Akhir-akhir ini media di Indonesia dipenuhi oleh berita-berita yang melibatkan para pejabat. Bukan perkara prestasinya melainkan karena sensasinya. Lembaga anti korupsi atau yang selama ini kita kenal dengan KPK rupanya getol dalam membongkar kasus-kasus korupsi yang merugikan negara. Banyak pejabat yang terjaring mulai dari para pengabdi parlemen hingga para pemimpin daerah yang dipilih berdasarkan kepercayaan warga. Lantas, apa sebenarnya motivasi para pejabat tersebut melakukan korupsi?

1. Mindset politik yang salah

Partai politik via http://3.bp.blogspot.com

Banyak pejabat yang salah kaprah dalam menilai politik. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa dengan menjadi bagian dari politik, mereka bisa mendapatkan banyak uang. Padahal, politik adalah suatu ilmu yang tujuannya untuk mengatur suatu organisasi. Toh kalau di pikir-pikir di zaman millenial ini bukan politik yang bisa membuat kaya melainkan jadi seorang pengusaha.

2. Hidup mewah demi gengsi

Rata-rata para pejabat hidup dalam kemewahan. Saling bersaing memamerkan kekayaan, tapi melupakan rakyat jelata yang kelaparan. Jika diamati, kebanyakan dari mereka jarang ada yang mau berbagi kepada rakyat kecil. Sekali pun harus berbagi harus diliput oleh media. Hal inilah yang memungkinkan uang mereka cepat habis sehingga menghalalkan segala cara untuk mengisi dompet kembali.

3. Proyek dianggap sebagai bisnis sampingan

Advertisement

Kebanyakan dari kasus korupsi yang menjerat para pejabat disebabkan oleh proyek. Mulai dari proyek pengadaan Al-Quran, proyek dana haji, proyek E-KTP, proyek wisma atlet, dan proyek-proyek lainnya. Mereka menganggap bahwa ini adalah bisnis yang menggiurkan. Tentu inilah yang paling merugikan negara. Ketika dana proyek yang harus kita gunakan secara penuh bisa menghasilkan infrastruktur yang luar biasa malah bisa jadi tak tentu kapan kelanjutan pembangunannya.

4. Pemerintah mempersulit semua hal sehingga suap dianggap biasa

Sulitnya Tes Sim C via http://cdn2.tstatic.net

Untuk mendapatkan surat izin mengemudi (SIM), warga harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Tes membuat SIM yang semakin sulit tentu membuat kebanyakan warga terpaksa harus menyuap agar mendapatkannya dengan mudah. Ini adalah salah satu contoh yang menunjukkan bahwa betapa susahnya kita melaksanakan aturan dari undang-undang. Tentu ini sangat berbahaya karena jika warga biasa saja menganggap suap sebagai hal yang biasa, tentu warga dengan status yang lebih tinggi juga tak ingin kalah dalam melakukan hal yang sama.

5. Faktor lingkungan yang pro korupsi

Jika ingin pintar, maka kita harus berkumpul dengan orang pintar. Jika ingin kaya, maka kita harus kumpul sama orang kaya. Begitu pula jika ingin korupsi, kita harus berkumpul dengan orang yang pro korupsi. Perkumpulan ini lah yang justru membuat parlemen dicemari oleh orang-orang yang tidak jujur. Jika tidak ada satu pun dari mereka yang anti korupsi, maka praktik ini tak akan bisa diputus sampai kapan pun.

6. Pintar di hadapan rakyat bodoh

Apakah kalian pernah melihat ada anggota parlemen yang berpidato di hadapan para mahasiswa yang berdemo? Tentu hal tersebut sangat jarang atau bahkan tidak mungkin. Selama ini para pejabat kerap mengumbar janji di media dan di hadapan rakyat jelata. Hal ini di karenakan mereka tahu bahwa mereka tidak akan menang jika melawan suara-suara yang dikeluarkan oleh anak muda.

Padahal para pejabat negara ini punya amanah yang besar dari rakyat, tapi kok kelakuannya nggak merakyat ya!