Salah satu hari yang patut untuk ditunggu-tugggu adalah hari di mana rakyat indonesia bisa meraih kemerdekaannya dari para penjajah. Yup, 17 Agustus (agustusan). Kenapa? Biasanya sih di seluruh penjuru negeri dari sabang sampai merauke merayakannya dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan mengadakan lomba yang beragam.

Beragam lomba yang sudah disiapkan oleh panitia kegiatan diberbagai tempat bisa diikuti oleh anak-anak, dewasa, sampai orang berumur, laki-laki maupun perempuan, semuanya bisa berpartisipasi memeriahkan hari jadi Indonesia #merdeka.

Tentunya, adanya kegiatan lomba agustusan tidak hanya sekedar lomba biasa (receh), namun memiliki banyak manfaat tersendiri baik untuk negara maupun masyarakat, khususnya untuk anak-anak indonesia yang merupakan cikal bakal penerus bangsa. Dengan mengikuti berbagai lomba, diharapkan akan menyulut api semangat juang dan juara bagi anak-anak indonesia. Nah, berikut segelintir macam lomba yang dapat memotivasi anak-anak indonesia.

1. Panjat Pinang

akhirnya kepuncak pinang. via http://blog.onmol.com

Lomba panjat pinang bukan hal yang asing lagi ditelinga kita. Lomba yang dulunya diadakan oleh penjajah Belanda untuk mengisi acara-acara hajatan ataupun pernikahan, pesertanya adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang didapat, zaman dulu dengan sekarang tentunya sudah berbeda. Dari kebutuhan primer sampai sepeda, alat-alat rumah tangga dan lain-lain.

Lomba ini sangat sederhana, hanya dibutuhkan sebatang pohon pinang yang biasanya sudah dilumasi supaya licin, tujuannya supaya peserta tidak mudah memanjat untuk mencapai puncak dan mendapatkan hadiahnya secepat mungkin. simple bukan?

Lomba ini bisa diikuti oleh siapa saja, dari dewasa sampai anak-anak (dengan bimbiangan orang tua). Tentu, lomba ini sangat bagus untuk kita khususnya anak-anak. Karena lomba ini mengajarkan kerjasama tim, pantang menyerah, cekatan dan rela berkorban.

2. Balap Karung

Advertisement

lompat, lompat, lompat lagi via http://oktahealthcare.blogspot.com

Siapa cepat, dia yang menang. Seperti itulah sedikit kata yang bisa menggambarkan salah satu permainan ini. Permainan yang melatih kita untuk cekatan dan cepat mencapai garis finish. Bisa ditebak bahwa benda atau alat yang digunakan peserta adalah karung (dari judul aja dah ketahuan hehe). Agar tidak jatuh dan cepat menuju garis akhir, para peserta menyiasatinya dengan melompat-lompat seperti style hantu poci.

3. Sandal Bakiak

Permainan ini dilakukan secara tim. Permainan ini dibutuhkan kerja sama tim yang kuat, rasa saling percaya pada teman , kekompakan dan kepimpinan yang bagus. Aturan mainnya apabila ada salah satu tim mencapai garis akhir, maka tim tersebut menang.

Biiasanya para peserta menggunakan aba-aba dengan caranya masing-masing supaya bakiak bisa berjalan dan peserta tidak terjatuh, seperti aba-aba "kiri" "kiri" "kiri". Selain permainan ini menyenangkan, tetapi permainan ini juga banyak mengajarkan bekerja secara tim dan yang pasti harus saling percaya kepada teman.

4. Joget menjaga balon

Sekilas bila dilhat tampak mudah, eeeiitts tunggu dulu. Ternyata permainan ini sangat susah loh. Dibutuhkan koordinasi dengan partner yang baik dan penempatan posisi balon yang tepat agar tidak terjatuh saat njogget nanti. Dan juga kita harus menahan malu kala peserta harus njogget ditonton ratusan orang. Yup, di sini peserta dilatih juga tentang ketahanan mental, harus menanggung malu dengan jogetan ala-ala kita sendiri..

So, kalo kita mau menang kita harus percaya diri dan saling percaya dengan partner supaya balon tidak jatuh.

5. Membawa kelereng diatas sendok

adek sabar membawa kelereng via http://urbancikarang.com

Permainan ini termasuk salah satu permainan yang populer di masyarakat. Kebanyakan diikuti anak-anak. Para peserta diharuskan memindahkan kelereng diatas sebuah sendok sampai garis akhir yang telah ditentukan tanpa kelereng tersebut jatuh. Jika kelereng tersebut sampai terjatuh, maka harus mengulang lagi dari garis start.

Yang menarik dari permainan ini adalah sendok yang peserta bawa tidak dengan menggunakan tangan, melainkan dengan mulut. Hal ini tentu membutuhkan kesabaran ekstra untuk para peserta ditambah juga melatih keseimbangan diri.

Tuh kan lomba 17-an itu bukan sekadar lomba melainkan banyak makna dan nilai yang tersimpan di dalamnya.