Pertama kali teman-teman mendengar keinginan saya untuk kuliah di jurusan PAUD, mayoritas mereka berkomentar, "Ih...tukang nyebokin anak," "Anak-anaknya pada ingusan ya? Haha," dan komentar-komentar lain sejenis.

Mendengar komentar-komentar ini, saya justru merasa tertantang sekaligus penasaran mengapa mereka bisa berkomentar seperti itu. Untung saja selama saya mencari ilmu "per-anak-anak-an" saya tidak menemukan pembenaran dari komentar-komentar semacam di atas. Sebenarnya, menjadi guru terutama guru PAUD/ TK sangat menantang dan menyenangkan. Kenapa?

1. "Terus kuliahnya ngapain? Cuman mewarnai dan melipat?"

Project Based Approach

Project Based Approach via http://projectapproach.org

Asik dong 8 semester cuma mewarnai dan melipat. Guru PAUD dituntut untuk menjadi manusia yang sangat sangat kreatif dan mampu membuat semua yang tidak mungkin menjadi mungkin. Oke ini berlebihan hehe. Tapi serius, selama perkuliahan sebagian dari tugas kami adalah membuat lagu anak-anak, aransemen lagu, membuat tarian (beserta lagu pengiring dan kostum), membuat media pembelajaran dari semua bahan, dan berwirausaha.

2. Anak-anak tidak "sekotor" yang kalian fikirkan, wahai khalayak (seperti ingusan dan ngompol)!

kecil-kecil pinter dandan

kecil-kecil pinter dandan via http://Nova.id

Hei, buang jauh-jauh fikiran bahwa anak TK itu selalu ingusan, ngompolan, atau suka buang air besar di celana. Sebagian besar anak-anak sudah paham dimana mereka harus BAB dan BAK. Kalian pasti belum tahu kan kalau sebagian anak-anak TK ada yang membawa tisu, sisir, pomade, parfum, dan bahkan lotion ke sekolah? Mereka sudah paham kebersihan dan kerapihan lho! Mereka nggak kalah klimisnya sama kalian hehe.

3. Coba sehari saja bersama mereka, dijamin kamu nggak akan berhenti tertawa!

Oh My God !

Oh My God ! via http://bananasbunch.org

Advertisement

Pengalaman pribadi menjadi seorang guru TK, setiap hari ada saja perilaku-perilaku ajaib anak. Dari yang paling membuat naik darah adalah ketika mereka sama sekali tidak memperhatikanmu ketika berbicara dan malah bermain sendiri. Belum ada 1 menit kamu marah, kamu akan dibuat tertawa terpingkal-pingkal dengan tingkah mereka yang kamu sendiri tidak habis pikir.

Celetukan-celetukan yang keluar dari mulut mereka pun sukses membuat kamu ingin tertawa terpingkal-pingkal di tempat, seperti ini contohnya:

- "Bunda, monyetku pake jaket pink" (G, 5 tahun. Mewarnai gambar monyet)

Advertisement

- Anak : "Bun, aku ki udah capek banget e pengen main di bawah."

Guru : "Boleh, tapi ini diselesaikan dulu ya."

Anak : "Yo wis ben, due guru sing galak…"

- Jumat bersih, Nyabutin rumput,

Anak : "ihhh bunganya eek !" (sambil nunjuk ke tanah basah yang bergumpal).

- Guru : "Siapa tau kamera buat apa?"

Anak : "Moto tikus diem, Bun!"

Guru: …

dan banyak momen-momen lainnya.

4. Separah apapun perilaku ataupun kata yang keluar dari mulut anak, guru tetap harus menjaga mulut dan perilaku mereka

pentingnya pendidikan segala aspek untuk anak-anak

pentingnya pendidikan segala aspek untuk anak-anak via http://adoptivefamiliescircle.com

Usia anak PAUD adalah usia-usia penting ditanamkan segala macam pendidikan dasar, dari pendidikan seks, moral, dan pengenalan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Anak masih suka meniru semua yang ada di sekitarnya dan tugas guru adalah untuk menanamkan moral dan pengetahuan kepada anak. Bukan tugas yang mudah tentu saja. Guru TK justru mempunyai tanggung jawab demi keberhasilan anak di masa depan.

Anak sangat memahami bahwa seorang guru itu adalah sosok yang harus "digugu dan ditiru" (dipercaya dan ditiru) sehingga semua perilaku dan ucapan guru dijadikan contoh oleh anak. Di sinilah tantangan terbesar kami sebagai guru TK.

5. Anak-anak itu bukan orang dewasa versi mini

mereka bukan orang dewasa mini

mereka bukan orang dewasa mini via http://fatherly.com

Anak-anak berperilaku dan berfikir selayaknya anak-anak. Mereka bukan orang dewasa yang bisa berfikir dan berperilaku sesuai tuntutan lingkungan. Banyak anak-anak yang dituntut untuk bisa menguasai semua hal dengan diikutkan les piano, menyanyi, berenang, berhitung, dan lain sebagainya. Perkembangan anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Yang diperlukan anak-anak adalah stimulasi aspek-aspek perkembangannya, bukan mementingkan pada ilmunya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya