti yang diumumkan oleh WHO, jangan sampai membuat tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia menurun. Menurut riset, kabahagiaan itu juga dapat berdampat pada sistem imun tubuh loh. Lagi, peran kaum rebahan memang patut diacungi jempol.

Advertisement

5. Tak perlu digaji juga nggapapa!

Tak perlu digaji

Tak perlu digaji via https://www.pexels.com

Meskipun sudah memberi jasa yang begitu tak berarti, kaum rebahan tak pernah meminta untuk digaji. Untuk mengenanng jasa-jasanya, sepertinya kaum rebahan layak untuk dibuatkan lagu layaknya seperti para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Emmm…judulnya, “Kehaluan” misalnya.

Nah, itu dia beberapa alasan konkrit yang dapat menjadi cara alternatif pemerintah dalam mengatasi corona. Jika metode lockdown yang dilakukan Cina, Early Contact Tracing yang dilakukan Singapura, dan Test, Identify, Isolate yang dilakukan Korea Selatan tidak bisa dipakai di Indonesia, karena alasan teknologi ataupun ekonomi, maka kita bisa memanfaatkan Sumber Daya Manusia ibu pertiwi, yakni kaum rebahan sebagai solusi. Tentunya kami akan merasa sangat berarti ketika bisa membantu negara. Apalagi di situasi genting seperti ini.

Kaum rebahan, mana suaranya?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

"Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadilah seorang penulis." ~ Imam Al-Ghazali

Editor

une femme libre

CLOSE