Tapi, kenapa kamu belum bisa menyelenggarakan acara yang sama dengan Si Dia? Kamu merasa Si Dia belum ada tanda-tanda untuk membicarakan hal yang serius tentang hubungan kalian berdua? Hal-hal ini sudah kamu rasakan di Bulan Syawal belum ya?

 

1. Pertanyaan "Kamu Kapan Nyusul?" pasti sudah jadi makanan sehari-hari untukmu.

Wedding Invitation

Wedding Invitation via https://id.pinterest.com

Saat banyaknya undangan yang datang dari teman SD, teman SMP dan SMA, teman kuliahmu, teman kostmu, tetangga, teman masa kecil bahkan sahabat-sahabatmu yang satu persatu melepas masa lajang, sudah otomatis mereka menanyakan kapan kamu akan menyusul mereka.

Advertisement

Sebenarnya tidak usah pusing memikirkan jawabannya. Jika kamu sendiri belum tau kapan akan menyusul mereka, maka cukup jawab dengan "doakan saja" dengan senyuman. Tak perlu tersinggung, dijadikan beban pikiran dan pertanyaan di hatimu. Justru jadikan sebagai motivasi untukmu untuk lebih giat lagi mengusahakan upaya-upaya agar bisa di posisi sebagai pemberi undangan juga 🙂

2. Jumlah temen nongkrong perlahan tapi pasti akan berkurang juga.

Hangout with friends

Hangout with friends via https://id.pinterest.com

Karena satu persatu kawan dan sahabatmu telah mengkahiri masa lajang, maka dia pun akan berganti status menjadi istri atau suami karena berkeluarga. Jadi, mau nggak mau kamu yg biasanya rutin hangout dengan mereka, kini harus rela nggak lagi sesering dulu untuk sekedar melakukan hal konyol bersama karena prioritas mereka kini adalah keluarganya. Nggak usah terlalu baper ya.

Karena sahabatmu tetap kan jadi sahabatmu walaupun sudah jadi ganti status berkeluarga, kelak kamu kan merasakan juga. Ambil positifnya, kamu bisa belajar banyak sekali hal mulai dari persiapan pernikahan mereka, bagaimana kehidupan berumah tangga, bagaimana pengalaman menjadi ayah atau ibu yang kesemuanya itu kan bermanfaat buatmu yang memutuskan untuk belum menikah. Hitung-hitung nambah ilmu pra menikah kan ya?

3. Terselip perasaan ingin menyusul mereka.

Wedding cartoon

Wedding cartoon via https://id.pinterest.com

Advertisement

Kamu yang sekarang udah berumur 25 pasti ingin juga menyusul sebagian besar sahabat dan saudaramu yg sudah lebih dulu mengakhiri masa lajangnya. Tidak apa-apa. Manusiawi, kamu berhak merasakan keinginan untuk segera mengarungi bahtera rumah tangga juga. Bahkan bukan nggak mungkin, dalam gengmu cuma kamu sendiri yg belum menikah, di lingkungan saudaramu hanya kamu sendiri yang belum ada tanda-tanda diseriusi oleh dia, dan dari sahabat-sahabat masa kecilmu bukan nggak mungkin cuma tinggal kamu seorang yang masih 'santai' belum menikah juga.

Maka, wajar banget kalau kamu kebat-kebit mulai memikirkannya. Nggak papa, sebuah perasaan yang normal dirasakan olehmu yang 'ditinggal menikah' oleh orang-orang terdekatmu itu. Yang terpenting adalah kamu harus paham jika masalah menapaki pertunangan bahkan pernikahan itu adalah bukan masalah siapa lebih cepat dari siapa. Karena ini bukan lomba lari atau lomba pacuan kuda, karena ini adalah hal yang sangat sakral yaitu menggenapi separuh agama.

Jadi, kamu harus menyadarinya tiap kali kamu ingin juga bergegas menyusul mereka. Tanyakan dirimu sendiri sudah siapkah kamu? Secara finansial maupun siap lahir dan siap batin juga.

4. Aku sudah siap, tapi ternyata Si Dia belum ada tanda-tanda untuk membicarakan keseriusan. Aku harus bagaimana?

Saat kamu merasa sudah siap melangkah ke hubungan yang lebih serius tetapi Si Dia sepertinya belum menunjukkan perasaan dan tanda-tanda yang sama, maka yang harus kamu lakukan tetunya adalah komunikasi. Jangan ragu komunikasikan keinginamu dan bagaimana perasaanmu dalam hubungan kalian berdua. Sebelumnya, astikan kamu dan Si Dia memiliki hubungan yang sehat ya.

Utarakan saja apa yang kamu rasakan. Tetapi kamu juga harus mendengarkan 1001 pertimbangan darinya mengapa ia belum menunjukkan keseriusan juga. Bagaimana tuntutan pekerjaannya, kontrak dengan perusahaannya, tabungannya yang menurutnya belum terlalu cukup untuk mengarungi petualangan kedepannya, studinya yang juga membutuhkan konsentrasinya, atau pertimbangan sebagai tulang punggung keluarga bahkan campur tangan keluarga yang membuatnya belum menseriusi serta berbagai pertimbangan dia yang lain maka kamu juga harus lapang dada mendengarkan yang juga Si Dia utarakan ya.

Yakini saja, jika dia ditakdirkan untukmu, Dia juga kan datang untuk menemui orang tuamu di waktu yang tepat.

5. Menunggulah dengan anggun

Waiting for the right one

Waiting for the right one via https://id.pinterest.com

Sembari menungu Si Dia yang kamu yakini bisa kamu jadikan partner terbaik untuk berpetualang dalam biduk rumah tangga, kamu sudah barang tentu harus juga meng-upgrade kualitas dirimu. Agar menunggu tidak lantas hanya jadi aktivitas yang membosankan belaka. Selalu lakukan hal positive setiap harinya, jadilah anak terbaik untuk orangtuamu selagi kamu belum menjadi pasangan seseorang, kembangkanlah sebuah usaha, lakukanlah hobi yang membuatmu menjadi seseorang yang bermanfaat.

Bergabunglah dalam organisasi atau kegiatan di sekitarmu yang kiranya akan membuat jalan pikiranmu lebih terbuka, lakukanlah hal-hal yang membuatmu pantas dipersunting oleh seseorang, dan selalulah berdoa agar Si Dia yang kamu tunggu di sana juga tengah mengupayakan apa-apa yang pada akhirnya membuat kalian akhirnya hidup bersama. Yakinlah, semua kan menikah pada waktunya. Kamu juga.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya